Rabu, 10 Desember 2008

Dzikir Keseharian

" Alladzinaamanu wa tatmaninnu qulubuhum bidzikrillah 'ala bi dzikrillahi tatmainnul qulub" surat Ar Ra'd  ayat dua puluh delapan ini sudah dikenal baik oleh para ahli dzikir, tetapi mungkin tidak banyak yang bisa menghayatinya dalam tataran realistis. Ketika masih sekolah dulu sering diadakan outbond atau outing program keluar kota setelah ujian akhir dan selalu ada tim survey lapangan sebelum acara diadakan dan saya termasuk diantaranya. Setelah melakukan musywarah dan mufakat di tetapkan lah Cibatok bogor sebagai tempat outbond berikutnya.
 
Tim survey sebenarnya ada tiga orang tapi ada dua orang lagi yang bersedia menjadi penggembira dan dengan dana sendiri tentunya karena pada dasarnya mereka memang senang jalan-jalan. Salah satu diantara tim survey mempunyai uwak yang ada di salah satu desa dekat Jasinga Bogor, dan kami merencanakan mampir kesana setelah survey, sebenarnya jarak antara Cibatok dan Jasinga cukup jauh tapi bukan tim survey namanya jika mudah menyerah pada jarak.
 
Setelah melakukan survey, kami tiba di  desa tujuan pukul setengah enam sore tapi kondisi sudah gelap karena hujan turun cukup deras. Biasanya pada jam segitu masih ada tukang ojek yang mangkal di prapatan untuk mengangkut penumpang kekampung dalam yang berjarak sekitar dua kilometer tetapi waktu itu tidak satupun yang terlihat sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki. Mungkin bagi orang setempat petir yang memekakkan telinga saling sahut menyahut merupakan hal biasa tapi tidak bagi kami. Ricky salah satu diantanya yang sering mengucapakan " Astagfirullah" sewaktu petir menyambar, semakin keras suara petir semakin tinggi pula suara Ricky menunjukan ketakutan dan ternyata lafaz agung tersebut tidak lebih dari sekedar tameng kelatahan.
 
Hujan mulai berhenti, perjalanan masih sekitar satu kilometer dan angin bertiup sangat kencang mengguncang tubuh kami yang menggigil karena basah kehujanan. Setelah melangkah beberapa lama tampak tumpukan batu nisan di pinggir jalan. Ternyata kami harus melewati area pekuburan, suasana tampak mencekam dan satu persatu diantara kami melafazkan ayat kursi , ayat favorite untuk hal-hal menakutkan bahkan saking seringnya dipergunakan untuk hal-hal ini maka sering diplesetkan jadi ayat horor, padahal otak yang membacanyalah yang penuh horor yang " horrible". Dan hal ini terbukti, sewaktu kami berjalan sambil melafazkan ayat kursyi , tiba-tiba ada pohon tumbang di belakang kami akibat terpaan angin yang kurang bersahabat dan seketika itupula kami lari pontang-panting gak karuan. Ayat suci itupun menguap seketika tidak berbekas dihati pembacanya selain rona ketakutan yang tampak di pias muka.
 
Sering kita terjebak dalam kausalitas parsial, dimana pemahaman kita terhadap ayat-ayat Allah adalah tekstual bukan kontekstual , kita melepaskan ayat dari yang mempunyai ayat tersebut yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga kepala dan hati kita penuh dengan lafaz dan bacaan ayat-yat suci tapi jauh dari keyakinan kita terhadap zat Allah sendiri sehingga tujuan seperti yang diterangkan Al Quran " 'ala bi dzikrillahi tatmainnul qulub"  jarang kita resapi pada keseharian yang kita jalani.