Selasa, 30 Juni 2009

Ketentuan Alam


" Angin adalah udara yang bergerak yang di sebabkan oleh  perpindahan suhu " kata guru IPA, " lalu kalau udara yang diam disebut apa pak ?" tanya seorang anak penasaran " ya sudah gak usah di sebut-sebut kan dia sudah diam" kata Pak Guru bercanda dengan muridnya. Kejadian pada alam semesta akan selalu mengundang tanda tanya bagi manusia dan sebagai akibatnya berbagai disiplin ilmupun telah muncul untuk menjabarkan semua kejadian tersebut. Sebuah mekanisme raksasa sedang bekerja bagi kepentingan mahluk yang bernama manusia. Mekanisme itu tidak hanya terjadi diluar tetapi juga pada diri manusia. Makanan dan minuman yang kita konsumsi tadi pagi, tanpa di perintah telah membagi tugasnya masing-masing yaitu yang cair lewat depan dan yang padat lewat belakang dan tidak pernah terbalik.
 
" Sepedanya kemana Pak, kok jualan jalan kaki" tanya saya kepada penjual balon yang sedang beristirahat di dekat rumah. " Baru di jual Pak soalnya kemaren uang lagi tidak ada untuk membawa anak  ke rumah sakit, kena diare " jawab Bapak penjual balon tersebut. " Yah kok Bapak itu sudah gede masih main balon, mending buat yara saja" kata anak saya ketika melihat balon ditangan bapak tersebut yang tinggal satu. " gak enaknya memang seperti ini kalo balon nya tinggal satu atau dua, kita dikirain sedang main balon hehehe " sahut penjual balon tersebut yang mendengar pertanyaan anak saya. Akhirnya balon tersebut saya beli, tetapi baru ketika balon tersebut berpindah tangan ketangan anak saya, balon tersebut pecah karena tergores ranting pohon. " hahaha inilah yang dinamakan proses perpindahan rezeki yang tidak pernah diduga, sebuah mekanisme pembagian rezeki yang luar biasa. Anak saya belum mendapat rezeki sebuah balon tetapi bapak sudah berhak mendapat rezeki berupa pembayaran balon " kata saya kepada penjual tersebut. Walaupun ikut tersenyum tetapi tampak raut muka kecewa dan merasa tidak enak hati kepada anak saya.
 
Sunnatullah selalu bekerja dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Berbagai definisi telah di buat untuk menggambarkan sunnatullah tersebut seperti hukum sebab akibat, hukum kekekalan energi, hukum relativitas, hukum tarik menarik dan lain sebagainya. Sunnatullah selalu bersifat umum, orang awam biasanya menyebut dengan istilah 'ketentuan alam'. " Yah kenapa ada orang yang mukanya sama tapi namanya beda dan ada juga yang namanya sama tapi mukanya beda" kata anak saya yang berinteraksi dengan ketentuan alam tersebut tanpa dia sadari " Untuk wajah Allah yang menetukan tetapi untuk nama kitalah yang menentukan, nah kitakan sebagai manusia tidak pernah tahu apa yang Allah mau tetapi Allah selalu mengetahui apa yang kita mau. Tidak setiap yang kita mau bisa terkabul, itu semua adalah rahasia Allah" kata saya yang berusaha keras mencari kalimat yang tepat untuk anak berusia empat setengah tahun, dan saya gagal
 
Banyak yang telah melupakan sunnatullah ini bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik, bahwa segala kebaikan dan keburukan yang kita lakukan akan selalu mendapatkan akibatnya, bahwa apapun yang sekarang kita pikirkan akan membentuk sifat yang akan kita tampilkan dan bahwa semua yang hidup pasti akan mati. Dari tanah kembali ketanah, meskipun tanah tersebut pernah sempat bermain-main dengan air dan angin. Segala materi tersebut memang selalu mengaburkan wujud asli kita. Yah, air yang kata orang adalah sumber kehidupaan ternyata mampu mengubah tanah menjadi batu.
 
 
 
 
 
 

Rabu, 24 Juni 2009

Hasil Kerja Media Setengah Hati


......Apakah kuku diri ini harus selalu hitam pekat, apakah dalam sejarah orang mesti jadi pahlawan, Tuhan  bimbinglah hambamu ini agar tak gelap mata, dan tolong sampaikan rasa ingin ku kembali bersatu ...."
 
Potongan lagu Ebiet.G.Ade tersebut dahulu cukup populer dalam menggambarkan betapa susahnya ketika menjadi narapidana, seperti cap hitam yang menempel terus  didahi yang menjadikan jarak mereka dengan segala prasangka buruk orang lain ketika terjadi tindak krimal, sangat dekat. Status narapidana begitu di agungkan para preman. Semakin sering mereka berkunjung kesana semakin seramlah nama mereka. Sedangkan untuk orang yang ingin bertobat, status tersebut seperti menjadi momok yang amat menakutkan. Tatapan mata orang lain seperti pedang yang menghujam jantung dan keluarga mereka seperti ikut terseret oleh bayang-bayang masa lalu.
 
Drama kehidupan terus berlangsung. Paradigma masyarakatpun banyak berubah, seiring perputaran waktu. Opini tidak lagi berdiri sendiri. Media membantu dengan senang hati. Sekarang semua tampak samar. Untuk orang tertentu, keluar dari jeruji besi bisa membuat mereka lebih terkenal dibandingkan sebelum mereka menginap disana. Media sanggup membentuk para pendusta jadi tampak tanpa dosa. Untuk masyarakat bawah, status inipun sudah  mulai bisa diterima, kecuali mungkin untuk desa atau kampung yang penduduknya sedikit. Media informasi seperti lidah bertuah yang mempu menghipnotis para pembaca atau penontonnya menjadi lebih ' bijaksana '.
 
Segala wacana yang berkembang di masyarakat, baik itu masalah politik, budaya, olah raga, sampai infotainment merupakan produk media informasi. Lihatlah para calon presiden kita di televisi tampak ramah-ramah dan baik hati, murah senyum dan pintar nyanyi. Pada koran-koran cara berfikir kita digiring oleh para pendukungnya. Yang pro jk-win menjatuhkan lawannya dengan issue neolib. Di lain sisi para pendukung sby lebih menfokuskan dalam memamerkan hasil-hasil yang telah dicapai mereka selama satu periode. Sebagai orang yang berfikir biasa-biasa saja, pertanyaan saya sering membuat kesal para pemikir hebat yang berfikir jauh kedepan, seperti " memangnya kalo milih neolib lalu semua orang jadi neolib, trus selama lima tahun kedepan memangnya si neolib itu mau ngapain saja ? atau memangnya hasil yg bisa didapat sekarang gak bisa didapat oleh jk-win bukankah dulu wakilnya adalah jk yang berarti hasil tersbut juga hasil kerja dari jk ? dengan kesal teman menjawab " kalo asal pilih umat Islam bisa terpinggir tahu !!"
 
" Eh To siapa yang menang pertandingan bola semalam , kamaren debat sama si yanuar ngotot bangat " tanya saya basa-basi ketika ketemu dengan Anto. " Kalo belum bertanding gak debat gak seru, kalo sudah ketahuan kayak gini mau ngapain lagi hehehe" jawab Anto sambil lalu. Ya segala analisis, segala wacana memang serunya di awal pertandingan sama seperti ketika akan berbuka puasa maunya macam-macam, eh pas sudah buka, kesan wah hilang seketika. Media memang pintar mengarang cerita, mencari tema membuat semua orang bebas bicara, dan pendapatan yang akan mereka dapatkan pun sudah bisa dikira-kira.
 
Kita semua adalah narapidana dari penjara pikiran kita  masing-masing. Media informasi berhasil memenjarakan kita dengan opini pembuka yang membuat pikiran kita liar entah kemana. Tidak semua media dengan senang hati membantu kita membentuk pemimpin-pemimpin baru tanpa tendensi, kita selalu saja di sajikan pemimpin yang kadaluarsa untuk di imami apalagi di 'amini'. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata'ala memberikan kita pemimpin yang bisa membawa bangsa ini ke jalan yang di ridhoiNya. aaamiiinnn
 
 
 
 
 
 

Senin, 22 Juni 2009

Kondisi Kejiwaan


Temaram lampu-lampu menghiasi pinggiran jalan di kota Jakarta. Waktu menunjukan pukul 23.00 waktu Indonesia bagian barat. Rumah sakit itu mulai sepi. Beberapa orang terlihat tidur diatas bangku panjang yang pada siang hari biasanya di penuhi para keluarga dan pelayat. Malam itu kakak ipar meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Saya dan ayah mertua menunggu petugas mengurus jenazah, agar  bisa di bawa pulang dan dimakamkan keesokan harinya. Pak Amin penjaga mayat tampak mulai mengantuk, saya mendekati dan berbicang ringan dengannya seputar jenazah untuk menghilangkan rasa kantuk. " Biasanya de, pegawai baru disini takut pertamakali mengurus jenazah , takut karena suatu ketika akan mengalami hal yang sama, sehingga biasanya orangnya baik-baik, terus ibadahnya rajin, tetapi lama-kelamaan rasa biasa tersebut menumpulkan rasa takut dan sekaligus mengendurkan ketekunan beribadah mereka apalagi yang senior ." kata pak Amin
 
Keesokan harinya hal senada saya dengar dari penjaga makam bahwa kebiasaan telah membuat sesuatu yang luar biasa jadi tampak tak berarti. Siksa kubur bagai dongengan anak kecil bagi mereka yang terbiasa merokok sambil meminum kopi diatas batu nisan. Padahal mereka itu seperti berdiri diantara dua alam, yaitu alam dunia dan alam kubur. Jika ketakutan telah hilang dari dada mereka bagaimana pula dengan orang masih termagu pada gemerlap ibu kota. Dalam bentuk lain rasa biasa ini bisa bersanding dengan rasa jenuh. Seorang teman yang bisa menghadiri pengajian setiap Ahad pagi selama hampir empat tahun , belakangan ini mulai jenuh dan lebih suka bercanda dirumah bersama anak-anaknya sambil sesekali berlibur keluar kota " Bosan Vid , gitu-gitu aja, sama saja kayak di tivi , iman itu tergantung orangnya juga sih, walupun gak kesana ibadah mah jalan terus" kata teman tersebut seperti membela diri pada sesuatu yang saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan.
 
Pada sebuah pengajian saya bertanya kepada ustadz Sulaiman yang biasa dipanggil untuk ceramah di berbagai tempat tentang rasa jenuh ini. " Yah namanya juga sudah pekerjaan mau gimana lagi, terkadang jika dalam satu hari kita dipanggil pada tiga tempat maka temanya ya itu-itu juga, dalilnyapun itu-itu juga, karena terlalu sering di ucapkan jujur saja sering kali dalil tersebut tidak menggigit lagi pada hati yang membacanya, termasuk saya, karena ustadz juga manusiakan ?" katanya sambil tersenyum. Saya mengangguk setuju dan senang dengan keterus terangan beliau. Ustadz Sulaiman memang terkenal ramah dan dihormati di daerah kami. Saya teringat dengan kisah Ruth Sahanaya penyanyi ibukota yang beberapa tahun lalu di wawancara harian ibukota ketika lagunya "kaulah segalanya" ngetop. Dia mengatakan selama hampir tiga bulan setiap hari diminta menyanyikan lagu yang sama, sampai titik kulminasi dimana ketika dia kembali dipanggil untuk menyanyikan lagu tersebut dia mendadak pusing dan mau muntah.
 
Faktor-faktor psikologi sangat jarang disentuh oleh para ulama dan para ustadz. Padahal untuk kalangn level bawah seperti saya ini faktor tersebut sangat dominan mempengaruhi siklus keimanan. Mungkin ada benarnya nasehat seorang teman bahwa setiap orang di anjurkan mempunyai pembimbing spritual yang bisa berinteraksi "one by one " yang mengerti kondisi dan suasana kejiwaan jama'ahnya satu persatu. Sehingga solusi yang diberikan tidak bersifat umum dan asal tetapi langsung menghujam ke pokok permasalahan orang yang bermasalah tersebut. Ketika Rasulullah ditanya apa amalan yang paling pokok , maka beliau menjawab pererat tali silaturahmi , pada saat lain dengan pertanyaan yang sama beliau menjawab bersedekahlah begitu pula ketika yang lain bertanya maka jawaban beliau bisa berbeda beda tergantung kondisi ke jiwaan sipenanya.
 
Mudah-mudahan kita bisa mendapati para ulama yang bisa menjadi guru, sahabat dan ayah bagi para jamaahnya yang sabar membimbing kita satu persatu, dan tidak hanya kejar target, kejar tayang maupun kejar setoran, aaamiiinnn ....Insya Allah
 

Dua Sisi Koin


" Nak sudah mau maghrib ayo cepat pulang...." Kata ibu Yuslinar kepada anaknya. Pian, terlihat masih asyik bermain dengan temannya. Dia melempar koin yang berlambang burung cendrawasih pada satu sisi dan nilai mata uang pada sisi yang lain. Beberapa kali melempar, Pian  selalu saja yang melihat hanya satu sisi koin sedang satu sisi lain tertutup. " Ayo pulang nak..." kata sang ibu yang ternyata sudah berada didekatnya. " Pian tahu mengapa hanya satu koin yang terlihat dan yang lain tertutup ? " tanya sang ibu sambil menggandeng tangan anaknya pulang, dan Pian hanya menggelengkan kepalanya. " Sama seperti koin itu yang mempunyai dua sisi , manusia juga mempunyai dua sifat yang bertolak belakang yaitu sifat baik dan buruk, dan ketika Pian melemparkan koin tersebut keatas , maka akan terlihat koin tersebut berputar-putar , begitu pula ketika kita berada di tengah masyarakat, suasana sekitar kita mempengaruhi perubahan sifat kita yang bisa berubah setiap saat, oleh sebab itu hati-hatilah dalam bergaul...suatu ketika nanti kamu akan mengerti lebih banyak lagi....."
 
Dua puluh lima tahun kemudian segalanya nampak berubah. Seperempat abad berlalu demikian singkat. Goresan coreng moreng dimuka tidak lagi berhiaskan lumpur dan noda tinta, tidak lagi bisa berlari bebas menerbangkan layangan sambil berteriak.."ooooiiii tunggu pesawatku akan segera terbanggg.!!!.......", tidak lagi bisa meninggalkan rasa malu bersama pakaian di tepi dermaga dan melompat berenang beramai-ramai menyaingi ikan lumba-lumba yang tertawa melihat tingkah anak-anak pantai. Koin itu tidak lagi berputar diatas tetapi sudah sampai di tanah, tempat berakhirnya kisah segala mahluk. Surat As Syams ayat kedelapan ini sering diperdengarkan para ustadz yang menunjukkan potensi bawaan ini sering membolak balik hati manusia ...fa'alhamaha fujuraha wataqwaha..... Permasalahannya koin itu berhenti pada sifat fujur atau sifat taqwa..."Ya muqaallibal qulub tsabit qalbi 'ala dinika"  kata Rasulullah.." Wahai Tuhan yang membolak balik hati..luruskan aku akan agamaku". Doa yang mengajarkan kita bahwa perputaran koin hanya akan berhenti atas kehendak Allah , sampai kita bersimpuh dan berteriak " La hawala wa quwwata ila billah......tiada daya dan upaya  selain atas kemauan dan kehendak mu ya Allah"
 
Hari itu Pian berada di pusara ibunya. Koin ibunya telah berhenti. Perlahan-lahan dibukanya kain kafan penutup muka ibunya yang terbaring miring menghadap arah sujud umat Islam seluruh dunia. Terakhir kali ditatap muka ibunya sambil menciumkan tanah kemuka jasad yang telah berpulang tersebut. Para pelayat masih berdiri diatas , melingkar, mengelilingi pusara sambil tertunduk takzim memberikan penghormatan terakhir kepada ahli kubur. Suatu hari kelak semua yang ada disana pun akan mengalami cerita yang sama, semua sadar, tetapi mengapa airmata itu tetap saja tumpah ?
 
Koin ini masih terus berputar, terkadang iman itu naik melambung tinggi dan bermain dengan cerita akhirat, cerita warisan para nabi , tetapi terkadang iman itu terdampar pada ribuan keinginan yang mecekik leher, terlena dan hilang diantara kepala-kepala pecinta dunia. "Rabbanaa wala tukhammilnaa maa la thoo qotolanabih......wa'fuanna... wa'firlanaa... warkhamnaa ....Ya Tuhan kami janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya , maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami "

Kamis, 18 Juni 2009

Bintang Dalam Bentuk Lain


Sejarah bintang gemintang tetaplah sebuah misteri yang terangkum dalam proses penciptaan alam semesta. Warna pemikiran orang dari waktu ke waktu akan selalu bersaing dengan kemilau bintang tersebut. Diterimanya pemikiran seseorang oleh khalayak ramai bukan berarti menjadikan pikiran tersebut menjadi sebuah kebenaran, walaupun pemikirannya telah mampu mensejajarkan namanya diantara bintang-bintang, tetapi paling tidak kita sepakat mengatakan bahwa hasil dari pikiran tersebut adalah bukti tentang keberadaan seseorang. Artinya jika kita belum bisa menyumbangkan pemikiran yang bisa bermanfaat bagi orang lain maka keberadaan kita mungkin dianggap tidak ada atau dengan kata lain kita hanya sekedar penggembira di muka bumi ini dan jika kita buat istilah filemnya adalah hanya sebagai pemain figuran.

Tetapi benarkah seperti itu, apakah kita hanya sekedar pelengkap penderita dari para pemain besar di kota ini , dinegeri ini, atau bahkan didunia ini. Sekedar makan untuk bisa hidup, lalu jika sudah tiba waktunya maka kita meninggalkan dunia ini tanpa ada bekas yang bisa kita tinggalkan untuk menjadi wacana warisan bagi anak cucu kelak ? tidak. Karena tidak ada satupun mahluk yang dicptakan oleh Allah tanpa maksud dan tujuan, paling tidak kita adalah pelengkap dari sebuah matarantai kehidupan, karena sehebat apapun seorang aktor, tidak akan ada gunanya tanpa penonton.

Pada sebuah kampung kecil yang berpenduduk tidak terlalu banyak , tinggallah Kamin bersama anak dan istrinya. Kampung tersebut terkenal dengan kampung terpelajar karena hampir semua penduduknya berpendidikan paling rendah setingkat SMU. Pekerjaan umum disana adalah berdagang karena banyak sekali rumah industri kecil yang bisa mendistribusikan barang sampai kampung tetangga. Kamin bekerja sebagai tukang sampah, sebuah pekerjaan yang tidak dipandang oleh penduduk setempat yang sudah bisa dikatakan sebagai pengusaha kecil. Karena berpenduduk sedikit tidak jarang tenaga kerja diambil dari kampung lain tentu saja yang memiliki pendidikan yang baik.

Kamin tidak pernah menyelesaikan SD nya. karena orang tuanya tidak sanggup membiayainya sehingga sejak kecil dia sudah membantu orang tuanya sebagai tukang sampah, pekerjaan yang sekarang diwarisinya. Setiap pagi Kamin berkeliling kampung memungut sampah dari rumah industri dan rumah penduduk untuk di lokalisasi pada suatu tempat yang telah disediakan untuk kemudian dihancurkan atau diolah menjadi pupuk. Seminggu sekali Kamin mendapat upah dari para penduduk atas jasanya tersebut.

Karena termasuk sebagai kampung paling produktif maka pemerintah daerah setempat memilih kampung tersebut sebagai kampung percontohan. Tidak tanggung-tanggung, Gubernur berniat langsung datang untuk memberikan penghargaan atas keberhasilan kampung tersebut. Seminggu sebelum acara selamatan dimulai para penduduk mulai mengiasi rumah mereka dengan berbagai macam hiasan. Berbagai acara di agendakan yang melibatkan hampir semua warga kecuali Kamin yang tetap pada posisi hariannya, tukang sampah.

Dua hari sebelum acara dimulai Kamin meninggal dunia karena sakit. Sampah tidak ada yang menangani karena tidak pernah di perhitungkan sebelumnya dan tidak satupun penduduk yang mau menggantikan posisi Kamin, sehingga sehari sebelum acara di mulai sampah sudah menumpuk di berbagai tempat, di pojok-pojok gang, di bak sampah depan rumah. Warga panik dan Kepala kampung memerintahkan seluruh warga terjun kelapangan membersihkan sampah yang menyebabkan acara yang disusun menjadi berantakan

Keesokan harinya, ketika acara akan dimulai dan Gubernur akan datang. Kepala kampung memberikan pidato singkat kepada warganya.
" Hari ini Pak Gubernur akan datang memberikan penghargaan kepada kampung kita sebagai kampung paling produktif. Tetapi hari ini kita sadar bahwa kampung kita belum layak mendapatkan penghargaan tersebut karena kampung ini belum bisa menghargai warganya sendiri. Warga kita itu hanya seorang diri tetapi tanpa dia kita sekampung telah dibuat kewalahan. Semua itu bukan karena ketidak mampuan kita tetapi lebih dari perlakuan kita terhadap pekerjaan tersebut. Hari ini sebelum kita mendapatkan penghargaan apapun dari luar maka izinkanlah saya menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya bagi almarhum Kamin dan keluarganya atas segala jasa-jasanya bagi kampung kita"





Sabtu, 13 Juni 2009

Aktualisasi Diri


Di perhatikan atau memberikan perhatian kepada orang lain adalah sebuah fitrah manusia sebagai mahluk sosial. Jika di teruskan maka akan berlanjut pada proses di puji dan memuji atau bisa jadi kebalikannya yaitu di benci atau membenci. Hal inilah yang kemudian memasuki wilayah normatif yang juga merupakan nilai dari ajaran agama manapun. Berlebihan dalam menyikapinyalah yang dilarang oleh agama, bahkan ada juga yang sengaja mencari perhatian orang lain agar mendapat pujian yang didalam dunia psikologi dinamakan dengan sebutan "self esteem"

Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini memungkinkan proses memberikan perhatian bisa terjadi kapanpun. Tehnologi inipun bisa digunakan untuk mencari perhatian orang lain. Tehnologi ini bernama media informasi seperti televisi, koran, handphone, internet dan sebagainya. Jika kemungkinan untuk "show up" di televisi dan koran susah maka dunia internet adalah sebuah alternatif yang memungkinkan semua orang bisa bergentayangan didunia maya tanpa ada yang membatasi selain ilmu. Lebih dari itu kebutuhan di perhatikan inipun telah dilembagakan dalam sebuah komunitas jejaring sosial, sebut saja friendster, facebook, myspace atau bisa juga milis yang biasa digunakan untuk sharing ilmu namun terkadang juga dimanfaatkan untuk meningkatkan sebuah popularitas. Dalam sebuah hadist yang agak panjang, keadaan seperti ini pernah terjadi pada masa Rasulullah tetapi tentu dalam format yang berbeda


Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.: Dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, bahwa Marwan berkata kepada penjaga pintunya: Hai Rafi`! Pergilah kepada Ibnu Abbas dan katakan: Jika sekiranya setiap orang di antara kita akan mendapatkan siksa karena merasa gembira dengan apa yang telah diperolehnya dan ingin dipuji dengan apa yang tidak dia kerjakan, tentu kita semua akan disiksa. Ibnu Abbas berkata: Apa hubungan ayat ini dengan kamu! Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ahli Kitab. Kemudian Ibnu Abbas membaca: Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab, yaitu hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan jangan kalian menyembunyikannya. Ibnu Abbas juga membaca: Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang tidak mereka kerjakan. Selanjutnya ia berkata: Nabi saw. bertanya kepada mereka tentang sesuatu, tetapi mereka menyembunyikannya dan memberikan jawaban yang lain kemudian mereka keluar. Mereka merasa telah memberitahukan apa yang ditanyakan kepada mereka dan mengharap pujian dengan itu. Mereka gembira dengan jawaban yang tidak ada sangkut-pautnya dengan pertanyaan. (Shahih Muslim No.4982)


Dalam pendekatan yang positif, sebenarnya tidak ada yang salah dalam proses aktualisasi diri ini. Namun seperti ibadah lainnya proses ini tetap harus diniatkan hanya untuk mencari ridho Allah semata. Artinya apapun yang didapat dari proses aktualisasi diri ini baik itu pujian maupun cacian harus diterima dengan ikhlas




Kamis, 11 Juni 2009

Membersihkan Hati


"Jagalah hati, jangan kau kotori, jagalah hati lentera hidup ini......" terdengar alunan lagu dari radio tetangga yang dulu ngetop di populerkan oleh AA Gym. Tampak tumpukan buku-buku lama di atas rak, entah mengapa salah satu bab buku yang saya buka berisi mengenai kiat-kiat membersihkan hati, selaras dengan alunan lagu tersebut. Tetapi benarkah hati yang harus dibersihkan ? tentu hal ini akan menyebabkan kita bermain simbol-simbol yang sebenarnya tidak perlu di permasalahkan, Baiklah kita ganti saja pertanyaannya " apakah ada orang yang telah mampu membersihkan hatinya ?"

Apakah orang yang telah menulis kiat-kita membersihkan hati itu telah bersih hatinya ? atau jangan-jangan ini hanya kesepakatan bersama, yang merupakan hasil dari pengalaman dan pembelajaran yang diambil dari dalil baik itu Al Qur'an maupun hadist nabi sedangkan pada prakteknya sama saja. Seperti orang yang bercerita mengenai asal muasal terciptanya alam semesta dimana yang bercerita maupun yang mendengar cerita tidak menyaksikan langsung proses penciptaan karena semua hanya berdasarkan perkiraan dan pengamatan yang kemudian disepakati bersama. Bisa jadi kemudian hari kesepakatan itu berubah disebabkan oleh penelitian dan pengamatan lebih lanjut.

Lupakan saja semua definisi tersebut karena pada dasarnya semua ilmuan baik itu dibidang pengetahuan umum maupun agama berkeinginan memberikan yang termudah bagi masyarakat dalam memahami sesuatu. Ditempat saya tinggal ada beberapa orang yang mengalami keterbelakangan mental. Bagaimana cara mereka menjaga hati sedangkan menjaga fisik mereka saja mereka tidak sanggup. Hati adalah tempat bermuaranya rasa. Baik itu rasa marah, kesal dendam, bahagia, cemburu, ceria, dengki, ikhlas, dan sebagianya. Dari mana datangnya ? sebagian besar dari panca indera yang kemudian di proses oleh fikiran kita sendiri. Sebagai contoh, apa yang menyebabkan timbulnya birahi ketika kita melihat wanita cantik ? tidak lain adalah fikiran kita yang tiba-tiba merekayasa tempat dan keadaan dimana posisi wanita tersebut dalam keadaan tidak senonoh, yang orang menamai dengan sebutan fikiran kotor. Fikiran inilah yang menyebabkan dada kita bergejolak. Pertanyaannya pengucapan istigfar sebagai kalimat thoyibah ketika melihat atau ketika dada kita bergejolak. Percayalah ketika dada sudah bergejolak bacaan tersebut tidak akan berpengaruh apapun, bacalah sewaktu kita hendak berfikiran macam-macam.

Kesimpulan singkatnya adalah sebelum membersihkan hati maka terlebih dahulu berhati-hatilah dalam memikirkan sesuatu apalagi hasil dari inputan panca indera, seperti inputan telinga yang bisa saja membuat fikiran kita merasa di bicarakan oleh orang lain dan membuat hati kita kesal. Jika kita telah berhasil mengontrol fikiran, insya Allah kita bisa mereduksi gejolak hati. Jika ditanya apakah saya mengatakan ini berarti saya sudah mempu mengontrol fikiran ? jawabannya adalah sama seperti yang lain bahwa ini hanyalah sebuah metode ikhtiar memperbaiki diri bisa jadi andalah yang lebih baik dalam mengendalikan fikiran dari pada saya.

Berfikir Logic


Berfikir tidak hanya membutuhkan kecerdasan tapi juga nalar. Dalam berfikir sering kita meninggalkan kontekstual dan lebih fokus pada sesuatu yang tekstual. Pada akhirnya, walaupun sama-sama benar tetapi berfikir secara kontekstual akan lebih dipilih oleh orang kebanyakan karena hasilnya lebih "applicable". Saya coba ilustrasikan lewat sebuah contoh yang saya ambil dari sebuah buku

Dari dalam kelas di sebuah sekolah dasar tampak seorang Guru matematika sedang menerangkan fungsi penjumlahan da pengurangan kepada muridnya. Setelah merasa semua mengerti, Guru tersebut mengajukan pertanyaan yang dimaksudkan untuk menguji sejauh mana daya tangkap anak muridnya terhadap materi yang telah dia sampaikan. " Amir berapa jumlah 250 ditambah 250 ?" kata Gurunya. " 500" bu jawab amir dengan tangkas. " ya kamu benar " sahut sang Guru. Kemudian Guru tersebut menaikan nilai dari angkanya " Rudi berapa jumlah dari 750 ditambah 550 lalu dikurangi 100 ? tanya guru tersebut. Rudi tampak menghitung sebentar, lalu kemudian dijawab olehnya " 1200 bu ". " benar , dan pertanyaan terakhir berupa cerita, dengarkan dengan baik" kata Guru tersebut membuat model soal yang lain.

" Farid diberi uang oleh ibunya sebanyak 2000 rupiah untuk membeli bumbu masak. Setelah sampai di pasar Farid membeli cabe dengan harga 200, lalu ia membeli garam dengan harga 100 setelah itu dia membeli bawang merah dengan harga 300. Semua barang tersebut dibeli pada toko yang sama. Pertanyaannya adalah berapa jumlah uang yang mesti di kembalikan oleh pemilik toko tersebut ?" tanya guru tersebut mengahiri pertanyaannya. " 400 rupiah bu "jawab Farid, yang membuat kelas jadi ribut karena ada yang menyalahkan hasil dari penjumlahan Farid.

" Salah bu, jumlah barang yang di beli adalah 200 ditambah 100 ditambah 300 maka hasilnya 600 sedangkan uang yang diberi adalah 2000 lalu di kurangi 600 sama dengan 1400 rupiah bu " jawab Amir dengan bangga. Farid hanya tersebyum kemudian dia berkata " Kita sudah tahu jumlah barang yang dibeli adalah 600, lalu mengapa mesti mengasih uang 2000 kepada penjual bukankah pecahan uang 1000 sudah cukup karena kita tidak pernah punya uang pecahan 2000" kata Farid yang acungi jempol oleh Gurunya

Rabu, 10 Juni 2009

Fanatik Buta


Dari sebuah buku anekdot, saya mengambil sebuah cerita untuk bisa kita ambil hikmah didalamnya. Tersebutlah seorang pemuda bernama Vizai, nama aslinya Zainuddin tetapi agar lebih keren maka dia di panggil dengan nama Vizai. Pekerjaanya adalah sebagai pemain sepak bola amatir. Vizai baru mulai mendalami agama Islam. Yang ada dikepalanya Islam itu berasal dari Arab, sehingga semua yang berbau Arab mulai menghinggapi badannya. Mulai dari baju gamis, kopiah, minyak wangi sampai puluhan habbatus saudah bertengger dilemarinya hanya karena ada hadist nabi di karton pembungkus. Di rumahnya banyak di tempel bermacam-macam kaligrafi dan foto ulama terkenal.

Hari itu ada pertandingan persahabatan melawan Malaysia dan wasit pertandingan berasal dari Arab. Vizai sangat senang karena dia beranggapan bahwa pasti wasit tersebut akan berlaku adil karena dia dari Arab, tanah para nabi. Ketika pertandingan dimulai Vizai sangat bersemangat sampai dia melakukan kesalahan dengan menendang kaki lawan. Wasit mendatangi Vizai sambil memberikan peringatan, tetapi entah mengapa tiba-tiba wasit tersebut langsung menyuruh Vizai keluar dari lapangan. Sesampai di tepi lapangan pelatih Vizai menanyakan apa yang di lakukan Vizai sampai wasit tersebut marah. Vizai yang masih kebingungan mengatakan bahwa dia hanya mengucapkan satu kata yaitu "aamiiiin" setiap wasit tersebut berbicara.
--------------------------------------------------

Diluar sana mungkin banyak Vizai-Vizai lain yang yang mempunyai pandangan yang sama tentang Islam. Padahal Rasulullah pernah bersabda :
"Wahai segenap manusia, sesungguhnya Robbmu satu dan bapakmu satu. Tidak ada kelebihan bagi seorang Arab atas orang Ajam (bukan Arab) dan bagi seorang yang bukan Arab atas orang Arab dan yang (berkulit) merah atas yang hitam dan yang hitam atas yang merah, kecuali dengan ketakwaannya. Apakah aku sudah menyampaikan hal ini?" (HR. Ahmad)

Selasa, 09 Juni 2009

Persahabatan


Persahabatan seperti kepompong kata sebuah lagu yang bisa merubah ulat menjadi kupu-kupu, atau merubah orang bejat menjadi taat. Persahabatan seperti lebah yang bisa memberi madu dan menyengat jika ada yang mengganggu. Persahabatan adalah tempat bermuarannya sebuah toleransi dan bukan konspirasi, kata seorang teman.

Ada sebuah kata mutiara cukup bermakna dari Rasulullah shallallahu alaihi wassallam dalam memilih seorang sahabat.
" Kawan pendamping yang sholeh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya." (HR. Bukhari)

Kalau dibilang sholeh, maka temanku ini tidak termasuk diantaranya karena dia terlahir sebagai penganut katolik fanatik. Terlahir dari kedua orang tua yang berasal dari suku Batak, Jonathan Marpaung atau lebih akrab di panggil dengan sebutan Paung sangat santun dalam bergaul, darah bataknya tidak menyebabkannya bersifat kasar seperti anggapan umum terhadap suku ini. Jika ada diantara teman-temannya yang terkena musibah maka dialah orang pertama yang memberikan bantuan. Sifat toleransinya begitu tinggi pada temannya yang hampir semuanya muslim, termasuk saya. Tidak jarang dia selalu mengingatkan kami ketika masuk waktu sholat " eh itu sudah masuk waktu sholat ...sana sholat dulu biar tas dan sepatu kalian aku yang jaga " katanya kepada kami sewaktu jalan-jalan keluar kota.


Berbeda dengan Paung, Yulianto yang terlahir dari suku Jawa dan besar diantara penganut Islam fanatik jauh dari ajaran Islam. Minuman keras dan judi sesuatu yang biasa dilakukannya, ketika dinasehati dia selalu mengelak " Hidayah itu ada ditangan Allah, kalo Dia sudah menyesatkan maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk tapi kalau Allah sudah memberi petunjuk maka sebejat apapun orangnya pasti akan jadi baik ....tenang aja pak" katanya sambil terus minum. Pernah suatu hari dia hendak mentraktir teman-temannya dengan hasil judi , tapi kami tolak , kemudian dia berkata " Tenang aja semua, yang haramkan perbuatannya bukan uangnya, kalo soal haram mah semua uang negara juga uang haram, meminjam dari negara kafir dengan sistem ribawi , lalu kemudian membangun jalan , instalasi listrik dan lain-lainya , berarti kita semua masuk neraka dong....." dan banyak lagi ocehannya yang membuat kesal yang lain. Mungkin orang masih bisa menerimanya karena sifatnya yang ceria dan pandai melawak karena memiliki selera humor yang tinggi.

Walaupun beberapa kali main kerumah Paung, tetapi jika ingin mengajak makan dia selalu membawa kami keluar, dia pondai sekali menjaga perasaan kami yang pasti akan meragukan kehalalan makanan di rumahnya walaupun dia sendiri mengaku tidak pernah mengkonsumsi daging babi. Paung dan Yulianto adalah sosok yang berbeda dalam memahami ajaran agamanya. Idealnya tentu berteman dengan sesama muslim yang taat, tetapi bersahabat dengan non muslim yang membawa kita kepada ketaatan mengapa tidak, walaupun pada saat ini mencari orang yang seperti itu merupakan sebuah kelangkaan. Dan ini terbukti beberapa tahun kemudian tepatnya di penghujung tahun 2005, Jonathan Marpaung meninggal dunia karena sakit yang tidak di acuhkannya sewaktu sibuk dalam menggalang dana membantu korban bencana tsunami di Aceh.

Senin, 08 Juni 2009

Jangan Terburu-buru Dalam Menyimpulkan

Terdengar suara dari dalam kelas
 
Ahmad  : Bersabarlah
Ali        : Berusahalah
Ahmad  : Allah mencintai orang yang bersabar
Ali        : Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka berusaha merubahnya
Ahmad  : Allah menyuruh kita menjadikan sabar sebagai penolong ( Al Baqarah, ayat 153)
Ali        : Allah pun menyuruh kita untuk berusaha agar bisa memperoleh kemenangan ( Ash Shaaffaat, ayat 61)
Ahmad   : Sabar adalah separo iman dan keyakinan adalah seluruh keimanan. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Ali        : Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia  menjadikan  siang untuk bangun berusaha. ( Al Furqaan, Ayat 47 )
Ahmad  : Kesabaran adalah bentuk usaha kita mendapatkan ridho Allah
Ali        : Berusaha adalah bentuk kesabaran kita dalam menghadapi setiap ketentuan Allah terhadap kita.
Ahmad  : Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula (pertama kali) tertimpa musibah. (HR. Bukhari)
Ali        : Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri. (HR. Bukhari)
 
Beberapa saat kedua suara itu diam, yang terdengar hanya gemuruh orang seperti sedang merapihkan sesuatu. Pintu terbuka, dan dua orang saling mengucap salam  
Ahmad  : Assalamu'alaikum
Ali        : Wa'alaikum salam
Ahmad  : Apa khabar Li , kelihatannya semakin makmur ?
Ali        : Alhamdulillah baik, ah..sama saja dengan antum
 
Lalu kedua suara tersebut hilang. " Eh ngapain disini vid", kata Ismail mengagetkan. " Ya nunggu kamu, cuma disana panas jadi nunggu di belakang pesantren ini saja lebih adem " kata saya pada Ismail. " Eh Il kok tadi kayaknya satu kelas ada dua guru yang lagi debat, tapi kemudian malah salaman, jadi bingung?". saya coba konfirmasi dengan Ismail karena kebetulan dia mengetahui pesantren madrasah diniyah dan tsnawiyah ini.
 
" Itulah makanya hati-hati dalam membuat kesimpulan, banyak orang yang salah dalam memahami hadist karena tidak melihat konteksnya. Informasinya benar dan dari orang yang benar karena mendengar langsung tapi konteks dilapangan belum tentu benar karena tidak melihat langsung. Sebenarnya kelas putri saat ini sedang direnovasi jadinya satu kelas dibagi dua yang satu kelas putra dan yang satu kelas putri. Kalau yang salaman tadi karena Pak Ali itu guru pengganti yaitu teman lama Pak Ahmad yang baru diterima mengajar disini karena guru yang biasa ngajar  tidak masuk, begitu loh pak " kata Ismail sambil terkekeh
 

 

Mandi Kambing


Bercanda dengan binatang mungkin banyak dilakukan orang tetapi dicandai binatang seperti sebuah kemalangan rasanya, kisah ini berlangsung sembilan tahun yang lalu yaitu tahun 2000, tahun kegemilangan katanya, sampai orang saat itu membuat istilah Y2K.

Desa Kahuripan yang terletak sekitar 5 kilometer dari darmaga Bogor, atau 2 Kilo meter dari Curug Nangka adalah lokasi tempat tinggal kakeknya Dedi, teman kuliahku dulu. Kami biasa memanggil kakeknya dengan sebutan Ki anta. Sekitar tahun 1995 aku pertamakali diajak kesana memandu Anak Sekolah Menengah Atas mengadakan bakti sosial , tempat Dedi biasanya mengajar disana sebagai anggota Palang Merah Remaja. Walaupun bukan termasuk inpres desa tertinggal, tetapi kondisi dan lokasi tempat tersebut mirip dengan desa tertinggal karena listrik baru masuk setahun kemudian, yaitu 1996.

Pada ahir tahun 1999, Ki Anta meninggal dunia, dan kami baru mendapat informasi beberapa bulan kemudian karena memang belum ada telepon umum disana dan keluarga dekat Ki Anta tidak ada yang tahu nomor telepon keluarga Dedi di Jakarta. Dedi ternyata hanya keluarga jauh, bahkan masih didesa yang sama, banyak saudara Almarhum Ki Anta yang tidak mengenal keluarga Dedi, jadi lengkaplah sudah. Setahun kemudian Dedi menikah. Dia memintaku untuk menjemput neneknya atau istrinya almarhum Ki Anta tersebut ke Jakarta, karena selain dirinya hanya aku yang akrab dengan keluarga Ki Anta. Dan itu mungkin saja karena hampir dua bulan sekali aku berkunjung kesana untuk refresing dengan atau tanpa si Dedi. Saat itu aku bekerja sambil meneruskan kuliah yang sempat terhenti. Bekerja pada jam 10 malam sampai jam 5 pagi hari dan kuliah pada sore hari, jadi bisanya sehabis kuliah langsung berangkat kerja.

Pagi sepulang kerja aku langsung menuju stasiun kereta. Mata mulai sayu karena waktu pagi biasanya waktu untuk tidur. Sama seperti kalong yang bekerja malam hari dan tidur siang hari. Perjalan diatas kereta api tampak begitu singkat, mungkin karena mengantuk berat. Perjalan di teruskan ke darmaga bogor tidak jauh dari kampus IPB. Setelah turun maka arah yang dituju adalah kampung kahuripan dan untuk itu mesti naik angkot sekali lagi. Aku menuju angkot paling belakang karena masih kosong dan melesat ke pojokan sambil berniat meneruskan tidur setalah terlebih dahulu memesan kepada sopir agar di beritahu jika desa yang dituju telah sampai.

Tidak beberapa lama terlelap, aku merasa mukaku basah...bukan cuma itu tapi berlendir....dan ketika aku buka mata , aku kaget sekali ternyata kambing tengah menjilati mukaku karena tanpa aku sadari kepalaku bersandar pada tumpukan sayuran yang dijejerkan pada bangku belakang. Ternyata bagi orang disana membawa kambing dengan angkot merupakan hal yang biasa. " Habis begadang ya dek, matanya kok sayu begitu...nih pake buat lap muka " kata seorang ibu tersenyum sambil menyerahkan handuk untuk membersihkan mukaku yang bercampur aduk bau dan rasanya. Jika para lelaki hidung belang biasanya menyukai "mandi kucing", maka aku yang tidak bersalah ini harus merasakan "mandi kambing".

Minggu, 07 Juni 2009

Persaudaran


Diantara hiruk pikuk kendaran bermotor dan debu yang berterbangan, seorang penjual koran menghampri kami yang sedang menunggu bis menuju arah Tanah Abang. Beberapa koran ibu kota menampilkan headline yang berbeda, ada yang bernuansa politik, ekonomi dan ada juga yang menampikan berita kriminal, dan berita ini memang khas ibu kota yang penuh dengan kekerasan. Ugeng membeli koran jenis terakhir itu karena model seperti itu yang paling murah. "Seorang Adik tega membunuh kakak kandungnya sendiri" , di tulis dengan cetakan tebal dan besar, dengan standar bahasa sehari-hari. Berita mengenai pembunuhan , tipu-menipu atau tindak kekerasan diantara saudara sering kita temui didalam surat kabar atau media informasi harian.

" Innamal mu'minuna ikhwatun....Sesama umat muslim adalah bersaudara..." kata seorang ustadz yang sedang mengisi kajian ba'da dzuhur di salah satu masjid yang sedang membahas bantuan ke saudara kita yang ada di Palestina. Saya dan Ugeng tidak menyempatkan diri mendengar ceramah tersebut karena ada hal lain yang mesti dikerjakan. " Saudara jangan macam-macam...." tiba-tiba terdengar suara keributan beberapa meter di luar masjid dan segera dipisahkan warga dan kami hanya menyaksikan dari jauh. Karena haus kami cari tukang penjaja minuman dekat rumah makan padang. Di rumah makan itu sedang di putar berita siang "Saudara sebangsa dan setanah air, marilah kita pererat persatuan...." kata seseorang didalam kotak ajaib yang bernama televisi tersebut. Lengkap sudah kata "Saudara" dalam berbagai variasi rasa yang menghampiri kami hari itu, lalu apa makna kata itu sebenarnya ?

Tak kenal maka tak sayang, kata peribahasa. Bagaimana kita bisa menganggap seseorang itu saudara kita jika kita sulit menyayanginya dan rasa sayang sulit timbul apabila kita tidak mengenalnya. Rasa sayang berbeda dengan rasa kasihan. Rasa kasihan bisa muncul kapan dan dimana saja. Rasa perduli kepada sesama lebih dekat kepada rasa kasihan ketimbang rasa sayang. Perhatikan anak-anak kita yang sedang berlari, keluarga yang sedang tersenyum kepada kita dengan saudara muslim yang sedang lewat didepan rumah kita, Samakah ? bahkan sewaktu sholat dimasjid banyak dari jama'ah yang tidak kita kenal dan kitapun tidak berniat untuk mengenal mereka, karena jarang ditemui ada orang yang dengan sengaja berkenalan denagn sesama jama'ah setelah selesai sholat, karena kita berfikir , untuk apa ? dan kalaupun terjadi perkenalan itu adalah tanpa sengaja.

Kita mengenal para Ustadz yang biasa memberikan tausiah kepada kita tetapi belum tentu beliau-beliau itu kenal kepada kita. Ada diantara kita yang mengagumi bahkan sangat mengkultuskan ustadznya sampai ketika ada yang menghina dia merasa sangat tersinggung, pertanyaannya apakah sang ustadz yang dibela seperti itu sikapnya terhadap jama'ahnya, artinya ketika ada yang menghina lalu beliau mati-matian membela , Wallahu 'alam

Memang masih banyak ajaran Islam yang masih bersifat wacana, seperti khusyuk itu wacana, keikhlasan itu wacana, ikhsan itu wacana, masyarakat madani itu wacana dan masih banyak wacana-wacana lainnya yang pada masa Rasulullah adalah sebuah kebiasaan harian. Mungkin ada sebagian dari saudara kita yang telah menarapkannya, didalam keluarganya, didalam kelompoknya dan didalam jama'ahnya, mudah-mudahan suatu ketika kita termasuk didalamnya

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah kalian saling hasut, saling najsy (memuji barang dagangan secara berlebihan), saling benci, saling berpaling, dan janganlah sebagian di antara kalian berjual beli kepada orang yang sedang berjual beli dengan sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menganiaya, tidak mengecewakannya, dan tidak menghinanya. Takwa itu ada disini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali- Sudah termasuk kejahatan seseorang bila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah haram baik darahnya, hartanya dan kehormatannya." Riwayat Muslim.

Sabtu, 06 Juni 2009

Demi Waktu


Pekerjaan banyak menyita waktu. dua puluh empat jam selalu terasa kurang pada saat sekarang. Pekerjaan dan keluarga menempati peringkat teratas dalam pembagian waktu. Cerita tidak lepas dari rutinitas, bahkan untuk sebagian orang bermain juga merupakan sebuah rutinitas. Waktu telah mengubah pola hidup kita. Ketika sedang membolak-balik buku, diantara kalimat yang tersusun rapi , ada kata mutiara lama terlihat " Orang yang bahagia adalah orang yang bisa memanfaatkan waktu" dan versi lainnya yang senada adalah " orang bijak adalah yang pandai membagi waktu". memanfaatkan dan membagi waktu terhadap apa? entahlah


Yang jelas didalam agama, standarisasi pemanfaatan waktu adalah jika waktu yang digunakan bisa bernilai ibadah, karena penggunaan waktu adalah sesuatu yang suatu ketika mesti dipertanggung jawabkan. Didalam Al Qur'an dalam surat Al 'Ashr ayat satu sampai tiga adalah teguran Allah terhadap para pengguna waktu. Lalu bagaimana caranya agar setiap waktu itu bernilai ibadah ? tentu saja jawaban akan sangat subjektif dan variatif, sama ketika sore ini saya melihat orang di facebook banyak menggunakan kata-kata idealis dalam tag wall nya, entah dimaksudkan untuk beribadah atau hanya sekedar mengundang komentar.


Waktu seperti pedang bermata dua, seperti mesin yang tidak pernah berhenti berputar. Kitalah yang harus mampu beradaptasi dengan waktu sampai suatu ketika waktu kita berakhir. Jika hari ini kita masih mampu membuka-buka buku sejarah sebagai kilas balik dalam melangkah kedepan maka langkah kita sekarang adalah sejarah yang akan menjadi tolak ukur selanjutnya bagi keturunan kita kelak.

Jumat, 05 Juni 2009

Mencari Yang Hilang


Kesunyian terkadang menenangkan. Kepenatan dalam menjalani rutinitas harian menjadi luruh dalam kesunyian malam ini. Lembaran halaman buku dibuka mencari sesuatu yang bisa menambah gizi di kepala tapi entah mengapa tangan tanpa berhenti terus saja mengambil notebook dan search masa lalu kembali dimulai. Ya mencari teman yang hilang. Jika anda tipe orang yang suka memikirkan masa depan, maka saya termasuk orang yang suka bermain-main dengan masa lalu, mengobrak abrik isi kepala mencari cerita yang tidak pernah terselesaikan. Penuh liku dan warna, sejak pertama kali terdampar dikota Jakarta pada tahun 1986.

Diantara hujatan dan pujian Facebook menjadi sarana paling efektif mencari teman-teman yang hilang. Satu persatu kawan lama mulai bertegur sapa.Tidak semua memang, karena dinegara ini tehnologi informasi belum begitu memasyarakat, tetapi sekali terkena demam maka negara ini bisa jadi pasar paling di incar diseluruh dunia, saksikan saja perang tarif pulsa di media televisi yang memakan dana untuk iklan saja sampai hitungan trilyunan jadi jangan tanyakan keuntungannya.

Sayang empat sahabat dari sekolah menengah atas dulu masih belum menyentuh tehnologi ini. Seperti kain yang dirajut, cerita seseorang tidak selalu berjalan lurus, tetapi mengikuti pola. Pola yang telah didisain sedemikian rupa oleh sang pencipta. Pola yang kita bolak-balikpun tetap menuju arah yang sama. Terlepas dari itu, ketika melihat salah satu teman lama, selintas seperti ada rasa yang pernah tertinggal disana yang terkubur bersama waktu

Pejabat Dan Ilmuan


Sehabis makan siang dan sholat dzuhur, saya dan dua orang teman duduk santai di pelataran masjid. Waktu yang tersisa cukup untuk beristirahat sejenak sebelum kembali memulai aktifitas harian. Panas matahari cukup menyengat, musim kemarau telah datang, debu-debu berterbangan di hembus angin dari laju kendaraan yang lalu lalang didepan masjid. Tukang parkir sibuk mengatur mobil dan motor yang hendak bersandar di depan masjid. Dari jenis mobil dan motor yang di parkir, kita bisa menilai kadar pencapaian materi mereka, meskipun masih sangat mentah.

" Tuh lihat pejabat dan pak Ustadz berdampingan, seperti saling membutuhkan " kata teman, melihat seorang dari pejabat tinggi pada salah satu perusahaan di area perkantoran dengan Ustad yang biasa memberikan kajian di masjid ini karena hari ini memang tidak ada jadwal pengajian. " Yang satu berhasil mencapai materi harta dan yang satu berhasil mencapai materi ilmu, lalu kita berhasil dalam bidang apa yah" kata teman yang satu lagi yang mempertanyakan keadaan. " Berhasil menjadi karyawan setia kepada orang yang berhasil menjadi pengusaha" kata saya asal kena.

Dalam shahihain Rasulullah SAW bersabda "Aku menjenguk ke surga dan aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir (miskin). Lalu aku menjenguk ke neraka dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam panggung kehidupan ini, selain cerita kekayaan dan kemiskinan peranan terpenting dinilai orang banyak dari jabatan atau pekerjaan yang disandang dan ilmu yang di punyai. Para politisi, pengusaha, birokrat, direktur, manager, jendral, aktor, artis, pelawak adalah beberapa jenis jabatan yang membuat si pelaku tampak penting dimata orang lain. Peran-peran itu ada yang di dapatkan dengan kerja keras dan ada pula yang didapatkan dengan mudah atau bersifat instan. Tidak sedikit yang terlena dengan perannya, dan benarlah kata pepatah bahwa tahta bisa membutakan mata.

Di tempat lain orang dengan kemampuan berfikir ekstra telah menempatkan dirinya dibarisan ilmuan, kita sebut saja gelar keilmuan tersebut seperti professor, doktor, master, ahli hukum, ahli tata negara, ahli kimia , ahli matematika, ustadz, kiyai, pendeta, spritualist, penceramah atau muballig. Semua hal tadi membuat seseorang bisa disegani oleh orang lain, dan mungkin juga dianggap penting bahkan sejajar dengan para pejabat dan aparat. Kedua hal ini bisa digolongkan dalam tahta yaitu tahta jabatan dan tahta ilmu dan kedua hal ini membuka peluang menuju pintu harta yang cukup luas.

Sering kita mendengar para Ustadz menganjurkan kita mecontoh dan mentauladani Rasulullah SAW, pertanyaanya dalam hal apa ? apakah dalam hal yang kita sanggup atau dalam hal yang kita senangi saja ? . Dalam sahih bukhari pernah rasulllah bordoa "Ya Allah, langsungkan hidupku dalam kemiskinan dan wafatkan aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkan pula aku kembali dalam kelompok orang-orang miskin ". (HR. Bukhari). Menjadi kaya tidak semua orang mampu dan menjadi miskin tidak semua orang mau. Kemampuan dan kemauan dalam hal ini menjadi dongeng semata yang indah untuk diceritakan kemana-mana

Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw dan bertanya, "Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia." Rasulullah Saw menjawab, "Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia." (HR. Ibnu Majah).

Kamis, 04 Juni 2009

Penyerahan Tidak Sepenuh Hati


Jika saja kita bisa membuat replika hati maka mungkin kita bisa belajar menempatkan keburukan pada sudut yang sulit dipandang mata. Seringkali fikiran kita merekayasa kondisi hati. Lidah kita selalu menampakan yang indah-indah, menebar idealisme kata, tapi siapa yang tahu proyeksi hati yang pantulannya tidak pernah ditampakkan.


Hari itu aku memasuki empat tempat dengan empat sketsa rasa dikepala. Entah mengapa pagi itu perasaan kurang begitu gembira seperti ada ganjalan di hati, tetapi karena ada laporan penjualan barang yang harus dilaporkan, kaki terpaksa tetap dilangkahkan. Karena ingin cepat sampai ketujuan, diambilah jalan pintas yang kadang tidak pernah dilalui sebelumnya sampai pluit panjang polisi menghentikan sepeda motorku, ternyata jalan ferboden telah dimasuki. Tidak berapa lama aku sudah berada dalam pos polisi menunggu proses penilangan, atau lebih tepatnya ajakan damai, dan itulah pilihan yang aku ambil, berdamai dengan mengeluarkan kertas yang mengandung angka keramat yang di gilai semua orang. Rasa kesal menyumbat kepala.


Barang terlambat diantar ke pada pelanggan dan ocehan dengan nada kesal kembali harus diterima. Aku harus mempertontonkan mimik muka penuh penyesalan agar bisa menyakinkan pelanggan tersebut kalau keterlambatan itu tidak disengaja dan proses saling mengertipun terjadi. Rasa kesal menjadi-jadi.


Memasuki ruangan atasan perasaan sudah tidak karuan, tetapi kita dipaksa bermanis muka, dan dengan berbagai diplomasi akhirnya laporan diterima. Rasa kesal belum juga hilang


Waktu sholat dzuhur telah tiba. Waktu menghadap kepada sang pencipta. Tetapi rasa kesal tidak hilang juga. Segala macam mimik muka telah aku hidangkan dimuka polisi, pelanggan, dan atasan, tetapi entah mengapa mimik kesal itu justru tampak disini di depan sang maha pencipta. Mimik muka yang terbaik justru seharusnya ada disini, bukan di tempat lain. 


Kita mungkin telah lama berdiri didepan Sang maha pencipta dengan rekayasa kepala bukanlagi keikhlasan hati. Suara yang keluar dari mulut kita hanyalah hafalan-hafalan ayat bukan lagi pengharapan, kita lebih sering monolog dengan diri sendiri ketimbang dialog dengan Yang maha memperhatikan karena kita memang tidak pernah merasa di perhatikan. Tidak ada yang tahu, semua tampak berbaris rapi dalam satu shaf. Dan yang membedakan adalah isi di kepala yang mungkin saja telah memposisikan kita di barisan para pendusta agama

Rabu, 03 Juni 2009

Terlihat Bodoh


"Kapan kamu terlihat bodoh" kata bu guru waktu saya sekolah dulu, ketika masuk pelajaran bahasa Indonesia mencari padanan kata dari antonim, homonim dan sinonim dalam sebuah kalimat. Bodoh dan terlihat bodoh jelas berbeda. Bodoh adalah anggapan orang terhadap kelakuan kita sedangkan terlihat bodoh adalah perasaan kita terhadap diri kita sendiri yang disebabkan oleh keadaan. Pelajaran itu didapati sewaktu masih sekolah dasar dan terjadi pengulangan walau sepintas di sekolah menengah, namun kisah ini terjadi beberapa tahun kemudian yaitu sewaktu kuliah.

Namanya Kuncuro Wibowo panggil saja dia dengan sebutan Kukun. Kegemaran berkenalan dengan siapa saja, ibu-ibu, bapak-bapak, kakek-kakek, nenek-nenek apalagi remaja putri. Chating belum begitu ngetop saat itu. Jadi untuk ukuran mahasiswa telepon koin tetap terfavorit oleh karena itu jangan salahkan sewaktu kukun berjalan maka gemerincing koin selalu terdengar dari kantong celananya yang agak kedodoran maklumlah celana model baggy masih belum hilang dari peredaran. Sore itu kenalan dari seorang teman hendak disambanginya dalam menambah rentetan kenalan pada buku telepon genggam yang sudah terlihat lusuh. " Vid sore ini temanin aku yah, rada grogi soalnya ini perumahan perbankan" katanya, mencoba membujuk.

Sore itu Kukun mengajak ke daerah Galur sari Senen Jakarta pusat, setahu saya tidak ada perumahan perbankan disini , Semakin kedalam rumah semakin rapat, saya semakin bingung " Kun katanya perumahan perbankan kok lewat sini ?" tanya saya. Kukun cuma senyum " ya ini dia " katanya sambil ngomong " permisi bang ... permisi bang" karena banyaknya anak muda bergerombol di gang menuju alamat, jadi itulah yang dimaksud dengan perumahan perbankan...sebentar-sebentar ngomong "permisi bang".

Tiba-tiba kukun berhenti, alamat pada kertas tidak menunjukan nomor rumah, sebenarnya ada cuma saya lihat terhapus karena keringat sehingga yang nampak cuma goresan tinta yg kabur. Nama yang dicari adalah Novita Sari, disekolah dikenal dengan nama Vita, tetapi setelah ditanya orang didaerah situ tidak ada yang mengenal Vita. Sore hari pada perumahan yang terbilang cukup padat itu nampak banyak sekali ibu-ibu, anak-anak dan pemuda ngerumpi di pinggir gang, mungkin setelah letih bekerja seharian maka sore adalah waktu untuk besosialisasi dengan tetangga dan malam waktu untuk keluarga " Kalo nama Vita ngga ada de , nama lengkapnya ada gak trus ade ini temannya atau saudaranya" beruntun pertanyaan ibu itu. " Ngga bu dia kenalan baru jadi sekalian mempererat tali silaturahmi kami mau main kerumah dia , ini dia nama lengkapnya bu " kata Kukun kepada ibu itu " ooo jadi baru mau kenalan toh oke deh " kata ibu tersebut dengan gaya khas betawi.....tiba-tiba dia teriak " SIAPA YANG BERNAMA EVITASARI AYO KESINI ADA YANG MAU KENALAN" teriakan ibu itu membuat satu kampung heboh. Penglihatan saya gelap.....malunya minta ampun.....kukun cuma cengengesan, untuk hal yang satu ini dia memang bermuka badak, asli tidak dibuat-buat.

Tiba-tiba seorang gadis keluar dari kerumunan "...mas cari mbak sari..ya..eh maksud saya...mbak vita ayo masuk dia nunggu didalam..." kata seorang gadis kecil yang ternyata adiknya Vita, dia memang dikenal dengan panggilan Sari dirumah , sedangkan dia sendiri tidak mau keluar takut di ledekin tetangga dan yang paling miris adalah ternyata rumahnya tepat di belakang kami berdiri.....

Dibalik Berbagai Keinginan


Keinginan, kemauan dan harapan sering terbungkus rapi dalam fikiran setiap orang. Tidak setiap orang mau mewujudkan keinginannya dan juga tidak sedikit yang menghentikan harapannya pada keinginan semata.

Walaupun tidak begitu cerah tapi nampak anak-anak bermain dengan gembira, sore dihari sabtu. Malam apel kata para remaja, yang mentradisikan malam minggu ini sebagai malam kunjungan spesial kepada pasangannya.


" Gus kalo sudah besar menjadi apa " kata saya kepada agus, anak berusia lima tahun yang sedang bermain di lapangan dekat rumah "pengen jadi dokter pak.." katanya sambil terus bermain. Tidak ada yang salah dengan cita-cita anak itu. Tapi apakah itu yang dinamakan dengan cita-cita atau sekedar keinginan karena kelatahan yanag mengharuskan anak menjawab setiap pertanyaan orang tua walaupun dia sendiri tidak sadar dengan apapun yang di ucapkannya.

Sudarman tukang ketoprak yang biasa mangkal dekat rumah, pernah saya tanya mengenai cita-citanya dulu dan jawabnya cukup mencengangkan kalo tidak mau di bilang melenceng jauh yaitu jadi pilot pesawat tempur.

Beberapa hari kemudian, ketika berbincang-bincang dengan pak Zumal yang cukup berhasil paling tidak terlihat jelas secara materi, dia mengatakan bahwa cita-citanya dulu bukanlah menjadi pengusaha seperti sekarang tapi menjadi arsitek, dan keadaanlah yang mengubah segalanya. Tapi lebih dari itu, saat ini Pak Zumal tidak perduli lagi dengan segala cita-cita, yang ada dibenaknya saat ini adalah menjadi orang yang bertaqwa karena merasa usianya yang telah senja.

Menjadi orang yang bertaqwa memang bukanlah sesuatu yang sering dicita-citakan oleh anak manapun termasuk anak kiyai sekalipun, karena cita-cita identik dengan keduniawian, jabatan dan pencapaian materi. Sedangkan ketaqwaan urusan nanti, urusan ketika usia mulai berganti dan berbagai peringatanpun telah terjadi

Selasa, 02 Juni 2009

Cita-Cita Yang Kandas


Sebuah kata mutiara mengatakan, hari kemaren adalah mimpi dan hari esok adalah visi, jangan jadikan hari kemaren sebagai sebuah penyesalan dan jangan pula menatap hari esok dengan ketakutan. Kita selalu berharap pengalaman kemaren selalu bisa bermanfaat hari ini dan rencana hari ini bisa berguna esok hari. Semua itu adalah harapan dan harapan adalah bagian dari doa. Sama seperti doa, tidak semua harapan terwujud dengan nyata dan hal tersebut tidak perlu menjadikan kita berhenti untuk berharap.

Setelah lebih dari tujuh belas tahun tidak bertemu, Sugianto sekarang bekerja pada perusahaan perkakas alat-alat rumah tangga, Kamin masih bekerja pada bagian administrasi di sekolah Muhammadiyah di Jakarta, Ali tidak terdengar kisahnya selain terakhir kali terdengar sebagai buruh harian di pasar induk Cipinang begitupula dengan Jaja, hilang tanpa tahu rimbanya. Memang cuma ada lima kepala pria dikelas itu, Sekolah Menengah Ekonomi Atas , memang waktu itu tidak begitu top untuk kaum adam, yang lebih memilih jurusan tehnik. Menjadi minoritas membuat tali persaudaran begitu kuat, tak disangsikan, silahkan tanya kepada teman-teman kita di negeri orang yang sedang menuntut ilmu.

Banyak cerita tak terperi, yang tergores pada kurun waktu hanya tiga tahun. Sungguh waktu yang singkat untuk kenangan yang tersimpan begitu lama. Mereka mampu menyembunyikan kisah menyayat hati dengan senyuman khas remaja yang hendak meraih cita-cita, dan akhirnya cita-cita tidak tidak pernah terwujud. " Apa yang diharapkan orang tuaku terhadapku sama dengan apa yang aku harapkan dengan anaku saat ini, meraih cita-cita setinggi mungkin, walau hati kecilku takut kalau anakku berubah menjadi aku saat ini dan menyimpan harapan berikutnya pada anaknya.......tidak pernah berkesudahan akhirnya" kata Sugianto terakhir kali bertemu sekitar dua tahun yang lalu.

Hari ini entah mengapa, saya malas membaca buku-buku yang menorehkan kisah-kisah sedih yang berakhir bahagia, mungkin tidak ada yang mau menulis buku yang berakhir sedih juga karena siapa yang mau membaca ? bisa jadi pembaca merasa tidak ada harapan disana, selain curahan perasaan semata. Tapi kenyataan juga sering berkaca pada mimpi yang tidak pernah menjadi nyata, yang tersimpan dibuku-buku hati dan terkunci mati disana

Senin, 01 Juni 2009

Cangkir Yang Tidak Pernah Penuh


Ibarat air laut bangsa ini terus beriak, gelombang air atau arus pasang surut selalu membuat air tidak pernah tenang. Kapal-kapal yang semestinya dinaungi, suatu saat dihempaskan. Teriakan minta tolong dari awak kapal dikalahkan dengan deru ombak, yang menggulung dan meluluh lantakkan semua armada. Bangsa ini bangsa besar, harus pula dinaungi oleh orang-orang berjiwa besar, jika tidak amarah langit akan menenggelamkan bangsa ini.

Sore itu Pak Kusnadi yang telah lama pindah singgah di pos RW sewaktu akan diadakan rapat pembentukan panitia sunatan massal. Selain dari karang taruna dan dari RT sunatan massal tersebut juga melibatkan dari remaja masjid. Pada pos RW tersebut terdapat televisi berukuran duapuluh sembilan inchi yang menyiarkan berita sore. "Sudah hampir empat tahun sejak pindah ternyata kemajuan Pak Kusnadi lumayan pesat nih" kata ketua RT sembilan Pak Hartono tempat dahulu Pak Kusnadi bermukim. " Ya ada saat-saa dibawah ada saat diatas, hidup ini selalu berputar, benarkan pak " jawab Pak Kusnadi. Berita sore itu menayangkan penangkapan pejabat yang terkena kasus pidana korupsi. " Tapi roda berputar saya masih dibawah roda koruptor itu pak " kata Pak Kusnadi meneruskan jawabannya " artinya seterpuruk apapun dia simpanannya jauh lebih banyak dari saya yang saat-saat ini diatas menurut ukuran kita". Yang lain hanya mangut-mangut " ya jangan disamakanlah roda traktor dengan roda pedati " kata Pak RW bercanda.

Istilah roda selalu berputar sering gunakan orang untuk menggambarkan ritme kehidupan yang selalu berubah, walaupun variasi roda bisa berbeda baik ukuran maupun lokasi, seperti perbedaan berputarnya roda atas dan roda bawah, artinya posisi terbawah dari roda atas adalah posisi teratas dari roda bawah. Allah memang menciptakan tatanan kehidupan demikian rapi seperti tautan gir dalam mesin yang saling berputar satu sama lain untuk bisa menghidupkan mesin.

Seorang teman dalam rapat tersebut tidak setuju dengan pengistilahan roda ini karena menurut dia jika kita mau berusa sekuat tenaga maka kita bisa mencapai sama seperti yang telah dicapai oleh orang lain, termasuk sama seperti para konglomerat yang ada di negara ini. Pak RW yang paling senior, paling tidak dalam jabatan mulai ikut memberikan pendapat. " Setiap manusia itu telah di berikan jatah rezeki oleh Allah , ibarat cangkir, ukuran cangkir setiap orang berbeda satu sama lain. Usaha manusia adalah untuk mengisi cangkir itu dan bukan menggantinya, karena tidak ada yang tahu ukuran cangkir masing-masing selain Allah Subhanahu wata'ala. Ada cangkir yang tidak pernah penuh karena dia tidak mau berusaha, tetapi ada juga cangkir yang luber, artinya dia membagi-bagikan hartanya kebawah walaupun bisa jadi bagi orang tertentu ukuran cangkirnya tidak begitu besar. Ada juga yang ukuran cangkirnya begitu besar sampai-sampai dia menghabiskan hidupnya hanya untuk mengisi cangkir tersebut tanpa pernah sempat membagi-bagikan kepada yg lain.

Fitrah Seorang Bayi


Menatap seorang bayi, tanpa sadar kita akan menyadari ke maha-an Allah dalam menciptakan mahluknya. Bayi dimanapun sama saja , sewaktu lahir tidak pernah menyandang status apapun yang melekat pada orang tuannya. Tidak negara, tidak kasta, tidak suku, bahkan tidak pula agama. Terkadang bayi itu akan dipersalahkan atas goresan tinta yang tidak tepat dari orang tuannya. Goresan itu akan menjadi landasan dia melangkah kedepan. Sembilan puluh persen bayi di dunia saat ini, menyandang agama orang tuannya, mungkin juga termasuk kita dahulu. Tetapi tidak ada satu orangpun yang tega mengatakan bahwa bayi-bayi yahudi, bayi-bayi nasrani atau bayi-bayi dari agama lain adalah cikal bakal penghuni neraka jika tidak mendapat hidayah Allah, loh memangnya bayi muslim walau tidak mendapat hidayah allah akan tetap masuk syurga ?

Rasulullah bersabda bahwa 'Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Bukhari)

Orang tua yang Yahudi atau Nasrani atau Majusi didapati dari kakek yang Yahudi, Nasrani dan Majusi dan begitu seterusnya keatas, lalu siapa yang pertama kali di persalahkan jika bersandar pada hadist ini. Seorang teman aktivis pernah berpendapat bahwa bayi tersebut setelah dewasa mempunyai akal fikiran untuk mencari kebenaran agamanya, itu berarti seluruh bayi yang terlahir bukan sebagai muslim wajib ketika dewasa mempelajari agama lain, karena jika tidak mempelajari agama lain dari mana mereka tahu kalau agama mereka salah. Lalu apakah itu berarti seluruh bayi muslim mendapat dispensasi hanya memperdalam agamanya sendiri, tanpa perlu mempelajari agama orang lain karena sudah pasti benar. Jika kita kembalikan kepada sandaran awal bahwa kita tahu agama kita benar karena kita mengetahui kesalahan agama orang lain dan dari mana kita mengetahui kesalahan tersebut jika tidak di pelajari, maka seluruh bayi muslimpun terkena kewajiban mempelajari agama lain sebagai tolak ukur.

Jika seluruh bayi dimuka bumi ini setelah dewasa tidak mempelajari agama lain hanya fokus pada agamanya sendiri secara baik menurut fikirannya yang diambil dari dalil-dalil agamanya dan mengamalkannya secara benar menurut fikirannya atau menurut dalil-dalil agamanya maka siapakah yang dapat dispensasi syurga ? Manusia bisa saja berpendapat tapi Allah lah yang maha menentukan. Harus kita sadari bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam semesta bukan milik agama-agama tertentu. Setiap ada yang benar pasti ada yang salah demikian juga terhadap agama. Hak menentukan yang benar dan salah adalah hak Allah, keadilan Allah tidak bisa disamakan dengan keadilan mahluknya. Sebagai mahluk kita diwajibkan berikhtiar mencari kebenaran menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah atas diri kita yaitu agama orang tua, karena tidak ada sesuatu kejadian yang tanpa sepengetahuan Allah, termasuk pemilihan rahim tempat ruh bersemayam. Semuanya tentu saja untuk kemaslahatan manusia itu sendiri.

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Ali Imran, ayat 18 )