Kamis, 26 November 2009

Lubang Di Hati

"Mengingat keburukan dua kali lebih kuat dari pada mengingat kebaikan" begitulah kira-kira kata salah satu buku mengenai dampak berbuat buruk. Saya teringat dulu seorang satpam marah kepada saya karena merasa jalan yang dilalui oleh kendaraannya terhalang oleh sepeda motor saya. Parkiran di depan masjid tersebut memang tidak begitu lebar tetapi motor yang dimaksud bukanlah milik saya. Kebetulan waktu itu saya berada di samping motor tersebut saat sedang menerima telepon dari seorang teman, tiba-tiba terdengar suara membentak " Hei Mas, kalo parkir jangan sembarangan dong, itukan jalan lewat pengurus masjid, tolong pinggirin  motornya ! " teriak satpam tersebut. Saya terhenyak dan kesal  , tetapi saya membantu meminggirkan motor tersebut dan tidak melayaninya karena saat itu masih online dengan teman dan berusaha menghilangkan amarah dengan becanda dengan teman diseberang telepon. Setelah hari itu setiap bertemu dengannya yang teringat hanyalah muka marahnya walaupun saat bertemu dia sedang tersenyum, dan ingatan tersebut muncul begitu saja tanpa direkayasa.
 
Sewaktu pertama kali bekerja dahulu seorang teman sering mengirim email berisi artikel-artikel islami dan salah satu dari artikel itu bercerita tentang akibat perbuatan buruk. Dikisahkan seorang bapak mempunyai seorang anak yang nakal dan tidak pernah mau menurut nasehat orang tua. Karena kesal sang Bapak mendirikan tiang kayu didepan rumah. Setiap sang anak berbuat kejahatan maka sang bapak memaku kayu tersebut dan tidak ada yang mengerti maksud dari sibapak kecuali Ibunya. Beberapa tahun kemudian ketika sang bapak meninggal dunia , tanpa sengaja atau baru sadar anak tersebut melihat tiang kayu didepan rumah yang di penuhi oleh paku, lalu dia bertanya kepada ibunya maksud dari tiang kayu tersebut.
 
" Amanah dari Bapakmu jika kamu telah insyaf dan berbuat baik maka cabutlah satu paku setiap kamu berbuat satu kebaikan kepada orang lain sebagai ganti keburukan yang kamu perbuat" kata sang ibu mengingatkan. Waktu telah mengubah segalanya, doa dari orang tua telah membuat Allah ridho sehingga memberikan hidayah kepada anak tersebut. Sejak hari itu dia berusaha berbuat baik kepada siapapun dan tercabutlah paku dari tiang tersebut satu persatu. Ketika paku telah habis dari tiang tersebut , sang ibu kemudian menghampirinya " Nak kamu telah banyak berubah , kamu juga telah berhasil mengimbangi segala keburukanmu dimasa lalu dengan kebaikan yang telah kamu perbuat dan  kamu juga mungkin telah dimaafkan tapi bekas yang telah kamu perbuat akan membekas selamanya dihati orang-orang yang pernah kamu lukai  seperti kayu itu , walaupun kamu telah berhasil mencabut paku dari tiang itu tapi kamu tidak bisa menghilangkan bekas lubang yang di tinggalkannya, apalagi lubang dihati anakku" kata ibunya dengan penuh kasih sayang.
 
Cerita diatas seperti menyadarkan saya bahwa mendapatkan maaf bukanlah menghilangkan apa yang pernah kita perbuat tapi menghilangkan dosa dari apa yang telah kita perbuat namun secara psikologis dampak itu akan terus terasa. Sebagai contoh jika ada orang menabrak orang lain sampai  kakinya patah, kemudian dia minta maaf dan orang tersebut memaafkan lalu apakah kakinya kembali normal dengan memaafkan tentu tidak , kemudian jika setelah memafkan lalu sering muncul perasaan sedih ketika melihat kakinya dan kembali mengingat orang yang menabraknya , apakah dia berdosa ? apakah kata maaf sudah bisa menggugurkan segala hukuman ? termasuk kesedihan yang akan di timbulkan ? tentu ini menjadi renungan kita bersama
 
Orang yang berbahaya bukanlah orang pada lingkungan tertentu tetapi orang yang memiliki sifat-sifat tertentu yang dengan sifat tersebut dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Sifat yang dimaksud adalah sifat buruk seperti marah, dendam, iri , dengki dan berbagai sifat lain yang kita tidak pernah meminta untuk di anugrahkan kepada kita tetapi tetap di amanahkan. Kita tidak akan pernah mendengar ada seorang ulama yang berdoa agar di hilangkan dari sifat buruk karena itu melanggar fitrah. Ketika semua orang menyalahkan nafsu birahi sebagai penyebab zina lalu Allah mencabut nafsu ini dari hati seluruh manusia maka akibatnya kita tinggal menunggu waktu kepunahan . Pengendalian dan penempatanlah yang diinginkan olehNya.
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar