Senin, 13 Juli 2009

Cermin Tingkah Laku



Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." ( Al Ahqaaf, ayat 15)

Tidak salah jika dikatakan bahwa ridhonya orang tua adalah juga ridhonya Allah, karena orang tualah yang telah merawat dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. " Yara jangan suka lompat-lompatan gitu, nanti jatuh loh" teriak saya kepada anak saya yang terus saja melompat dari atas bangku ke atas karpet. Ketika di cegah dia lari ketempat lain dan ketika kita pergi Yara kembali melompat, entah apa yang ada didalam kepalanya. Adiknya yang berumur dua tahun lebih malah mau meniru ulah sang kakak. Anak itu memang sangat keras kepala, semakin di cegah, justru dia semakin penasaran. Buah selalu jatuh tidak jauh dari pohonnya.



Sekitar duapuluh delapan tahun yang lalu di sebuah kampung kecil, kenakalan seperti itu pernah terjadi. " Pian, gak usah ikut....habis hujan begini tanah diatas bukit licin, nanti jatuh loh" teriak Ibu kepada Pian yang masih saja melangkah pergi meski agak tersendat-sendat. Ibunya menyuruh Syakban, temannya untuk mencari buah delima yang akan digunakan sebagai bumbu masakan. Syakban yang telah lama putus sekolah memang terbiasa naik turun bukit mencari kayu bakar dan akar tanaman untuk obat karena ibunya adalah tukang urut dan dukun beranak di kampung itu. Walaupun Syakban di upah tetapi Pian tetap merasa tidak enak kepada temannya itu sehingga dia memaksa untuk tetap pergi bersama Syakban tanpa menghiraukan teriakan ibunya.

Bukit kecil yang terletak di belakang sekolah itu adalah pintu masuk puncak gunung yang lebih tinggi dan terjal, orang Sumatra menyebutnya dengan nama Bukit Barisan. Bukit kecil itu banyak di tanami pohon delima dan pohon karet, tempat anak-anak biasa bermain perang-perangan, aka tetapi jika musim hujan datang, banyak orang tua melarang anaknya kesana karena jalan menuju ke atas bukit harus melalui tanah merah yang terjal dan licin. Setelah mengambil buah delima, Syakban menaiki pohon karet mengambil buahnya untuk diadu dan Pian menunggu di bawah. Karena terlalu sering melihat keatas dan terus mundur sambil menangkap buah pohon karet, kaki Pian tersandung akar pohon tepat disamping jalanan berbatu. Tubuh Pian jatuh dan menggelinding kebawah bukit yang berjarak sekitar seratus meter, setelah itu gelap, dia tidak ingat apa-apa. Pian baru sadar setelah berada dirumah sakit dengan balutan di kepala, tangan dan kaki.

Kenakalan itu sekarang terwarisi dengan sempurna, hanya saja, saya tidak ingin apa yang saya alami terjadi pada anak saya, mungkin juga anak anda. Yah, anak nakal ini sekarang telah menjadi orang tua dan Allah telah meletakan cermin itu tepat di depan mata. Dulu saya pernah berkata kepada ibu " Bu tahu gak kenapa Pian jatuh ?, itu bukan karena pian ceroboh, bukan karena tanahnya licin, tetapi karena kekhawatiran ibu ". Peristiwa itu tidak pernah membuat Pian jadi jera, "namanya juga anak-anak" kata neneknya, tetapi dilain sisi ibu berubah drastis. Ketika Pian memaksa hendak melakukan sesuatu, ibu tidak pernah lagi melarang tetapi berdoa untuk anaknya tercinta tersebut, dan doa itulah yang perlahan-lahan merubah kelakuannya. Saya teringat kisah Lukman dan nasehatnya terhadap anaknya, seperti salah satu nasehatnya berikut
(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. ( Luqman ,ayat 16)


" Kok ayah gak marah lagi kalau yara lompat di bangku " kata yara kepada saya yang sedang menunggu lompatannya diatas karpet. " Gak ah , ayah mau jagain Yara aja biar gak jatuh" kata saya sambil tersenyum. Yah, kita yang tadinya dikhawatirkan sekarang berubah menjadi yang mengkhawatirkan anak kita, namun demikian hati-hatilah dalam kecemasan terhadap anak, karena kekhawatiran bertuah orang tua kita dulu sekarang telah kita warisi dan pintu langit selalu terbuka untuk setiap harapan dan kekhawatiran orang tua terhadap anaknya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar