Rabu, 25 Februari 2009

Salam semua untuk semua temanku

Postingan ini memang tidak di peruntukan bagi milist seperti yang biasa saya lakukan, tetapi sekedar menyapa yang telah berkenan mampir ke blog saya.
satu dua hari ini memang saya agak jarang menulis artikel mungkin bukan karena sibuk tapi lagi terpecahnya konsentrasi untuk beberapa fokus pengerjaan sesuatu pembelajaran termasuk blogging juga yang gak pernah ada kemajuan.
 
Belakangan ini saya juga jarang mendapat support dari teman sekalian, gak tahu kenapa seperti ada saja yang kurang apa mungkin karena manusia itu tidak pernah merasa cukup kali yah, mungkin juga, tapi mungkin juga karena kita memang terkondisi sebagai masyarakat sosial, jadi self esteem kadang-kadang suka muncul sendiri itu juga mungkin atau ada kemungkinan lain
 
jadi, di tunggu masukannya yah, atau tegur sapanya....atau apalah
 
Salam persahabatan
 
David
 
note : hampir lupa ada percobaan blogging baru di www.komunitasspritual.blogspot.com  linknya juga ada di blog ini berisi artikel dari beberapa orang yang saya anggap cukup bagus atau berkompetent atau mungkin juga tulisan anda. Coba hubungi saya nanti akan saya kasih alamat email yang ketika di posting akan langsung masuk ke blog tersebut secara otomatis ya ajang tulis menulis lah , terimaksih yah

Senin, 23 Februari 2009

"Unread" email

Ranah pemikiran setiap orang memang beragam, begitu pula dengan ketertarikannya dengan pemikiran orang lain. Ada orang sangat gemar dengan dunia politik sehingga apapun di identikan dengan kegemarannya tersebut seperti Politisasi Islam, Politisasi ekonomi, Politisasi Dakwah, Sastra Politik sampai mungkin kajian syariah politik. Ada juga yang lebih memfokuskan pada masalah ekonomi, masalah hukum, masalah sastra dan seni,  dan sebagainya.
 
Anggapan miring sering muncul ketika apa yang di jabarkan orang lain tidak sesuai dengan ketertarikannya pada masalah tersebut namun disisi lain masalah tersebut tetap di hidangkan kepadanya dan pilihannya adalah menelan atau membuangnya. Tetapi ada juga yang berusaha menelan lalu kemudian memuntahkannya, ini yang terkadanag cukup menyakitkan bagi si penghidang. Mungkin cara yang elegan adalah dengan menyimpan sementara sampai suasana hati memanaggil untuk mencernanya secara perlahan.
 
Dari dua paragraf pembukaan diatas mungkin sudah ada sebagian yang mau muntah karena merasa arah tulisan ini tidak sesuai pengharapannya ketika pertama kali membaca. Justru hal inilah yang menjadi subjek bahasan yaitu " Jangan katakan tidak ketika anda tidak menyukai sesuatu, letakan saja,  sampai suatu hari dimana hal-hal yang anda sukai mulai menghilang maka dia akan datang untuk menyapa anda"
 
Hari itu, sekitar satu tahun yang lewat seperti hari-hari sebelumnya Samboja menerima beberapa email dari sahabat pena (penpal) yang bercerita mengenai keseharian mereka dalam bertukar pengalaman, namun hari itu Samboja sedang malas membaca email yang menurutnya isinya sekedar basa basi dan lebih memfokuskan browsing pada masalah " Financial Freedom" yang di populerkan oleh Robert T Kiyosaki, penulis favoritnya.
 
Ramadhan teman satu kosnya sering menjadi tempat curhat Samboja termasuk mengenai para penpal yang selama berhubungan denagnnya  dan salah satunya yang paling dekat bernama Nurmala. Samboja tidak pernah tahu bahwa secara sembunyi ternyata Ramadhan sering mengirim email ke Nurmala, wanita asli Jakarta yang sedang kuliah di Malaysia. awalnya hanya sekedar mewakili Samboja yang jarang membalas email dari Nurmala lama-kelamaan mereka membuat cerita sendiri di luar episode yang pernah di rangkai oleh Samboja.
 
Dua minggu yang lalu Samboja menerima undangan pernikahan dari Ramadhan yang akan berlangsung di Wates Jawa Tengah di kampung Ramadhan dengan wanita pujuaanya. Pada Undangan tersebut tercatat bahwa hari akad akan berlangsung  tiga hari lagi, masih ada satu hari untuk cari dana kesana pikir Samboja. Sambil melihat kartu undangan berwarna biru muda samboja melihat nama mempelai wanita tertulis Nurmala Santika Dewi, sebuah nama yang tidak asing di telinga Samboja. Perlahan Samboja mulai melihat email-email lama, memang hampir satu tahun Samboja tidak melihat email yang sudah membanjir karena disibukan dengan rangakain kegiatan setahun terakhir yaitu skripsi, wisuda dan melamar pekerjaan.
 
Beberapa email dari Nurmala masih berstatus "unread". Satu persatu email dari Nurmala dibuka ternyata feeling Samboja benar bahwa Nurmala yang akan di nikahi Ramadhan adalah Nurmala sahabat penanya. Beberapa kali Nurmala menceritakan bahwa Ramadhan sering menghubunginya baik melalui email maupun telepon, dan inilah isi surat terakhir dari Nurmala
 
Buat Kak Samboja,
 
Beberapa kali Nur mencoba menghubungi kak Sam tapi tidak pernah ada balasan, Kak Ramadhan bercerita bahwa kak Sam masih di sibukan dengan lamaran-lamaran pekerjaan setelah beberapa waktu lalu kakak di wisuda, itupun tanpa ngasih tahu Nur, tapi gak apa-apa. Seperti ada yang hilang memang, soalnya Nur memang mebutuhkan seseorang untuk memberikan semangat untuk tetap bertahan di negeri orang dalam mencari ilmu seperti yang dulu kak Sam sering lakukan, apalagi jurusan kita sama yaitu Hubungan Internasional.
 
Belakangan ini kak Ramadhan mulai menggantikan posisi kak Sam, mungkin kak Ramadhan pernah cerita, atau ngga ? gak taulah soalnya Nur gak bisa mengkonfirmasi sama kakak. Walau awalnya agak canggung karena tentu saja kakak paham bahwa tidak mudah berkeluh kesah pada setiap orang secar bergantian karena di butuhkan kepercayaan, seperti kepercayaan Nur sama kak Sam yang sudah seperti kakak Nur sendiri.  Namun karena kakak Ramadhan ternyata orang baik , jadi apa salahnya toh dia juga teman baik kak Sam.
 
Seiring perjalanan waktu, hubungan Nur sama kakak Ramadhan sudah semakin dekat dan terakhir .......tentu kakakakan kaget membacanya ....ya dia mau melamar Nurmala...gimana pendapat kakak....balas yah
 
Salam dari  Nurmala
 
Email terakhir tersebut masuk sekitar dua bulan yang lalu. Mata Samboja menatap langit-langit kamar melihat sebuah skenario Allah kembali terjadi lewat rangkian kata dan kelincahan jari jemari menekan tuts komputer yang menjadi saksi bisu drama kehidupan manusia.
 
 
 
 
  

Rabu, 18 Februari 2009

Cerita Lama

Kembali fikiran terbang kemasa delapan belas tahun yang lalu, masa-masa sekolah. Kata orang masa itu adalah masa yang paling indah, mungkin ada benarnya juga karena disana ada persahabatan, cerita cinta dan lainnya yang susah untuk dilupakan. Goresan tinta takdir memang membuatku terdampar di suatu sekolah yang tidak ada dalam rekayasa cita-citaku yang melulu berhubungan dengan lukis melukis atau desain yang aneh-aneh lewat grafis komputer ( padahal waktu itu komputer grafis belum banyak beredar dimasyarakat umum selain aplikasi wordstar, lotus123, dan DBaseIII).
 
Walaupun kelas berpenghuni hampir empat puluh orang tetapi kaum adam yang hidup bergerombol sebagai kaum minoritas dikelasku hanya berjumlah tujuh kepala sewaktu kelas satu, menjadi enam kepala sewaktu kelas dua dan berakhir di lima kepala sewaktu kelas tiga, benar-benar termarginalkan sampai benar-benar tersingkir dari kelas tetapi bukan karena tidak naik kelas tetapi karena menggelapkan uang sekolah dan memalsukan tandatangan dan stempel bagian administrasi. Sebuah kejahatan terencana, cikal bakal korupsi yang waktu itu belum negtop seperti sekarang.
 
Sebagai kaum minoritas, kebersamaan memang sangatlah penting terutama karena empat diantara kelima orang tersebut adalah 'fresh urban' atau anak perantauan yang hidup tanpa orang tua ditanah pengharapan dan yang satu lagi walupun sama-sama urban tapi sudah dia sudah tidak fresh lagi dan orang tuanya komplit menemaninya setiap hari , orang yang satu itu ya aku ini.
 
Seminggu sebelum ujian, kami memutuskan untuk jalan-jalan keancol dengan dana yang minim, maklum semua anak pekerja yang meliburkan diri sebelum pertempuran dimulai. Sesampai di ancol semua terlihat letih dan berusaha mencari tempat beristirahat dan ketemu. Sepuluh menit kemudian datang seorang petugas menegur kami " Mas apa tidak melihat tanda larangan di papan ini " kata petugas tadi , dengan mata agak melotot " Loh emang bapak tidak bisa baca pake nanya kami segala " kata Sugianto merasa tidak bersalah " Loh kok jadi galakan kamu udh jelas salah lihat dan baca DILARANG MENGINJAK RUMPUT" seru pak petugas mulai naik darah. " Itu bapak bisa baca, kan bapak tahu kami tidak sedang menginjak rumput tapi kami sedang tidur diatas rumput"  kata Sugianto sambil cengengesan.
 
 
 

Selasa, 17 Februari 2009

Prasangka Yang Memepersempit

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : "Ketika Allah menciptakan makhluk, Allah menulis di dalam kitabNya, Dia menulis atas diriNya, Dia meletakkan di sisiNya pada Arasy : "Sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemurkaanKu". (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
 
Setelah lama berkutat dalam pemenuhan hidup mencari sesuatu yang di anggap layak namun tidak pernah mencapai ujung, seorang teman mulai jenuh dan mengeluh dengan berbagai rutinitas yang banyak menyita waktunya. Saat ini dia berniat meluangkan waktu memperdalam ajaran agama yang dianutnya secara tidak sengaja karena terlahir dari orang tua yang menganut agama Islam. Dia pernah berseloroh " enak juga ya punya orang tua muslim begitu lahir langsung dijamin masuk surga masalah mampir dulu ke neraka urusan lain lagi tapi jaminannya itu loh sedangkan bayi yang terlahir dari agama lain masih fifti-fifti gak jelas tergantung hidayah dari Allah .....rasanya sih ada yang aneh tapi ...ya sudahlah terima enaknya aja "  celotehnya sambil tersenyum senyum.
 
Waktu itu saya memang belum mau membahas masalah tersebut dan membiarkannya bermain dan menjelajah  dunia yang baru dimasukinya. Pemahaman yang dirasa aneh oleh sahabat tadi pun sebenarnya dipahami oleh tidak sedikit ummat Islam, dan hal ini juga dipahami oleh umat lain secara berbeda seperti pemahaman umat Yahudi yang menganggap ummat selain mereka seperti sampah atau bahkan binatang.
 
Beberapa hari kemudian sahabat tersebut kembali mengeluh, dia berkata ketika ikut salah satu pengajian dia dihadapkan dengan berbagai larangan yang berujung kata neraka, bahkan sekarang beberapa celana panjangnya di titipkan di tempat Pak Thamrin tukang jahit dekat masjid  untuk di potong beberapa senti sesuai kaidah tempat pengajian yang baru dimasukinya. Dia diajak oleh salah seorang teman kantornya yang memang telah lama mengikuti pengajian tersebut.
 
Sahabat tadi bertanya apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang masuk neraka, tentu saja jawabannya cuma satu yaitu dosa, namun kriteria dosa memang bermacam-macam dan secara garis besar yang menyebabkan dosa ada dua yaitu melanggar perintah Allah  dan melaksanakan laranganNya jawab saya terhadap sahabat tadi yang masih bergelayut dengan sketsa neraka di kepalanya, namun jangan dilupakan bahwa ampunan Allah juga sangat luas kata saya kepada sahabat tadi yang mulai tampak ceria
 
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. dalam menceritakan apa yang (datang) dari Tuhannya Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : "Seorang hamba berdosa dengan suatu dosa, ia berkata : "Wahai Allah, ampunilah dosaku". Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman : "HambaKu berdosa dengan suatu dosa, ia mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menuntutnya". Kemudian ia kembali dan berdosa, ia berkata : "Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku". Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman: "HambaKu berdosa dengan suatu dosa, ia mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menuntutnya". Kemudian ia kembali berdosa, dan berkata : "Wahai Tuhanku, ampunilah dosa saya". Lalu Dia Yang Maha Suci dan Maha Besar berfirman : "HambaKu berdosa dengan suatu dosa, lalu mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menuntutnya. Berbuatlah apa yang kamu kehendaki, Aku telah mengampunimu". (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
 
 

Senin, 16 Februari 2009

Fardu Kifayah

Hari itu hujan rintik-rintik, pengumuman dari masjid terdengar bahwa salah satu warga RT sebelah ada yang meninggal dunia. Karena rumah tidak jauh dari masjid saya sempatkan untuk turut serta mensholatkan mayit. Terlihat pak Hendi sedang asyik bermain dengan anaknya, " Pak Hendi mau kemasjid sama saya ?"  tanya saya, kebetulan payung yang saya bawa agak lebar, " Terimakasih pak, gak usah,  kan yang sholatin udah banyak jadi kewajibannya sudah gugur toh, salam aja sama yang lain ya " serunya dari balik pintu.
 
Mayoritas ulama memang sepakat menetapkan sholat jenazah sebagai fardu kifayah.  Secara garis besar makna fardu kifayah adalah  suatu perkara wajib yang harus dilakukan oleh sekelompok orang (masyarakat umum), apabila perbuatan itu dilaksanakan oleh sebagian orang dari kelompok masyarakat itu maka gugurlah kewajiban atas masyarakat lain disekitarnya. Jika kita lihat makna dasar sesuatu yang wajib atau fardu yaitu di kerjakan berpahala dan di tinggalkan berdosa maka sebenarnya istilah ini menjadi tampak rancu jika pengetahuan atau informasi telah sampai.
 
Jika kita telah mengentahui bahwa ada orang lain yang mengerjakan fardu kifayah  maka tentu namanya bukan lagi bersifat wajib bagi kita tetapi jadi sunnah, dengan kata lain kewajiban itu jatuh ketika kita tidak mengetahui keberadaan orang yang akan melaksakannya, dan pertanyaan lanjutan apakah sama posisi meninggalkannya secara sengaja dengan meninggalkannya tanpa sengaja ?
 
Islam tidak pernah mempersulit ummatnya dalam menjalankan perintah agama, akan tetapi mencari-cari jalan termudah juga bukanlah cara bijaksana. Di beberapa artikel sebelum ini pernah saya kutip ucapan Ustadz Najib, guru tempat saya menggali secuil ilmu dan kali ini saya coba mengutip kembali bahwa manusia itu di hijab oleh dua hal yang pertama oleh ego atau hawa nafsunya yang kedua oleh pengetahuan atau akalnya
 
Rasulullah SAW pernah bersabada "Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara' yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar". (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)