Minggu, 31 Mei 2009

Memaknai Nama


" Ayo lari geng cari tempat berteduh, siapa tahu hujannya makin deras" kata saya kepada Ugeng sepulang dari rumah saudara di kota Bogor. Kota ini memang cukup dekat dari Jakarta, karena itulah salah satu tempat wisatanya yaitu kawasan puncak selalu ramai dikunjungi oleh orang dari Jakarta. Negara kita memang di anugahkan oleh Allah tanah yang subur dan indah, yang jika dikelola dengan baik bisa mendatangkan devisa yang tidak sedikit bagi negara. Untuk kawasan Jabodetabek, maka Bogor adalah primadona wisata alam, selain dekat kawasan ini masih bisa di golongkan dalam kategori tempat yang sejuk meskipun belakangan ini kesejukan itu mulai berkurang. Rumah saudara Ugeng ada di sekitar Cidahu, beberapa kilometer dari Ciawi menuju Sukabumi.

Sudah menunggu beberapa lama angkutan yang kosong belum ditemui sedangkan gerimis perlahan-lahan mulai membasahi pakaian. Kami menjauh dari jalan raya menuju ke perumahan penduduk untuk mencari tempat berteduh. Ditengah pemukiman berdiri masjid cukup indah dan itulah tempat terbaik untuk berteduh. " Assalamu'alaikum, kehujanan kang, ayo masuk kedalam" kata seorang pemuda. Ternyata waktu itu sedang ada kajian hadist oleh seorang ustadz yang berpenampilan mirip syaikh dari temur tengah, sangat berwibawa. Ada sekitar dua puluh peserta yang mengikuti kajian. Hujan turun dengan deras, dan waktu kami tidak sia-sia karena ada ilmu yang bisa di petik di masjid tersebut. Setelah selesai mengikuti pengajian hujan mulai reda, kami sempat berkenalan dengan beberapa jama'ah. " Di sini rupanya banyak arab melayu" bisik Ugeng kepada saya, karena hampir semua nama mereka berbau timur tengah. Abu Sulaiman, Muhammad Hamim, Salman Alfarisi, Abu Fatoni, Ummu Hurairoh, Ummu Zahrah, Zainuddin albantani.

Selidik melalui pertanyaan yang bersahabat, ternyata banyak yang memang dengan sengaja mengganti nama, mencari keberkahan kata salah seorang, sedangkan yang lain mengatakan nama adalah sebuah doa dan banyak alasan lain yang membuat saya seperti nampak tersudut di pintu agama, anda tahulah nama saya, plesetan kaum nasrani terhadap nabi Daud kata mereka. Saya hanya tersenyum dan Ugeng buru-buru keluar takut namanya diartikan macam-macam.

Didalam angkot seorang anak membawa keranjang belanjaan buat dagangan esok hari katanya. Saya bertanya siapa namanya " Nama saya Sukarno, kata ayah, saya harus hebat seperti presiden" sahut anak tersebut. Ternyata ada tersembunyi harapan orang tuanya terhadap nama anak tersebut. Dan hampir semua orang tua pastilah seperti itu memberikan nama yang terbaik buat anaknya, yang mungkin dimaknai secara sempit bagi orang lain. Walaupun pepatah mengatakan "apalah arti sebuah nama" tetapi tanpa nama seseorang tidak akan pernah bisa berarti.

Suatu hari kami menanyakan hal ini kepada Ustad Najib, " Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali bukanlah nama nabi, dan nama itu tidak pernah menjadi apa-apa sebelum mereka masuk Islam, Perbuatan merekalah yang menjadikan nama mereka berarti, orang yang meniru nama mereka sebenarnya ingin meniru perbuatan mereka, yang kemudian dijawantahkan lewat nama. Nama Ibrahim bukanlah siapa-siapa sampai Allah menyematkan nama tersebut kepada NabiNya. Sukarno bukanlah siapa-siapa sampai dia mempejuangkan namanya menjadi orang nomor satu dinegeri ini, demikian juga tokoh-tokoh hebat lainnya, dan tidak pernah ada orang hebat karena meniru nama orang lain, tidak dimata masyarakat tidak juga dimata Allah selain amal perbuatannya

Wajah Baru


Hari ini memang berencana mengganti penampilan. Bukan berarti yang lama terkesan usang, tetapi buat sekedar penyegaran dan ini juga karena ada sedikit waktu luang untuk merombak sana-sini. Didalam facebook saya pernah mengoceh sendiri dengan mengatakan bahwa tidak pernah ada teman lama atau teman baru, yang ada hanya pertemuan dalam waktu yang berbeda. Semua pasti menyadari bahwa kita semua dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, dimensi dimana bisa saja saat ini kita sedang disaksikan oleh alam lain sebagai mahluk yang paling pandai bersandiwara.

Perubahan penampilan ini , diharapkan memberikan kesan bahwa blog ini diperuntukkan bagi siapa saja yang mau dan suka bersilaturhami dalam persahabatan, cinta dan kasih sayang. Kesalahan adalah ciri khas manusia, dan belajar dari kesalahan adalah sebuah keharusan, walaupun pada akhirnya memang tidak pernah ada keharusan untuk bisa lepas dari kesalahan tersebut karena hasil bukan lagi ditentukan oleh kita.

Rabu, 27 Mei 2009

Rumah Penyakit



Walaupun namanya sama tetapi penyaksian sering berbeda disana
Rumah sakit, padahal rumah itu jelas tidak pernah sakit
Memuat penyakit dan orang sakit
Menjadi saksi kematian dan kelahiran
Rumah yang tidak pernah sakit itu pun sering menyakiti hati orang
Rumah itu seperti tempat tangisan
Menangis bahagia kerena baru saja mendapatkan amanah titipan dari Yang Maha Kuasa
Menangis sedih karena Yang Maha Kuasa baru saja mengambil titipan tersebut
Keduanya menangisi sesuatu yang bukan milik mereka tetapi diakui menjadi bagian dari diri mereka, darah mereka
Rumah itu juga menajdi saksi betapa bebalnya manusia
Semakin sering dia melihat kematian semakin sirna rasa takut di dadanya dan mutilasipun terjadi.
Disana organ-organ titipan itupun di perdagangkan

Rumah yang tidak pernah sakit itu jelas telah membuat orang miskin menjadi sakit
Karena rumah itu juga trampil memainkan angka-angka yang membuat penyakit lama kambuh seketika
Rumah itu adalah rumah pemakaman dan persalinan
Jika kurang waspada persalinan bisa jadi pemakaman
Apakah anda sudah pernah kesana ?

Renungan Pendek, Jakarta 27/05/2009

Selasa, 26 Mei 2009

Sinyal Yang Tidak Pernah Putus


Hujan gerimis membasahi jalan, waktu menunjukan pukul lima lewat empat puluh lima menit, sebentar lagi adzan maghrib segera terdengar. Biasanya bulan ini telah memasuki musim kemarau, tetapi belakangan ini musim seperti sudah tidak teratur lagi. Ada yang mengatakan ini adalah akibat dari pemanasan global. Pada malam hari jakarta mungkin telah mengkonsumsi beberapa juta megawatt agar masyarakatnya leluasa beraktifitas, tidak hanya dirumah, tapi di pabrik-pabrik dan tempat-tempat hiburan malam, hiburannya para kaum hedonis yang dimanjakan Allah dengan uang.
 
Terkadang saya heran mengapa dalam hal yang satu itu Allah sangat menyayangi mereka, teman mengatakan itu adalah istidraj Allah Subhanahu wata'ala kepada mereka, tetapi saya pribadi lebih menganggap itu adalah wujud kasih sayang Allah kepada mereka, soalnya hati kecil saya gak mau jadi seperti anggapan para penceramah yaitu " senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang" , ketika kaum hedonis diberikan kesenangan kita bilang mereka kena istdiraj , tetapi ketika mereka mendapat musibah maka kita bilang mendapat peringatan atau laknat Allah. Ya terserahlah karena hanya Allah  yang maha tahu, tapi hati-hati,  soalnya hati kecil kita tidak bisa di bohongi bahwa mungkin saja ada selipan rasa iri disetiap penilaian kita.
 
"Baru pulang mas Yanto ?" kata saya ketika berpapasan dengan tetangga sewaktu hendak menunaikan sholat maghrib di masjid. " Iya lagi banyak kerjaan nih, bukankah bekerja itu juga ibadahkan mas David" katanya seperti menjelaskan mengapa dia datang terlambat, " ya sudah kalo sempat langsung nyusul aja ke masjid mas Yanto, ayo duluan " kata saya bergegas meneruskan perjalanan. Ada yang menjadi pertanyaan yaitu bekerja seperti apa yang dinilai sebagai ibadah, dan tidak sedikit yang menjadikan alasan ini untuk terus larut dalam pekerjaannya. Segala pekerjaan yang baik yang diniatkan karena Allah semata maka adalah bernilai ibadah, tapi benarkah setiap hari kita berangkat kerja kita telah berniat karena Allah, atau mungkin ada yang beranggapan bahwa bekerja mencari nafkah untuk keluarga otomatis dinilai sebagai ibadah walau tidak didahului oleh niat ? padahal semua amal ibadah tergantung dengan niatnya, mungkin malah sudah banyak yang hafal bunyi dalilnya sehingga tidak benar semua pekerjaan bernilai ibadah jika tidak didahului oleh niat, sama seperti ibadah mahdhoh.
 
Jika kita setiap memulai sesuatu diniatkan karena Allah sambil membaca bismillah, maka bisa diartikan pekerjaan tersebut bernilai sebagai pengingat kepada Allah atau dzikrullah, inilah yang diartikan dengan selalu berdzikir setiap saat, sehingga tidak hanya bermakna sempit yaitu sekedar mendawamkan dzikir baik dihati maupun dilisan karena itu memang sebaik-baiknya dzikir disamping membaca Al Qur'an tentunya. Pembiasaan ini akan menyebabkan kita seperti selalu merasa nyambung, ibarat handphone sinyalnya selalu ada dan tidak pernah terputus sehingga kapanpun bisa dihubungi, lewat ilham dan menghubungi lewat do'a
 
 
 

Informasi yang Dhoif


"Ada dua manfaat yang bisa diambil dari orang lain ", kata Ustadz Abbas didalam  sebuah kajian ba'da maghrib. " Yang pertama adalah jika kita melihat kesalahan orang lain maka jadikanlah itu sebagai contoh agar kita terhindar dari kesalahan yang sama", sambil menarik nafas cukup dalam, kemudian dia melanjutkan " Yang kedua adalah  jika kita melihat kebaikan orang lain maka hal itu bisa dijadikan sebagai contoh untuk melakukan hal yang sama" Ustadz Abbas diam sejenak " Tidak ada manusia yang selamanya benar, dan tidak ada juga manusia yang selamanya salah, karena itulah mengapa ada yang dinamakan dengan pembelajaran, yaitu belajar dalam memaknai sesuatu"
 
Beberapa tahun yang lalu ketika berkunjung kerumah saudara seorang teman di daerah jasinga Bogor, kebetulan teman tersebut telah sampai duluan sedangkan saya dan seorang teman lain menyusul belakangan dan tersasar, kami bertemu dengan seorang bapak untuk menanyakan lokasi desa yang dimaksud. Saat itu cuma ada tiga orang pria sedangkan pemukiman warga sangat jarang di temui karena masih termasuk daerah terpencil. Orang pertama adalah bapak yang akan kami tanya dan yang dua orang lagi sedang mempersiapkan padi yang hendak di bawa pulang karena waktu itu sudah mendekati maghrib. " Saya pernah dengar nama tempatnya tapi kurang tahu arah kesana karena saya lebih lama di kota Jasinga dikampung sini de " kata bapak itu kepada kami " Coba adek tanya sama yang dua orang itu karena mereka sering berpergian dari satu desa kedesa lain yah masih desa-desa sekitar sini sih karena mereka jadi pedagang keramik dari tanah liat kalo musim panen belum tiba " kata bapak tersebut melanjutkan.
 
Jalan didepan ada persimpangan , jika salah arah maka akan mundur jauh kebelakang dan memakan waktu, apalagi hari menjelang maghrib dan mencari alternatif tempat bertanya sangat sulit bererati harus mundur kedesa sebelumnya. Kesalahan kami adalah tidak mulai bertanya pada desa pertama yang ditemui karena merasa jalan hanya satu arah , dan ketika mengetahui bahwa didepan ada persimpangan sedangkan dikiri kanan hanya sawah dan hutan  maka harapan satu-satunya tinggal dua orang pemuda yang dimaksud oleh si bapak ini. " Cuma ada satu masalah dek terhadap dua orang ini, yang memakai topi orangnya suka berbohong yang satu lagi orangnya sangat pelupa, semua saya serahkan kepada adik saja buat memutuskan" kata bapak tersebut sambil permisi pergi meninggalkan kami.
 
Yang satu suka berbohong dan yang satu pelupa, kalau dalam hadist maka kedua informasi orang ini bernilai dhoif, sah dan tidak diragukan lagi kedhoifannya. Sewaktu kami bertanya kepada keduanya mereka menunjuk pada arah yang berlawanan, lengkap sudah mesalah. Apakah pembohong selamanya berbohong dan apakah sipelupa bererati tidak pernah ingat, tentu tidak seperti itu, tetapi  pertanyaannya saat ini mereka seperti itu atau tidak ? saya dan teman jadi berdebat sendiri. Teman lebih suka  memilih si pelupa karena ada kemungkinan dia tidak lupa saat itu, sedangkan saya lebih memilih perkataan si pembohong menurut bapak tersebut karena saya beranggapan apa manfaatnya dia membohongi kami. Akhirnya teman setuju dengan pendapat saya dan Alhamdulillah ternyata arah yang kami tuju benar.
 
Beberapa waktu yang lalu sewaktu kajian hadist , saya bertanya kepada ustadz yang mengajar " apakah ada kemungkinan hadist dhoif yang berasal dari rawi yang nilai suka berbohong adalah hadist yang benar", ustadz tersebunt hanya tersenyum " kemungkinan selalu ada tetapi kemungkinan itu ditinggalkan dalam pengambilan hukum, sedangkan untuk fadhilah amal imam Nawawi membolehkan" jawab Ustadz tersebut denagn bijaksana " Loh kalau ada riwayat yang sahih untuk bisa diamalkan kenapa mesti mencari-cari yang dhoif" kata salah satu peserta pengajian. " Prasangka seperti itu kurang bijak karena tidak ada satu orang ulama pun yang dengan sengaja mencari-cari hadist dhoif untuk diamalkan, tetapi hadist itu telah beredar dan diamalkan , dan kemudian hari baru diketahui bahwa hadist itu dhoif , tetapi karena hanya bersifat amaliyah ada ulama yang membolehkan , itulah yang dimaksud dengan membolehkan bukan mencari-cari kemudian melegalkan, itu hanya prasangka sebagian saudara kita" kata Ustadz tersebut.
 
Selesai pengajian teman berucap " Ciri khas manusia ....kadang disalahkan , kadang menyalahkan, kadang dinilai buruk tetapi lebih sering menilai buruk orang lain, kadang merasa salah tetapi lebih sering merasa benar, pengen dipercaya tapi susah mempercayai orang lain". yah itulah kelebihan manusia dibanding mahluk Allah yang lain.