Jumat, 16 Oktober 2009

Keadilan dan Kejujuran

" Dosa tertua adalah kesombongan ,  bibit dari segala kejahatan adalah ketidak jujuran dan tonggak hidup yang paling susah didirikan adalah keadilan, " kata pak Yanuar kepada anaknya Farid diatas sepeda yang dia kayuh menuju rumah. Pak Yanuar adalah kepala sekolah dasar dan pemuka masyarakat di daerahnya. Dia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif tingkat daerah sewaktu pemilihan umum lima tahun sekali. Pak Yanuar mempunyai dua orang anak laki-laki, yang tertua bernama Hamzah dan yang nomor dua bernama Farid. Kedua anaknya masih duduk dibangku Sekolah menengah pertama. Hamzah kelas tiga dan Farid kelas satu.
 
Tanpa diduga Pak Yanuar akhirnya masuk dalam deretan tim elit nasional itu, anggota legislatif, jabatan yang di perebutkan banyak orang dengan mengorbankan harta benda, tentu saja untuk mendapatkan reward yang lebih besar, pertanyaanya dari mana ? Pak Yanuar berusaha melepaskan diri dari berbagai kepentingan yang memerlukan suaranya untuk melonggarkan pengawasan pada aparat eksekutif. Di dunia politik kolusi menciptakan konspirasi adalah cerita basi dan tidak sedikit yang telah menjadi korban birokrasi tersebut.
 
" Hai rid, kok ayahnya jadi anggota legislatif jadi malah jualan koran, emang gaji legislatif lebih rendah dari gaji kepala sekolah ?" kata teman sekolah Farid yang melihatnya mengantar koran sewaktu akan berangkat sekolah. "Gak juga ,iseng aja", jawab Farid dengan santai. Berbeda dengan Farid, kakaknya, Hamzah justru berbanding terbalik , sejak ayahnya jadi anggota dewan dia jadi lebih dermawan dimata teman-temannya alias sering mentraktir makan. Walaupun berbeda dalam hal pengeluaran tetapi Pak Yanuar tidak pernah membedakan di dalam memberikan belanja buat anaknya.
 
Waktu berlalu tanpa terasa , setelah lima tahun menjabat, Pak Yanuar tidak terpilih untuk periode selanjutnya dan tidak mungkin kembali kepada jabatan lama karena telah di isi oleh orang lain. Hamzah anak pertama telah duduk di bangku perguruan tinggi dan membutuhkan banyak biaya sedangkan Farid duduk di bangku kelas 2 Sekolah menengah atas. Atas beberapa referensi Pak Yanuar berhasil menadapat posisi lama sebagai kepala sekolah sekolah menengah atas di luar kota. Untuk biaya kuliah anaknya Pak Yanuar menjual mobil yang di peroleh dari hasil gaji sebagai anggota legislatif meskipun dia juga mendapat kendaraan dinas. Setelah semua dikembalikan kepada negara Pak Yanuar pindah keluar kota bersama keluarga. Farid ikut serta sedangkan Hamzah kost di Jakarta.
 
Ketika akan berangkat pertama kali ke sekolah tempatnya bekerja Pak Yanuar dikagetkan dengan sebuah sepeda motor didepan rumahnya. Ternyata sepeda motor itu adalah hadiah dari Farid  untuk semua kejujuran ayahnya dalam memegang amanah sebagai anggota legislatif.
" Dulu ayah pernah mengatakan kepada Farid tentang keadilan dan kejujuran dan Farid tidak menghiraukannya" Kata Farid kepada ayahnya, kemudian dia melanjutkan " Ketika Farid lihat ayah bekerja keras mememegang prinsip tadi, maka saat itulah Farid mendapat pengajaran yang sesungguhnya, lalu keadilan seperti apa yang bisa Farid perbuat dimana ayah bersusah payah bekerja lalu Farid menghambur-hamburkan uang hasilnya ?...tidak ...Farid bekerja sama seperti ayah...sepeda motor itu adalah uang jajan yang ayah berikan selama lima tahun ayah menjabat sebagai anggota legislatif.....ayah telah memberikan kebanggaan kepada Farid dan itu sudah cukup" kata Farid dengan mata berkaca-kaca
 
Pak Yanuar hanya tersenyum sambil memandang motor baru didepannya " Bapak berusaha sekeras mungkin menampik pemberian orang sewaktu menjabat dulu, dan Allah telah membalasnya dengan pemberian yang indah Farid, terimakasih nak, Tegakkanlah kejujuran dan keadilan di hatimu, luruskanlah, tolong ingatkan kakakmu kalau dia lupa...tidak ada manusia yang sempurna dalam menyikapi sesuatu" kata Pak Yanuar sambil menarik nafas panjang dan pergi kesekolah bersama motor barunya

Kamis, 15 Oktober 2009

Tanggung Jawab Bersama

Ramadhan yang lalu memang penuh warna, apapun yang tergores didalamnya akan menjadi kisah yang menghiasi hari-hari kita dalam beribadah dan bermuamalah. Apapun tindakan kita yang diniatkan lillahita'ala  maka akan dinilai sebagai ibadah. Qiamul lail yang paling banyak dilakukan manusia memang ada di bulan ini yang disebut sebagai tarawih yang artinya istirahat karena dilakukan istirahat atau jeda beberapa saat setelah salam baik itu setiap dua raka'at maupun setiap empat raka'at. Ada beberapa masjid yang setiap raka'atnya sang imam membaca ayat yang panjang, mungkin di targetkan setiap hari satu juz sehingga jika ternyata puasa genap tiga puluh hari maka genap pulalah AlQur'an di khattam kan.
 
Ketika imam membaca suatu ayat apalagi yang panjang, apa kira-kira yang bisa membuat jama'ah menjadi khusyuk ? Kalau di bilang suasana masjid mungkin bisa, tetapi faktor ekstenal yang lebih banyak mempengaruhi kekhusyuk'an jama'ah adalah bacaan sang imam. Nagham Munsyari Rashid , Sudesh dan Al Gomidy sering dipakai oleh beberapa imam masjid untuk memberikan efek terapi pada telinga  sehingga bisa menggetarkan hati kita ketika sholat. Karena kalau mau jujur tidak banyak dari kita yang mampu memaknai ayat yang dibaca oleh imam, sehingga mengharapkan kekhusuyukan dari pemaknaan memang agak sulit dan memompa kekhusyukan dari dalam diri (internal) tidak setiap saat bisa dilakukan. Tidak salah dikatakan bahwa imam juga memegang peranan penting dalam masalah kekshusyukan jama'ah.
 
" Wah sholat tarawih susah khusyuknya, bacaan imamnya gak bagus , trus panjang lagi, mana dibelakang pada ribut, udara panas, lengkap deh" kata Ucup, " loh justru disitulah nilai ibadahnya" kata Subur berusaha memberikan kesan bahwa bersusah-susah dalam sholat tarawih adalah bagian ibadah juga, terlepas dari bersusah-susah tersebut justru menghilangkan kekhusyukan kita. Kita tidak mungkin bisa melegalkan kesalahan karena keadaan. Sebaliknya kita dituntut untuk bisa menciptakan keadaan yang mampu menghilangkan  kesalahan atau paling tidak meminimalkannya dan hal ini harus didukung oleh semua pihak termasuk para pengurus masjid.

Selasa, 13 Oktober 2009

Pembiasaan Diri

Seorang teman pernah bertanya " Pelajaran apa yang bisa di petik dari sebuah kisah ?" . Saya hanya diam, saya berfikir tentulah didalam kepalanya telah terkumpul beribu jawaban dari para ahli karena dia seorang kutu buku. Teman saya itu seorang yang tekun belajar dan rajin berolah raga terutama olah raga beladiri. Saya menemukan perbandingan yang lumayan menyentuh nalar ketimbang jawaban naratif atau argumen-argumen yang bersifat pribadi, saya bertanya kepada dia " sebenarnya buat apa kita belajar ilmu beladiri, karena pada kenyataannya ketika terjadi pertarunagn yang sesungguhnya gerakannya hampir sama dengan yang tidak atau belum pernah belajar ilmu beladiri " kata saya sok menganalisa " kata siapa , paling tidak dengan sering latihan kita terbiasa mendapatkan gambaran serangan lawan walaupun latihan-latihan kita setiap hari belum tentu sama dengan serangan lawan yang sesungguhnya" jawabnya meyakinkan.
 
Ya, sebenarnya itulah jawaban yang paling mendekati kenyataan " keterbiasaan " sama seperti kata pepatah " ala bisa karena biasa ". Ketika kita telah terbiasa berlatih ilmu beladiri walaupun serangan lawan sangat berbeda dengan apa yang kita latih sebelumnya, paling tidak kita bisa membaca arah serangan dan berusaha menghindarinya. Kisah menempati posisi yang hampir sama dengan perbandingan diatas. Ketika kita sering membaca atau menerima informasi mengenai sesuatu maka tidaklah sama penyelesaiannya dengan seseorang yang belum pernah mengetahui hal itu sebelumnya walaupun kisah yang kita baca berbeda cerita dengan apa yang kita alami
 
Membiasakan diri melakukan hal-hal positif akan menciptakan aura positif pula pada diri kita. Didalam Islam kita sering diajari berdzikir kepada Allah secara berulang-ulang. Proses pengulangan tersebut menciptakan efek keterbiasaan sehingga yang awalnya berat dilakukan akan menjadi tidak merasa terbebani lagi ketika kita telah membiasakan diri melakukannya. Itulah pula sebabnya mengapa puasa pada bulan Ramadhan dilakukan sebulan berturut-turut karena jika kita ingin terus menindak lanjuti hasil puasa pada bulan lain tidak akan terlalu berat lagi, tetapi banyak yang mengabaikannya dan kembali kepada kebiasaan semula. Membiasakan melakukan hal kecil yang bermanfaat hari ini  mungkin bisa menolong kita suatu hari nanti dalam menciptakan sesuatu yang besar, siapa tahu.

Sebuah Pelajaran dari Sholat

Sudah lama kami tidak berkunjung kerumah Pak Soleh, guru agama sewaktu masih sekolah dulu. Sekarang Pak Sholeh sudah pindah ke Ciawi, Bogor dan mengajar di sekolah madrasah disana sambil membuka pengajian pada sore harinya. Lebaran adalah susana yang sangat tepat untuk memperkokoh kembali tali silaturahmi, kebetulan hari itu saya beserta Sugianto, Ali, Kamin dan Jaja  baru pulang dari rumah teman di Cipayung, Bogor, maka seperti kata pepatah ' sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui ' kami pun mampir ke rumah Pak Soleh. " Assalamu'alaikum, ada Pak Sholeh " sapa kami kepada seorang pemuda di depan rumah Pak Soleh, mungkin tetangga atau saudaranya. " Wa'alaikum salam, Pak Soleh masih ada di musholah belakang belum pulang dari menunaikan sholat Dzuhur" jawab pemuda tadi. " Ya udah sekalian saja kita ke musholah, kita kan belum sholat Dzuhur " Kata Jaja yang di iyakan oleh yang lain. Setelah di tunjuki arah kemusholah kamipun permisi kepada pemuda tadi.
 
Sewaktu kami tiba, Pak Soleh masih sholat, dan kamipun berwudhu lalu sholat berjama'ah sendiri, tidak bermakmum pada Pak Soleh karena takut mengganggu kekhusyu'annya disamping itu kami juga mengira dia saat itu sedang sholat sunnah ba'da Dzuhur karena tidak ada orang lain disana. Ternyata setelah kami selesai sholat, Pak sholeh masih belum selesai juga. Antara berdiri, rukuk, sujud dan duduk iftirasy sama lamanya. Setelah selesai kami menghampirinya  dan Pak sholeh sempat kaget sewaktu bertemu kami , murid lamanya. " Tadi kami datang Pak Soleh masih sholat ..eh pas kami selesai sholat Pak Soleh masih belum selesai juga " kata Sugianto menerangkan waktu kedatangan kami. " Tadi waktu berjama'ah ada banyak kepentingan jama'ah yang harus kita kedepankan, padahal perasaan ingin berdua itu belum hilang ,nah sholat sunnah adalah waktunya " kata Pak Soleh menerangkan, " Loh bukannya sholat sudah ada bacaannya " tanya Jaja penasaran " benar tapi sholat bukan sekedar membaca tapi juga merasakan, jika ingin khusyu' jangan membaca sebelum merasakan ketenangan dan merasa seperti berhadapan dengan sesuatu, sebenarnya tidak ada bacaan disana yang ada hanyalah pujian dan doa dan salah satu adab dari memuji dan berdoa adalah tidak tergesa-gesa " kata Pak Soleh dengan tenang sambil tersenyum memegang pundak si Jaja.
 
"maling..maling.." teriak penduduk diluar musholah yang sedang mengejar seorang pencuri, kami keluar untuk melihat dan ternyata pencuri itu telah tertangkap. Dia ketahuan hendak mencuri sepeda motor yang di parkir di depan rumah seorang warga. " Ampun pak...ampun..tolong jangan pukul saya..." keluh si pencuri yang di hajar masa, utung ada hansip yang mengamankannya untuk di bawa ke pos polisi terdekat. Pak Soleh memangdang kearah kami " Pernahkan kalian melihat ada yang minta ampun seperti itu kepada Allah ?" tanya Pak Soleh. " Mungkin nanti kalau sudah masuk neraka baru minta ampun kayak gitu Pak...sekarang sih gak ada ..lagi pula nanti kelihatan  aneh lagi Pak" jawab Kamin. Pak Soleh hanya tersenyum mendengarnya " Tuhan memang belum menjadi sesuatu yang nyata bagi sebagian orang, laksana patung yang disembah dan diam dalam kesendirianNya, itulah sebabnya dalam agama Islam , Allah tidak bisa dipersepsikan dengan segala sesuatu laitsa kamitslihi sai'uun, DIA maha melihat apa kita perbuat, masalahnya apa yang kita sebut sebagai keimanan itu adalah keyakinan atau sekedar pernyataan" kata Pak Soleh menerangkan sama seperti waktu dikelas.
 
Dari musholah kami menuju rumahnya, " Bu nih ada tamu, murid bapak dulu " kata Pak Soleh kepada istrinya " tolong siapin makan siang bu biar sekalian makan sama anak-anak ini " pinta Pak Soleh, " Pak tadi , waktu kepasar dompet ibu jatuh jadi gak sempat belanja deh, ada sayur tahu doang beli dari Kang Karyan yang biasa lewat, tapi masih ngutang" desah istrinya pelan, tapi kami masih bisa kami dengar " Ya sudah gak apa-apa  hidangkan apa yang ada sajalah, yang penting bisa menjamu tamu kita bu" sahut Pak Soleh menenangkan istrinya. Baru saja makanan di hidangkan pintu diketuk " Bu ...ini masakan yang saya bilang tadi tolong dicicipin ya...kalau gak enak diem-diem aje namanya juga lagi belajar  " kata Ibu muda yang datang membawa semangkok opor Ayam " Terimakasih Bu Rina..jadi repot-repot, kan tadi cuma bercanda " sahut istrinya Pak Soleh yang kemudian masuk menghidangkan opor tadi kehadapan kami " Nih ada tambahan rezeki, silahkan di coba " katanya sambil masuk kedalam. Pak Soleh hanya diam, dia tidak berusaha menasehati kami padahal apa yang kami saksikan adalah salah satu cara kerja Allah terhadap hambaNya, mungkin Pak Soleh ingin kami menelaah sendiri kejadian tersebut atau dia tidak ingin ujub dalam kedekatannya dengan Sang maha pencipta.
 
Kami pulang dari rumah Pak Soleh sehabis sholat Ashar dan menuju perapatan Ciawi menuju kampung rambutan. Kami menunggu bis di dekat sebuah klinik 24 jam karena disana tidak ada pemberhentian bis. Kami menunggu bis dari arah Sukabumi yang menuju Kampung rambutan atau Pulo Gadung. " Bu ani nemu dompet dipasar " teriak seorang anak perempuan kepada seorang ibu yang sedang menggendong anak kecil " Alhamdulillah ternyata ada juga rezeki untuk berobat, tapi yang punya siapa nanti dia nyariin lagi" kata sang ibu kepada anaknya " Gak ada apa-apa bu ini mah dompet belanja doang, " kata anak tersebut sambil memberikan dompet itu kepada ibunya. " mmm iya sih cuma ini ada fotonyanya di plastik luar mungkin ibu ini yang punya dia kali yah, ya udhlah tak pinjam dulu deh nanti biar Allah yang ganti" kata ibu tersebut sambil memasukan dompet tersebut kekantongnya, saya sempat melihat wajah di cover luar dompet itu samar seperti wajah istrinya Pak Soleh, tapi kami hanya diam saja , sesuatu berkecamuk didada, antara mendiamkan atau melibatkan diri dalam masalah tersebut dan kami memilih mendiamkan.
 
Sampai menjelang maghrib kami belum juga mendapat bis, kalaupun ada selalu saja penuh, mungkin Allah tengah mendiamkan kami karena hanya diam saja ketika mengetahui ada sesuatu yang bisa diluruskan fikir kami. Sehabis sholat maghrib kami mencari alternatif lain yaitu menuju terminal Baranangsiang untuk langsung ke Pulo gadung, akhirnya kami baru dapat bis setelah Sholat isa lewat terminal Baranangsiang Bogor. dan sampai dirumah jam 9 malam, saat itu kami telah berburuk sangka kepada Allah karena mengira Allah telah menghukum kami ternyata ayah saya sampai jam 10 malam masih terjebak di tol jakarta-Bogor sepulang dari Bandung sejak jam 2 siang. Dia mengatakan telah terjadi kemacetan total karena ada tabrakan antara truck dan minibus.
 
Keeseokan harinya saya menelpon Pak Soleh dan menceritakn kejadian kemaren sepulang kami dari rumahnya. " Sudah lupakan saja masalah dompet itu kami sudah mengikhlaskannya dan ternyata ada yang lebih membutuhkannya, untuk kalian semua satu yang bapak pesan yaitu jangan pernah meletakkan Allah dikepala kalian melalui apa-apa yang kalian fikirkan tapi letakkanlah dihati kalian Karena Allah dekat dengan nurani orang-orang yang beriman, karena orang yang benar memandang Allah didalam sholatnya insyaAllah akan benar pula memandang Allah di luar sholatnya " katanya diujung telepon dan saya hanya mengiyakan dari jauh.
 
Saat ini ketika saya berhadapan denganNya, saya tidak lagi pernah memfokuskan fikiran, karena semakin fikiran di fokuskan semakin berontaklah dia, bahkan selama sholat kita tidak lagi fokus kepada Allah tetapi lebih sering fokus pada bagaimana caranya khusyuk, sama seperti orang yang terburu-buru sholat hanya untuk mendengarkan ceramah yang berisi bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah, padahal dia baru saja mengabaikan Allah lewat sholatnya. Sholat bukanlah membaca tapi memuji dan berdoa, sholat adalah merasa, sholat adalah kepasrahan bukan ketergesa-gesaan inilah ibadah yang pertamakali dihisab di yaumil akhir.

Sabtu, 03 Oktober 2009

Kita Ada Dimana ?




Apa yang diharapkan dari sebuah kehendak ? Apapun yang kata yang telah kita susun dan bagaimanapun kita mengungkapkan sesuatu, maka tidak akan mampu menggambarkan cerita dibalik sebuah kehendak. Ketika Allah telah berkehendak, maka tiba-tiba akal dan fikiran manusia berusaha menyesuaikan posisi pandangannya menurut kadar akalnya tentang kehendak Sang maha pencipta.

Kita bisa saja mengatakan itu sebuah musibah, yang lain berkata itu sebuah cobaan. Yang satu mengajak membantu yang lain mengajak introspeksi. Yang satu hanya menonton yang lain sibuk menyalahkan. Yang satu tergerak menggalang bantuan yang lain terpana kebingungan. Yang satu tidak perduli yang lain berusaha mengumbar simpati. Allah hanya diam mengamati. Kita adalah kumpulan jiwa yang sibuk mengurus diri sendiri. Musibah adalah sapa untuk bisa saling peduli. Tuhan seperti bersabda lewat pergerakan alam " Silahkan kalian tidak perduli kepadaKU karena AKU telah mempersiapkan masa pertanggung jawaban nanti tapi berpeganglah pada sekelilingmu karena ada disana ada saudara untuk sekedar perduli kepadamu"