Budi. : wan apa bekal yang kamu bawa nanti pas mati?
Iwan. : liat nanti aja
Budi. : bukan nya mesti di persiapkan dari sekarang?
Iwan. : kamu saja
Budi. : loh kok gitu?
Iwan. : iya, aku nunggu transferan mu ajah
Budi. : kok bisa gitu
Iwan. : iya lewat prasangka mu padaku
Budi. : kamu gak takut mati
Iwan. : gak, katanya kamu Udh mempersiapkan diri, kok masih takut?
Budi. : kamu kelewat percaya diri wan
Iwan. : karena aku gak percaya diri ku maka aku gak mempersiapkan nya, udah lama dia nipu aku
Budi. : tapikan beramal ibadah penting wan
Iwan. : aku gak tau penting apa nggak, aku hanya berbuat saja, dari Dia semua penting
Budi. : kayaknya kamu susah di ingetin ya wan
Iwan. : 😃😃😃 aku masih ingat kamu kok bud
Budi. : maksudnya nasehatin kamu itu susah
Iwan. : berat kamu nggak akan sanggup, biar aku saja
Budi. : ??????
Iwan. : 😃😃😃
Jika kita berfikir hidup itu untuk berbagi maka anda pasti mengerti bahwa keberadaan anda sekarang sangat berharga
Jumat, 16 Agustus 2019
Rabu, 14 Agustus 2019
Warna Fikiran
Apakah kalau kita tidak berfikir kehidupan yang kita jalani akan berhenti ? tidak, dia akan terus berjalan, baik kita memikir kannya atau tidak.
Apakah rezeki seseorang akan berhenti jika dia tidak memikirkannya ?, tidak , dia akan terus hadir baik di fikirkan atau tidak. Lalu apa fungsi fikiran ? bukankah manusia di berikan fikiran untuk memudahkannya menjalani hidup ?
Selasa, 13 Agustus 2019
Kilas Balik
Waktu seperti digulung cepat, berputar mengikuti usia, lembaran kisah telah kita Lewati, kejadian yang silih berganti terus mengukuhkan bahwa segala sesuatu tidak ada yang abadi , namun tidak semua cerita yang telah berlalu bisa terobati, tetap ada bekas yang di tinggalkan sewaktu kita mengingat nya.
Jumat, 20 Agustus 2010
Aqidah Dalam Ahlaq
Ilmu seperti gerbang pintu menuju sebuah alam misteri. Munculnya temuan-temuan yang bermanfaat bagi kehidupan merupakan pijakan dari ilmu, namun dibalik itu ada juga ilmu yang bersifat pengetahuan yang penyingkapannya memerlukan bukti atau ilmu tambahan dalam menegaskan keyakinan. Perang opini sering terjadi pada ilmu terakhir ini dengan membawa 'perasaan' sebagai embel-embelnya.
Untuk Seorang Sahabat
Andika terus berlari menerobos barisan anak-anak sekolah dasar negeri sebelas saingan terberat sekolahnya, sekolah dasar negeri sembilan. " Kemenangan bukanlah tujuan kalian berlomba, tapi menunjukan kepada diri kalian sendiri bahwa kalianpun bisa berprestasi !" kata guru oleh raga beberapa saat sebelum lomba, yang terus terngiang di telinga Andika. Kaki andika terus berpacu dengan kaki-kaki lain dalam ajang lomba lari antar sekolah, memperebutkan piala dari bupati, berupa uang tunai senilai satu juta lima ratus ribu rupiah dan seperangkat peralatan sekolah untuk juara pertama. "Ayo Dika cepat kita maju bersama ke garis 'finish'" teriak Sena dari samping, yang telah berhasil menerobos anak lain dan memimpin lomba bersama Andika.
---------------------------------
---------------------------------
"Mengetahui" Keinginan
Manusia selalu di warnai dengan keinginan, apapun bentuknya. Manusia tanpa keinginan adalah manusia yang tidak bisa mewarnai hidup, kata seorang teman. Mungkin ada benarnya, bahwa keinginan bisa memacu semangat untuk berusaha, seperti keinginan untuk mendapatkan rumah, mobil, anak dan lainnya. Salah seorang teman yang sudah cukup matang dalam usia sewaktu di masjid di tanya tentang keinginannya, dia menjawab ingin menjadi orang yang bertaqwa. Ada lagi seorang bapak yang hanya memiliki seorang anak, ketika di tanya tentang keinginannya dia menjawab kalau dia ingin melihat anaknya 'semata wayang' itu bahagia.
Selasa, 10 Agustus 2010
Cinta Dalam Sepotong Wacana
Pengetahuan berasal dari pengalaman yang di bakukan untuk di informasikan kepada orang lain. Belajar membuat mobil berarti merunut ulang pengalaman sang penemu mobil, tetapi belajar tidak akan menghasilkan mobil, karena mobil itu ada karena di buat atau karena hasil dari berkerja. Hadist adalah sunnah yang dibukukan, jadi belajar memahami sunnah mestilah melalui hadist, tapi hadist bukanlah sunnah. Hadist baru bermanfaat setelah di amalkan. Apa yang di sebutkan tadi adalah gambaran sederhana antara mengetahui dan mengalami. Lalu apa yang telah kita ketahui tentang masalah keTuhanan ? dan proses apa yang telah kita alami dalam menanamkan keyakinan kita ? belum banyak yang bisa menjawab selain membeberkan rentetan teori yang bersifat " tahu"
Rabu, 03 Maret 2010
Pemimpin Yang Perduli
Dari atas salah satu gedung di daerah Gatot Subroto terlihat banyak orang berkerubung dibawah, berteriak-teriak, membawa yel-yel yang bertuliskan inspirasi mereka. Didepan mereka terhampar sebuah gedung berkubah tempat para petinggi negeri ini mempertaruhkan harapan rakyat. Ditelevisi terlihat kegaduhan yang sama dengan yang terjadi diluar, semuanya bercerita dengan mengatas namakan rakyat, entah rakyat yang mana. Di negeri lain di ujung sana sedang terjadi gempa dan tsunami jilid dua yang mengakibatkan rakyatnya saling menjarah kebutuhan pokok. Berbagai kejadian di belahan bumi manapun selalu akan berdampak pada peletakan sejarah yang akan datang mengenai kondisi bumi ini beserta isinya, bumi yang sebentar lagi akan mengakhiri masa kerjanya.
Amalan Yang Sederhana
"Innamaa amruhuu idzaa arada say'an 'an yakulalahu kun fayakun" Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. Dunia seperti berputar dalam sekejab. Ayah yang tadinya seorang yang mempunyai jabatan kepala cabang disebuah perusahaan swasta dengan berbagai fasilitas mendadak berhenti bekerja. Perusahaannya bangkrut. Anak-anaknya dahulu telah terbiasa hidup dalam kemapanan untuk ukuran sebuah kabupaten. Hal ini membuat ayah berpikir panjang dan ayah seperti ingin mendidik kami dengan memulai semuanya dari awal. Kami berangkat ke ibu kota tanpa membawa bekal apapun. Rumah beserta isinya dititipkan ayah kepada paman.
Dikota kami mengontrak pada sebuah rumah tiga petak, ukuran standard kontrakan di ibu kota. Beberapa waktu berjalan kehidupan kami tidak berubah, sisa uang pesangon tidak bisa bertahan lama. Hari itu aku melihat ayah berpakaian sangat rapi, seperti orang yang sedang berangkat kerja kekantor. Awalnya aku senang karena akan bisa membeli ini dan itu yang aku mau, apalagi aku akan naik kelas lima begitu juga dengan tiga orang adiku. Ayah selalu berangkat setelah sholat subuh dan pulang setelah larut malam. " Tidak banyak yang bisa di peroleh hari ini bu " desah ayah kepada ibu. Mereka mengira semua anaknya telah tidur, tapi masih terjaga meski tetap dalam keadaan terbaring dan membelakangi mereka. Aku bertekad membantu mereka, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan ku sendiri.
Keesokan harinya aku berjualan koran di terminal bis pulo gadung dan terkadang pindah keterminal lain karena di terminallah tempat paling ramai pembeli. Hasil dari jualan koran aku tabung untuk biaya sekolah dan beli buku yang sering di suruh oleh ibu guru. Suatu hari secara tidak terduga aku melihat ayah di terminal kampung melayu. Dia menjadi sopir mikrolet jurusan gandaria. Aku tidak mengerti mengapa ayah memilih perkerjaan ini mungkin juga karena ijzahnya cuma sampai tingkat SMU tetapi Dia mempunyai pengalaman hampir dua puluh tahun berkerja dikantor dan sempat beberapa tahun menjabat sebagai kepala cabang, mengapa tidak dia gunakan ?. Entahlah, yang jelas hari itu aku marasa kasihan dengan perubahan hampir seratus delapan puluh derajat. " Bu, ibu mau kemana ?" tanyaku pada seorang ibu di ujung jalan agar ayah tidak melihatku " ke Gandaria memang kenapa tanya-tanya" jawab ibu itu penasaran. " Ibu naik antrian paling belakang saja ya bu, tolong" pinta saya pada ibu itu. " Loh memangnya kenapa ? bukannya malah jadi lama" ibu itu semakin penasaran", aku hanya tertunduk " Karena angkutan itu yang membawa adalah ayahku" jawabku dengan pelan. Begitulah terus aku bertanya kepada setiap orang yang lewat. Aku ingin angkutan ayahku selalu penuh agar ayahku senang.
Malam harinya ayahku mendapat laporan dari ibu yang di beritahu oleh teman bahwa aku tidak masuk sekolah hari itu. Ayah memukul kakiku karena dikira sibuk bermain seharian sampai lupa sekolah, aku tidak peduli, aku tetap bahagia karena telah bisa membantu ayah. Beberapa tahun berlalu aku tidak berubah menjadi orang hebat seperti di banyak buku. Aku hanyalah pegawai kecil pada sebuah perusahan kecil di Jakarta. Sewaktu ibuku meninggal dunia, aku berusaha merawat ayahku sebaik-baiknya beserta adik-adiku yang mulai bisa mandiri. Mata Ryan masih basah mengenang perjalanan hidupnya. Masjid memang tempat bersilaturahmi paling layak bagi sesama muslim. Saling nasehat menasehati agar kita bisa tetap dijalanNya.
Mungkin karena sering di pukul oleh ayahnya dulu , kaki Ryan tampak agak pincang ketika berjalan entahlah yang jelas hampir setiap hari dengan berjalan terbata-bata ia memapah ayahnya kemasjid untuk sholat berjamaah atau berkeliling komplek pada pagi hari menghirup udara segar ciptaan Tuhan. Mungkin tipe orang seperti Ryan bukanlah tipe orang seperti Abdurrahman bin Auf yang rajin bersedekah dengan hartanya atau Utsman bin Affan yang juga pengusaha atau sahabat yang punya amalan hebat seperti Abu Bakar As siddiq dan Umar bin Khattab. Mungkin gambaran sederhana yang bisa disandingkan hanyalah Uwais Al Qarni , sosok pemuda yang pernah dimintai doa oleh Ali ra dan Umar ra atas perintah dari Rasulullah, padahal dua orang sahabat itu sudah dijamin masuk syurga.
Salam
David Sofyan
Kamis, 18 Februari 2010
Jiwa Yang Tenang
Melintasi hari yang tak menentu, terkadang terik seperti memanggang kulit dan terkadang hujan menyapu jalanan. Saat itu matahari sedang tertawa diatas kepala , saya duduk diantara roda-roda berputar menerobos deru campur debu. Memenuhi kebutuhan hidup memaksa kaki banyak orang untuk berjalan kesana-kemari. Bekerja dan mempekerjakan, menyuruh dan disuruh, memerintah dan di perintah hanya demi benda keramat yang bernama uang. Benda ini telah mampu menyaingi Tuhan karena bisa membuat orang bekerja walaupun dengan terpaksa hanya dengan mencantumkan alasan yang masuk logika.
Ahhh... ternyata nama Tuhan telah tercoreng moreng dimana-mana. Tuhan telah diseret kelembaga tinggi hanya untuk mendengarkan sumpah kesetian yang berakhir dengan pengingkaran...." Demi Allah saya bersumpah...." terdengar samar-samar Tuhan disebut-sebut. Ditempat arisan ibu-ibu, Tuhan telah bercampur dengan ghibah. " MasyaAllah...masa sih Jeng ibu itu suka gituan.....apa gak ingat umur dia" kata salah seorang ibu " Isya Allah kalo ada waktu nanti kita cerita-cerita lagi ya bu" kata ibu lain mengahiri. Di tempat pelacuranpun nama Tuhan sering dijadikan sebagai tameng. " pelan-pelan mas....bismillah...mudah-mudahan gak bocor kayak kemaren " bisik seorang pelacur yang alat kontrasepsinya sempat bocor beberapa waktu yang lalu.
" Yan masuk Dzuhur mampir ke masjid depan yuk " teriak teman dari atas sepeda motor. Beberapa orang mulai memarkir kendaraannya di depan masjid. Ada yang datang dengan jalan kaki termasuk para pedagang, karyawan, pelajar dan semua yang masih mengingat Tuhan saat itu. Diluar sana masih banyak yang mengejar tuhan-tuhan dunia, tuhan yang penuh warna. Tuhan sering berpindah-pindah, terkadang ada kepala terkadang singgah kehati dan terkadang mampir kemulut. Sewaktu sholat Tuhan lebih sering berada di mulut, sedangkan kepala tetap berisi dunia dan permasalahannya. Kegelisahan tetap menghantui walaupun telah setor muka dengan Tuhan." 'ala bizzikrillahi tatmainnul qulub, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang " kata Allah di surah Ar Ra'd, akan tetapi mengingat Allah seperti apa yang menjadikan hati itu tenang ? apakah dengan melafazkan asmaNya berulang-ulang? seperti dilakukan oleh seorang bapak tua sampai tidur di pojok masjid selesai sholat dzuhur, atau ada cara mengingat yang lain ?
Sehabis mengarungi hari yan penuh liku, keletihan menghampiri sekujur tubuh, adzan maghrib mengalun menghentak jiwa. Banyak yang jiwa yang tersangkut di rongga-rongga jalan berbaur dalam kemacetan ibu kota, disudut-sudut kantor, mengais rezeki di pinggir-pinggir jalan dan yang lain terlena didepan acara televisi. " Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji'i ilaa rabbiki radhiatan mardhiah, wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi di ridhoiNya" seru Allah di surah Al Fajr. hati tersentak seketika , ternyata yang dimakud dengan tatmainnul qulub atau hati yang tenang dengan mengingat Allah, adalah dengan mengingat bahwa kita akan kembali kepadaNya, bahwa apa yang kita cari didunia hanyalah bekal untuk beribadah dan bukan Allah yang harus menuruti cara hidup kita. seperti tangisan seorang anak " Ibu aku ingin kembali kepadamu ..tapi bekal perjalanku menujumu kurang ibu...berilah aku uang untuk bekal itu ibu....", aneh bukan ?
Salam
David Sofyan
Rabu, 27 Januari 2010
Bersyukur Dalam Kesulitan
Setelah lama berputar-putar keliling Jakarta tanpa hasil, Taksi yang dikemudikan Pak Zumhari akhirnya di pesan seseorang dari komplek perumahan mewah, "Alhamdulillah, ternyata rezeki Allah tetap menghampiri hambanya" kata Pak Zumhari didalam hati. Menit berlalu dengan cepat berganti jam , tapi orang yang hendak menyewa belum keluar juga. Pak Zumhari tetap menunggu sambil sesekali menanyakan kepada penghuni rumah itu. Memasuki jam ke dua kesabaran Pak Zumhari hilang, dia meminta uang tunggu sebesar dua puluh ribu rupiah selama dua jam menunggu. Pihak rumah tidak ada yang mau memberi karena merasa belum membatalkan order. Pak Zumhari menunggu satu jam lagi dengan harapan orang tersebut keluar, tetapi kekesalan dan umpatan keluar dari mulut Pak Zumhari berbeda seratus delapan puluh derajat dengan syukur yang dipanjatkannya tadi.
Hari itu Pak Zumhari tidak bisa memenuhi setoran dan akibatnya dia bisa tidak membawa uang kerumah untuk belanja harian. " Ternyata Allah belum memberikan kita rezeki hari ini" keluh Pak Zumhari kepada istrinya. " Pak, si Amin sakit, dari kemaren panasnya tidak turun-turun, bahkan beberapa kali muntah, bawa kedokter Pak " sahut istrinya memberitahukan mengenai keadaan putra mereka. " Uang kita tidak cukup untuk biaya rumah sakit, sedangkan puskesmas malam begini mana buka bu " jawab Pak Zumhari. "Tapi bapak mau melihat kondisi anak kita begini terus ?, bawa sajalah Pak, masalah uang kita pikirkan nanti" kata sang istri mulai panik. Akhirnya mereka membawa anaknya kerumah sakit. Sesampainya di rumah sakit , mereka segera mendaftar untuk memasukan anak mereka keruang pemeriksaan tetapi mereka dihadang oleh kenyataan harus membayar jaminan sebesar satu juta rupiah.
Perdebatan terjadi antara pihak rumah sakit dengan Pak Zumhari. Memberikan jaminan adalah salah satu dari peraturan rumah sakit dan Pak Zumhari tidak bisa berbuat apa-apa, rasa kemanusian sekarang hanya jadi barang dagangan yang di pertontonkan di tivi-tivi. Sewaktu Pak Zumhari akan membawa anaknya pulang, tiba-tiba pihak rumah sakit memanggil dan mempersilahkan mereka memasuki ruang pemeriksaan karena sudah ada yang menjamin biaya pengobatan. Tidak hanya uang muka tetapi seluruh biaya pengobatan tersebut di tanggung oleh seseorang yang tidak dikenal." Alhamdulillah ya Rob pertolonganMu telah datang" jerit hati Pak Zumhari.
Beberapa saat kemudian beberapa orang polisi mendatangi rumah sakit, mengabarkan bahwa salah satu perampok yang melakukan aksi kejahatan di dareah tersebut melarikan diri kearah rumah sakit. Ciri-ciri yang di sebutkan Petugas kepolisian sama dengan orang yang memberikan bantuan kepada Pak Zumhari, tentu saja khabar ini kembali mencemaskan hatinya. " Ya Allah mengapa rasa syukur hamba selalu di ikuti oleh rasa cemas " kata Pak Zumhari dalam hati sambil menangis. Rumah sakit hendak membekukan dana yang telah di pergunakan untuk membiayai pengobatan anaknya sampai ada konfirmasi dari pemilik dana yang sebenarnya.
Keesokan harinya Perampok tersebut berhasil di tangkap dan kekantor polisi untuk mengurus segala keperluan dan mengambil dana yang tersisa , korban perampokan tersebut mendatangi rumah sakit, sehubungan dengan kejadian penggunaan dana yang salah arah. Setelah mendengarkan asal mula kejadian pemilik uangtersebut mengikhlaskan dananya untuk biaya pengobatan Pak Zumhari, tidak hanya itu Pak Zumhari diminta untuk menjadi supir pribadinya. Orangtersebut ternyata orangtua dari penumpang yang hendak menyewa taksinya tadi pagi, tetapi orang tuanya mendadak meninggal setelah pingsan beberapa saat. hal itulahyang menyebabkan Pak Zumhari harus menunggu lama dan akhirnya dibatalkan.
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al Baqarah ayat 214)
Salam
David Sofyan
Selasa, 26 Januari 2010
" Mahluk " Yang Tidak Mungkin Tidak Ada
Dipesisir-pesisir pantai Sumatera, gelombang samudra Hindia perlahan-lahan telah berhasil mengikis daratan, disamping abrasi oleh tangan-tangan manusia sendiri. Bahkan pasir yang telah terkikis itu masih saja di ekspor ke negara tetangga, agar tetangga tercinta tersebut lebih leluasa beraktifitas, termasuk mengawasi kita agar tidak nakal. Waktu beserta alam semesta telah bekerja sama meminimalkan satu sisi dan memaksimalkan sisi yang lain. Kepadatan penduduk telah berhasil merubah paradigma lebar menjadi tinggi yang di tandai dengan bermunculannya gedung-gedung pencakar langit, dan dengan kalkulator tangan lebih cepat menghitung dari pada kepala. Menara Pisa yang dibangun dengan tangan manusia tergantikan dengan menara plaza-plaza yang dibangun oleh tangan-tangan besi.
Seiring perkembangan zaman akal manusia lebih berkembang dari pada insting, karena segala sesuatu ditimbang dengan nalar dan logika. Mata batin sudah tidak berfungsi lagi karena keniscayaan menggunakan mata kepala sudah tidak bisa diganggu gugat. "Dahulu guru mengaji saya dikampung mampu melihat siapa tamu-tamu yang akan datang walaupun belum ada alat komunikasi cangih seperti sekarang" kata Ustadz Abbas disela pengajian. Banyak hal yang tidak mungkin bisa terjadi dimasa lalu, jika di timbang dengan akal orang saat ini, sama seperti tidak mungkinnya manusia bisa menjelajah angkasa luar oleh akal orang dimasa lalu. Waktu seperti bermain dalam hal " mungkin atau tidak mungkin".
Jika saat ini orang yang membuat sesuatu mungkin terjadi didominasi oleh ahli sains dan tehnologi maka pada masa lalu hal-hal yang tidak mungkin terjadi dilakukan oleh ahli-ahli ibadah, yaitu para Nabi dan Wali Allah. Artinya ketidak mungkinan bisa terjadi oleh dua hal yaitu hati yang bersih atau otak yang cemerlang. Sebagian orang mengistilahkan dengan perpindahan dari dimensi spritual kepada dimensi material, dampaknya adalah kita akan sering mendapati orang yang berspritual dengan berlandaskan material, seperti mahalnya tarif seorang penceramah ketika wajahnya sudah muncul di televisi.
"Tidak mungkin dia melakukan itu, setahu saya dia anak yang baik dan ramah kepada semua orang" kata seorang ibu kepada tetangganya ketika mengetahui anaknya melakukan tindakan kriminal. " Mana mungkin sih guru itu melakukan tindakan seperti itu, dia kan selalu perhatian dengan murid-muridnya" kata orang tua murid menanggapi pelecehan seksual oleh seorang guru. Dimensi materi telah merubah dan menciptakan berbagai kamuflase kebaikan yang hanya bisa dilihat dan dijamah. Orang yang berteriak " mari kita berbuat baik" lebih dihargai dari pada orang yang diam-diam membersihkan selokan agar tidak mampet yang bisa mengakibatkan banjir didaerah tersebut, atau orang-orang yang beratribut keagamaan dan menghadiri ceramah jauh lebih dihargai dari pada tukang sampah yang sibuk membersihkan bekas minuman dan makanan yang mereka buang sembarangan sewaktu ceramah.
Mahluk seperti apa sebenarnya yang bernama "kebaikan" itu , mungkinkah ada yang mau memeliharanya walaupun tidak ada yang menghargai, mengapa masih ada caci maki dari mulut umat Muhammad SAW yang justru terkenal dengan ketinggian ahlaknya, siapa tahu jika umat Islam mau memelihara mahluk ini mata batin kembali terbuka dan ketidak mungkinan-ketidak mungkinan masa lalu bisa muncul kembali seperti ketidakmungkinan mimpi orang sekarang yang ingin melintasi waktu kemasa lalu.
Salam
David Sofyan
Minggu, 10 Januari 2010
Menghubungkan Dua Kutub Yang Bersebrangan
".....Dalam keadaan apapun fikiran seseorang tidak akan pernah bisa kosong, bahkan orang yang mengosongkan fikiran sebenarnya sedang bekerja dengan berusaha keras merasakan bahwa fikirannya sedang kosong, padahal usahanya itupun hasil dari sebuah fikiran dalam meminimalkan visualisasi di kepala. Hidup itu penuh dengan rincian, apa yang kita fikirkan secara umum ternyata harus kita jalani secara bertahap dan terperinci. Perencanaan terhebat sekalipun tidak bisa merinci setiap gerak dan respon kita terhadap sesuatu. Ada Yang Maha Meliputi sedang bekerja mendisain setiap langkah kita, menuju kehendakNya..."
"..Tahun baru Islam diambil dari tahun hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Tidak ada rencana sebelumnya. Allah mengatur segalanya, lewat umpan makar kafir quraisy yang hendak membunuh Rasulullah. Mungkin kata yang tepat adalah di hijrahkan oleh Allah, karena hijrah tersebut bukanlah murni kehendak Rasulullah. Disisi lain posisi Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib adalah menyamakan kehendak tanpa pernah bertanya "mengapa dan bagaimana " hijrah tersebut dilakukan, sebuah posisi tunduk terhadap kemauan Allah dan Rasulnya. Abu Bakar bertugas menemani Rasulullah dan Ali menggantikan posisi Rasulullah yang hendak di bunuh oleh kafir quraisy..."
"Tunggu dulu pak saya mau tanya !" teriak seorang murid , memotong keterangan yang disampaikan oleh gurunya. " Silahkan " jawab sang guru. " Berarti sebenarnya kita ini berada dalam cengkraman taqdir dong, berpindah dari satu kehendak Allah kepada kehendak Allah yang lain, atau dari satu taqdir kepada taqdir Allah yang lain ?" tanya murid tersebut penasaran. Pak guru menarik nafas dalam-dalam, dia teringat dengan perdebatan panjang antara kaum jabariyah dan qadariyah. Masalah taqdir akan bersinggungan dengan keadilan, karena jika semua telah ditentukan untuk apalagi ada pertanggung jawaban kata kaum qodariyah, bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah nasib mereka sendiri[1]. Dilain sisi banyak hadist-hadist shahih yang menunjukan kekuatan taqdir yang bersifat absolut, bahkan dalam salah satu hadist Nabi SAW dikatakan bahwa seseorang telah di taqdirkan masuk syurga atau neraka [2]. Mungkinkah kedua kutub ini bisa bertemu ?. Bisa, asal dipahami secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong atau parsial.
" Semua memang telah di taqdirkan tetapi kita bisa mengusahakannya lewat doa " jawab Pak guru dengan singkat. Dia merujuk pada paham Ahlussunnah yang berada diantara dua sisi paham diatas yaitu Allah SWT telah menetapkan takdir atas manusia akan tetapi manusia tersebut bisa merubah takdirnya melalui izin Nya dengan usaha dan doa [3], paham inilah yang banyak dianut oleh mayoritas ummat islam saat ini. Merasa kurang puas dengan jawaban Pak guru, murid tersebut kembali bertanya " Pak bukankah usaha dan doa si hamba juga sudah di taqdirkan ?" [4]
" Sebenarnya istilahnya bukan di taqdirkan tapi telah tertulis di Lauh Mahfudz" jawab Pak guru sambil mengambil kapur tulis dan membuat sketsa di papan tulis , karena pastilah akan ada pertanyaan susulan yang akan di ajukan oleh murid-muridnya dengan jawabannya tadi. Banyak ulama yang menghindari masalah ini karena nalar kita sering kali berbenturan dengan dalil, padahal jika diungkapkan secara ilmiah, maka tidak ada yang berbenturan, hanya saja di perlukan kemampuan visualisasi dalam menggambarkan. Tetapi kebenaran hanyalah milik Allah semata, sebagai manusia kita hanya berusaha menjalani dan memamhami apa yang telah ditetapkan olehNya. " Apakah yang tertulis itu tidak semua di taqdirkan " sahut salah seorang murid.
"Bagi Allah ya , tetapi bagi kita belum. Masalahnya sederhana saja. Bukankah Allah terlepas dari dimensi ruang dan waktu. apa yang menurut kita kemaren, besok, lusa, seribu tahun lagi tidak berpengaruh apapun bagi Allah, karena Allah telah mengetahui apa yang akan kita kerjakan, pikirkan, rencanakan dan Allah telah mencatat dimuka serinci-rincinya segala kejadian yang kita perbuat dari sejak kita lahir sampai meninggal dunia termasuk doa-doa yang kita panjatkan , ibaratnya Allah telah menyimpan keping DVD kita , walaupun pemutarannya bagi kita baru berlangsung sekarang. itulah sebabnya mengapa umar menghindari desa yang terkena penyakit dan pilihan umar ini telah di tulis di muka oleh Allah sebagai sebuah keputusan bahkan sebelum Umar bin khattab RA di lahirkan [5]. Karena zaman pada waktu itu belum mengenal film atau drama maka Rasulullah kesulitan menggambarkan situasi ini tetapi hal ini sudah tersirat dari Hadis riwayat Ali ra [6]." Jawab Pak guru panjang lebar, seperti telah mempertemukan kutub yang selama ini selalu bersebrangan yaitu Jabariyah dan Qadariyah.
" Jika kita telah berusaha tapi kita gagal maka kegagalan itu murni karena hasil usaha kita atau bagian dari keputusan Allah ?" tanya sang murid seperti hendak mempertegas apa yang telah dia pahami dari penerangan Pak guru.
" hampir sama seperti lagu, bahwa dunia ini hanyalah panggung sandiwara , kita hanya bermain, sedangkan skenario utamanya dipegang oleh Allah, skenario utama itu seperti sakit dan sehat, hidup dan mati, berhasil dan gagal, perjodohan, keturunan atau anak dan sebagainya. Di wilayah itu Allah memerintahkan kita untuk berdoa. Dan untuk mengawal tadirNya Allah menetapkan sunnahNya di alam semesta agar alam selalu terkendali demi kepentingan manusia" jawab Pak guru mengahiri pelajaran hari itu mengenai Taqdir Allah.
" hampir sama seperti lagu, bahwa dunia ini hanyalah panggung sandiwara , kita hanya bermain, sedangkan skenario utamanya dipegang oleh Allah, skenario utama itu seperti sakit dan sehat, hidup dan mati, berhasil dan gagal, perjodohan, keturunan atau anak dan sebagainya. Di wilayah itu Allah memerintahkan kita untuk berdoa. Dan untuk mengawal tadirNya Allah menetapkan sunnahNya di alam semesta agar alam selalu terkendali demi kepentingan manusia" jawab Pak guru mengahiri pelajaran hari itu mengenai Taqdir Allah.
Tentu tidak semua orang setuju dengan pendapatnya. Tapi Pak guru tersebut membiarkan muridnya berusaha mencari tahu sendiri sisanya jika waktunya telah tiba , selama tidak keluar dari kerangka Al Qur'an dan As Sunnah, sebagai pedoman utama ummat Islam. Kepada Allah lah kita kembalikan segala prasangka kita agar kita tidak terjebak dalam pengingkaran atas segala keadilanNya.
Salam
David Sofyan
Note :
[1] QS : Ar Ra'ad ayat 11
[2]1 Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)
[3] Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya. (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)
[4] Al An 'aam ayat 59
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"
[5] Hadis riwayat Abdullah bin Abbas ra:
" Bahwa Umar bin Khathab pergi ke Syam dan ketika telah tiba di sebuah dusun bernama Sarghi, beliau bertemu dengan penduduk Syam yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah ra. dan para pengikutnya. Mereka memberitahukan bahwa telah berjangkit di Syam suatu wabah penyakit. Ibnu Abbas ra. berkata: Maka Umar berkata: Coba panggilkan sahabat muhajirin yang pertama. Maka aku panggil mereka lantas beliau meminta saran mereka dan memberitahukan kepada mereka bahwa wabah telah berjangkit di Syam. Ternyata mereka berselisih pendapat menanggapi berita itu. Sebagian di antara mereka berkata: Engkau pergi untuk suatu urusan besar dan kami tidak setuju jika engkau kembali. Sedangkan sebagian yang lain berkata: Bersama engkau masih banyak rakyat dan para sahabat dan kami tidak setuju bila engkau mengajak mereka menuju ke wabah tersebut. Umar berkata: Tinggalkan aku dan tolong panggilkan sahabat Ansar! Aku pun memanggil mereka. Ketika dimintai pertimbangan, mereka juga bersikap dan berbeda pendapat seperti halnya orang-orang Muhajirin. Umar berkata: Tinggalkan aku! Lalu ia berkata lagi: Tolong panggilkan sesepuh Quraisy yang dahulu hijrah pada waktu penaklukan dan sekarang berada di sini. Aku memanggil mereka. Ternyata mereka saling bersepakat dan berkata: Menurut kami sebaiknya engkau kembali bersama orang-orang dan tidak mengajak mereka mendatangi wabah ini. Umar lalu berseru di tengah-tengah orang banyak: Aku akan mengendarai tungganganku untuk pulang esok pagi. Lalu mereka pun mengikutinya. Abu Ubaidah bin Jarrah ra. bertanya: Apakah untuk menghindari takdir Allah? Umar menjawab: Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, hai Abu Ubaidah! Umar memang tidak suka berselisih dengan Abu Ubaidah. Ya, kita lari dari satu takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta yang turun di suatu lembah yang memiliki dua lereng, yang satu subur dan yang satu lagi tandus, apakah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur itu bukan berarti engkau menggembalakanya karena takdir Allah? Begitu pun sebaliknya, kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakanya karena takdir Allah juga? Lalu datanglah Abdurrahman bin Auf yang absen karena suatu keperluannya lalu berkata: Sungguh aku mempunyai pengetahuan tentang masalah ini, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya, kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri daripadanya. Ibnu Abbas berkata: Mendengar itu Umar bin Khathab memuji Allah kemudian pergi berlalu. (Shahih Muslim No.4114)
[6] Dari Ali bin Abi Tholib ra:
"Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)
[2]1 Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)
[3] Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya. (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)
[4] Al An 'aam ayat 59
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"
[5] Hadis riwayat Abdullah bin Abbas ra:
" Bahwa Umar bin Khathab pergi ke Syam dan ketika telah tiba di sebuah dusun bernama Sarghi, beliau bertemu dengan penduduk Syam yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah ra. dan para pengikutnya. Mereka memberitahukan bahwa telah berjangkit di Syam suatu wabah penyakit. Ibnu Abbas ra. berkata: Maka Umar berkata: Coba panggilkan sahabat muhajirin yang pertama. Maka aku panggil mereka lantas beliau meminta saran mereka dan memberitahukan kepada mereka bahwa wabah telah berjangkit di Syam. Ternyata mereka berselisih pendapat menanggapi berita itu. Sebagian di antara mereka berkata: Engkau pergi untuk suatu urusan besar dan kami tidak setuju jika engkau kembali. Sedangkan sebagian yang lain berkata: Bersama engkau masih banyak rakyat dan para sahabat dan kami tidak setuju bila engkau mengajak mereka menuju ke wabah tersebut. Umar berkata: Tinggalkan aku dan tolong panggilkan sahabat Ansar! Aku pun memanggil mereka. Ketika dimintai pertimbangan, mereka juga bersikap dan berbeda pendapat seperti halnya orang-orang Muhajirin. Umar berkata: Tinggalkan aku! Lalu ia berkata lagi: Tolong panggilkan sesepuh Quraisy yang dahulu hijrah pada waktu penaklukan dan sekarang berada di sini. Aku memanggil mereka. Ternyata mereka saling bersepakat dan berkata: Menurut kami sebaiknya engkau kembali bersama orang-orang dan tidak mengajak mereka mendatangi wabah ini. Umar lalu berseru di tengah-tengah orang banyak: Aku akan mengendarai tungganganku untuk pulang esok pagi. Lalu mereka pun mengikutinya. Abu Ubaidah bin Jarrah ra. bertanya: Apakah untuk menghindari takdir Allah? Umar menjawab: Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, hai Abu Ubaidah! Umar memang tidak suka berselisih dengan Abu Ubaidah. Ya, kita lari dari satu takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta yang turun di suatu lembah yang memiliki dua lereng, yang satu subur dan yang satu lagi tandus, apakah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur itu bukan berarti engkau menggembalakanya karena takdir Allah? Begitu pun sebaliknya, kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakanya karena takdir Allah juga? Lalu datanglah Abdurrahman bin Auf yang absen karena suatu keperluannya lalu berkata: Sungguh aku mempunyai pengetahuan tentang masalah ini, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya, kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri daripadanya. Ibnu Abbas berkata: Mendengar itu Umar bin Khathab memuji Allah kemudian pergi berlalu. (Shahih Muslim No.4114)
[6] Dari Ali bin Abi Tholib ra:
"Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)
Kamis, 07 Januari 2010
Posisi Harapan
Tahun demi tahun terus berganti, ada harapan yang selalu tersembunyi dibalik setiap pergantian waktu. Matahari diatas kepala tetap setia untuk datang menghampiri dan bumi yang kita pijak tetap setia untuk tidak berganti arah rotasi. Tidak ada yang berubah dari volume air laut, karena alam selalu mampu menakar keberadaannya demi kepentingan manusia. Berapa banyak janji yang telah diikrarkan manusia untuk berubah, tidak mampu menandingi konsistensi perubahan usia.
"Hati-hati dijalan nak, semoga kamu bisa menjadi orang yang berhasil" , kata seorang ibu kepada anaknya disebuah terminal bis antar kota. " Pak kalau pulang dari kota jangan lupa bawa oleh-oleh ya" kata seorang anak kepada ayahnya disudut lain terminal itu. Terminal bis selalu ramai di kunjungi, tidak hanya oleh para penumpang tetapi juga para pedagang. Hidup seperti terminal bis, ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang menjemput dan ada yang mengantar, tidak lebih dari sebuah pemberhentian sementara. Kira-kira apa ukuran keberhasilan yang dimaksud si ibu kepada anaknya ? hampir sama dengan jawaban sebagian besar orang tua, maka jawabannya adalah sebuah kemapanan, baik dalam pengumpulan harta maupun dalam posisi jabatan atau profesi.
Masih di terminal bis tadi seorang ibu bertemu dengan kawan lamanya, yang mungkin telah bertahun-tahun tidak bertemu. " Eh yanti, gimana khabarnya, kelihatannya tampak sukses , udah punya anak berapa ?" tanya seorang ibu yang berperawakan agak kurus. " Elly ya kok agak kurusan, apa lagi diet ketat nih ? hehehe, anakku sekarang sudah dua yang besar jadi dokter dan adiknya sebentar lagi jadi sarjana hukum, kalau anakmu gimana Ly ?" tanya ibu yang berdandan mirip ibu-ibu pejabat itu. " Anakku sudah tiga tapi cuma pegawai biasa. Yang tertua buka toko kelontong didekat rumah dan yang kedua cuma jadi guru madrasah. sedangkan yang terakhir baru naik kelas tiga SMU" jawabnya dengan pelan, mungkin agak minder.
Jika kita bicara jujur , manakah yang lebih membuat kita bangga sebagai orang tua , mempunyai anak seorang dokter atau seorang guru ? bukankah berbau sangat materi ? tetapi itulah kenyataannya. Pernah saya mengajukan pertanyaan tersebut pada seorang ustadz, dan dia tidak menjawab tetapi hanya tersenyum tak mampu menipu diri antara sebuah idealisme dan tuntuan materialisme. Loh memangnya salah anak kita menjadi dokter bukankah itu pekerjaan mulia ? tentu saja , tidak ada pekerjaan yangtidak mulia jika diniatkan karena Allah semata, tetapi tentu semua paham dengan maksud pertanyaan tersebut bahwa di balik pilihan tersebut ada sebuah ego bersembunyi dengan sangat indah.
Bagaimana kalau kita buat pertanyaan lebih spesifik, pilih taqwa atau kaya ? . Seorang teman sempat gerah dengan pertanyaan ini dan mengajukan pertanyaan baru sebagai komplain " apa orang taqwa gak boleh kaya atau orang kaya gak ada yang bertaqwa ? apakah taqwa itu identik dengan miskin ?" tanyannya dengan nada tinggi. saya hanya tersenyum lalu membuat pertanyaan baru yang tidak ada hubungannya dengan hal diatas. " Hendra kalau sekiranya kamu dapat uang seratus juta , lalu tetanggamu ada yang sakit keras dan butuh dana sebesar seratus juta rupiah ,apakah kamu akan berikan dana tersebut " tanya saya dengan nada santai . " ya gak semualah, mungkin separohnya kan itu juga udah bagus, bukannya zakat cuma dua setengah persen atau anggaplah sepuluh persen , kan tetap lebih besar " jawabnya sambil tertawa. Bisa dibayangkan baru sekedar pengandaian kita sudah pelit bagaimana jika menjadi kenyataan tentu lebih jauh panggang dari api. Sekarang baru kita sadari bahwa sebesar apapun perubahan yang kita inginkan, hampir semuanya berasal dari luar ( outer ) sebaliknya hal tersebut tidak banyak berpengaruh pada karakter atau sifat pribadi kita. Lalu dimana letak keimanan itu ?
Kamis, 10 Desember 2009
Aku Tidak Punya Apa-apa Selain Menggenggam Janji
" puncak..puncak...!! " teriak seorang sopir omprengan di persimpangan Ciawi, Bogor. Wajah itu hampir sama seperti dulu, tegar dan keras. "Gimana khabar Yung ?" teriak saya dari samping, mengejutkannya. " Eh kamu Yan, main kerumah yuk, nanti penumpang saya oper ke teman di depan" tawarnya. Hari itu saya memang berniat mengunjunginya. Mengunjungi seorang sahabat dari Sumatra yang terdampar di kota Bogor. Namanya Syakban, seperti hendak memberitahukan kepada dunia bahwa dia lahir di bulan itu. Dia lahir ketika usia ibunya menginjak hampir empat puluh lima tahun dan ayahnya meninggal setahun setelah kelahirannya.
" Sudah punya anak berapa sekarang Yung , Kok gak pernah ngasih khabar ?" tanya saya kepada Syakban yang biasa dipanggiling Uyung, atau anak uyung yang artinya anak paling kecil yang jarak antara dia dan kakaknya nomor dua terlalu jauh yaitu hampir lima belas tahun. " Baru dua, sepasang, yang tua laki-laki sekarang kelas satu SD dan adiknya yang masih 2 bulan, perempuan" Jawabnya tanpa pernah berhenti tersenyum. " Kamu sendiri gimana Yan " tanya Uyung berbalik. Saya menatap jauh kelereng-lereng sepanjang jalan Ciawi menuju Cipayung tempat kediamannya tidak jauh dari persimpangan menuju daerah wisata Mega Mendung. Tiba-tiba ingatan saya terlempar kemasa dua puluh tahun yang lalu, saat kelas tiga SD.
"Siapa yang mengambil layangan saya, kok gak ada disini ?" teriak saya kepada teman-teman sebaya yang baru pulang sekolah. " Kayaknya si Uyung yang mainin tapi dia kalah, trus layangannya putus deh" sahut Iskandar. Uyung dan Iskandar yang biasa di panggil Kandar telah berhenti sekolah sejak kelas dua SD. Mereka membantu orang tua dengan bekerja jadi buruh angkut ikan di dermaga. Ibunya Uyung yang bekerja sebagai tukang cuci pakaian, tidak sanggup menyekolahkannya. Kakak pertama Uyung yang perempuan bekerja jadi pembantu rumah tangga sedangkan kakak laki-laki nomor dua bekerja sebagai nelayan. Sedangkan ayah Kandar bekerja sebagai pembersih kapal.
" Memangnya kamu lihat Dar, siUyung yang mainin" tanya saya lebih lanjut. " Iya, sewaktu kalian sekolah kami main layangan di bukit belakang masjid, tapi layangan si Uyung putus trus dia liat layangan kamu di ikat di pagar depan rumah kamu, jadi dimainin deh sama dia, katanya di pinjam dulu" jawab Kandar agak takut. " Trus sekarang si Uyung mana ?" tanya saya sambil melihat kesegala arah, siapa tahu dia muncul. " Dia ngantarin pakaian kerumah orang, disuruh ibunya" jawab Iskandar.
Beberapa saat kemudian tampak seorang anak menjinjing tempayan berisi pakaian yang telah di setrika di kepalanya yang di alas dengan lipatan kain. " Yan besok siang pas pulang sekolah aku tunggu kamu di bukit belakang masjid ya , ntar sore saya mau bikin layangan buat ganti layangan kamu, bambunya sudah saya dapat tadi pagi, jangan lupa ya" teriak seorang anak yang terus berjalan dengan beban yang cukup berat di kepalanya, mungkin itu yang meyebabkan dia tidak mau berhenti , dia adalah Uyung. Karena waktu itu saya dalam keadaan marah, saya tidak terlalu memeperdulikan ucapan si Uyung.
Keesokan harinya, hujan tidak berhenti sejak pagi mengguyur kota kecil di pesisir pantai utara sumatra tersebut. Sepulang sekolah saya menghabiskan waktu di rumah. Janji Uyung unutk bertemu sekitar jam dua tidak saya hiraukan, saya berfikir dia pasti ada dirumah karena hujan tidak berhenti dari pagi. Tiba-tiba pintu diketuk dari luar " Assalamu'alaikum " seru seorang anak dan saya kenal suara itu. Saya kemudian membuka pintu " wa'alaikum salam, ada apa Dar " tanya saya kepada Iskandar yang datang dengan membawa ikan dalam ember kecil. " Ini ikan yang dipesan ibu kamu tadi pagi, tapi adanya cuma sedikit, soalnya dari kemaren badai di laut lagi mengamuk jadi banyak yang tidak pergi melaut." jawab Iskandar. " Oh ya sudah letakan disana saja nanti saya bawa kebelakang, uangnya nanti saja yah, ibu lagi nggak ada " kata saya sambil menggeser ember tersebut kebelakang pintu
" oh ya Yan si Uyung sudah nunggu kamu dari jam setengah dua, saya sudah bilang pasti kamu gak bakalan datang karena hujan tapi dia tetap disana katanya dia sudah janji nunggu kamu disana , gak tau sampai kapan, sekarang sudah jam setengah lima berarti sudah tiga jam loh , kasihan dia" seru Kandar sambil permisi pulang. Saya mengambil payung dan bergegas pergi kebelakang masjid seperti janji Uyung kemaren. Sesampai disana Uyung terlihat berdiri letih karena terlalu lama menunggu " Layangannya sudah basah kena tampias air hujan, mungkin tadi waktu saya sholat ashar ada angin agak kencang jadi airnya kena layangan deh " sahut Uyung ketika melihat saya. Tidak ada kata-kata kasar keluar ketika bertemu karena telah lama menunggu , sebaliknya justru dia lebih menyalahkan diri sendiri.
"Ya sudahlah, lupain saja, saya kesal kemaren karena kamu mengambil gak pake ngasih tahu dulu sih " kata saya menenangkannya. " Yan kamu tahu saya gak punya apa-apa, tidak punya uang yang bisa bagikan, tidak punya ilmu yang bisa di ajarkan. Apalagi yang bisa di banggakan. saya hanya mampu menggenggam amanah yang telah di ucapkan, mungkin cuma itu saja yang tersisa." katanya dengan sorot mata yang tajam. Beberapa saat kami terpaku diam , bersandar dinding masjid belakang menatap air hujan yang telah membasahi jiwa kami.
"Eh kok ngalamun, kamu belum jawab pertanyaan saya !" tanya Uyung mengagetkan saya dalam lamunan masa kecil dulu. Angkot masih terus berjalan tersendat, merayap keatas puncak, tempat peristirahatan orang-orang kaya dari Jakarta. " Saya belum menikah, rencananya sih tahun depan, kamu pasti di undang deh, telat banget yah " jawab saya santai. Ketika memasuki sebuah jalan kecil menuju arah lembah di Cipayung Angkot tersebut berhenti mendadak " Kenapa berhenti?" tanya saya. " Itu anak saya didepan sekolah sedang menunggu saya" jawab Uyung sambil menepikan angkot tersebut dan kemudian turun menghampiri anaknya. Saya mengikuti dari belakang.
" Ramli jam segini sudah pulang , kenapa gak langsung kerumah naik angkot lain kan banyak ?" tanya Uyung kepada anaknya " pulang dari jam setengah sembilan soalnya guru ada rapat terus tadi kan ayah kan menyuruh Ramli tunggu disini, kata ayah jangan kemana-mana kalau ayah belum datang" jawab anak itu dengan polos " iya itu kalau Ramli pulang seperti biasa jam sebelas, Ramli jadi kelamaan nunggu ayah deh" sahut Uyung kepada anaknya. Saya mengangkat anak itu dan memangkunya " Sifat ayahnya sekarang menurun kepada anaknya. Orang-orang yang memegang janji, inilah warisan para nabi" kata saya sambil membawa anak itu masuk kedalam angkot.
Itulah kunjungan terakhir saya enam tahun yang lalu ke rumah Uyung di Cipayung Bogor. Setelah itu dia sering berpindah-pindah tempat tidak menentu, tidak ada khabarnya sampai sekarang, Hari ini secara tidak sengaja album lama tentang persahabatan, terbuka kembali. Banyak kisah yang tidak terperi, tentang sebuah kesetian, keikhlasan, pengorbanan, dan kasih sayang. Kemudian waktu menjarah semuanya, kami pun berpencar kesegala penjuru mencari karunia Allah yang tidak pernah berhenti menetes kedalam sanubari.
Tahun 1986 ketika saya harus berangkat kejakarta, semua sahabat telah menyalami satu persatu, memohon doa dan restu dan harapan agar bertemu kembali kecuali Uyung. Dia tidak ada diantara mereka. Menjelang keberangkatan dia tetap tidak muncul. Ketika Bis sampai keterminal untuk mengambil sisa penumpang, seorang anak muncul di balik jendela bis " Yan , maaf terlambat tadi nyari benda ini gak ketemu-temu eh gak taunya ada dibawah tempat tidur " kata anak itu yang tidak lain adalah Uyung "ini dompet bekas mendiang ayah dulu , dikasih ibu sama saya, tapi kamukan tahu saya gak pernah punya uang jadi buat kamu saja lah anggap oleh-oleh dari saya, jangan pernah lupakan saya yah" katanya sambil menjauh karena Bis akan segera berangkat. Menuju negeri yang selalu menjadi harapan orang-orang desa, Jakarta.
Salam
David Sofyan
Jumat, 04 Desember 2009
Nasehat Dari Anak-Anak Yang Tegar
Lama anak saya memandang kearah wajah saya yang sedang menonton berita pagi di televisi. Dia tidak perduli dengan apa yang terjadi pada kotak ajaib tersebut. " Yah kok mata ayah berair , ayah nangis yah..?" tanyanya penuh selidik. Saya tidak berusaha menjawab, tapi memeluknya sambil mendudukannya di pangkuan. " Anak yang bernama Tegar itu harus tegar menghadapi dunia, menerima tanpa harus mengerti kebencian ayah tirinya yang menyebabkan kakinya terputus setelah di lindas oleh kereta api" kata pembawa acara di televisi. Sang ayah akhirnya di ganjar hukuman sepuluh tahun penjara sedangkan sang anak yang masih berumur empat tahun akan menanggung penderitaan tersebut seumur hidupnya.
Berbanding terbalik di Facebook saya mendapat kiriman berita lama yang di rekam lalu di sebar melalui media internet tentang seorang anak yang berusia enam tahun yang mengurusi semua keperluan ibunya mulai dari memasak, menyuapi , memandikan bahkan membuang kotoran ibunya karena sejak dua tahun yang lalu si ibu mengalami kelumpuhan karena terjatuh. Ayah sianak telah lama tidak pulang kerumah setelah beberapa tahun yang lalu pergi merantau ke Malaysia. Anak itu bernama Sinar dan hari itu, sinar sianak tersebut telah menyilaukan mata saya dengan amalnya, dengan cintanya dan dengan kasih sayang untuk ibunya.
Banyak para orang tua yang berharap bisa melahirkan seorang anak, tetapi tidak ada seorang anakpun yang meminta untuk dilahirkan, dia murni amanah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW mengatakan bahwa Warisan bagi Allah 'Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya. hadist ini di riwayatkan oleh HR. Ath-Thahawi. Namun Rasulullah juga menasehati yang diriwayatkan oleh Ibu 'Asakir bahwa anak bisa menyebabkan kedua orangtuanya menjadi kikir dan penakut. Pemenuhan masalah ekonomi memang menjadi salah satu penyebab kerenggangan didalam sebuah rumah tangga, baik itu dengan anak karena jarang berkomunikasi maupun dengan istri atau suami karena tuntutan-tuntutan yang diluar jangkauan.
Sesuatu yang memisahkan dan membedakan antara seorang anak dengan orang dewasa adalah waktu, sesuatu yang Allah pernah bersumpah atas namanya, bahwa kita berada dalam sebuah kondisi yang menyebabkan kita merugi kecuali orang yang beramal salih, al 'amilussholikhat. Kita adalah mantan anak-anak, sedangkan anak-anak adalah calon orang dewasa. Kesalahan sekecil apapun yang pernah kita lakukan pada masa kecil tidak layak kita wariskan kepada anak kita. Ukiran kebaikan orang tua yang tertanam didada kita harus kita buat lebih indah didada anak-anak kita. Melihat senyum tegar dengan kakinya buntung seperti ingin berteriak kepada saya " Tidak ada gunanya memberitahukan orang lain tentang kesulitan anda , sebagian dari mereka tidak perduli dan sebagian lagi justru senang mendengarkan keluhan anda tanpa mau berbuat apa-apa, tegarlah dan sandarkan hidup hanya kepada Allah"
Rabu, 02 Desember 2009
Tidak Selalu Pada Apa Yang Kita Mau
Hari itu cukup cerah terlihat seseorang melemparkan koran kedalam pagar rumah tetangga, setiap hari dia selalu rutin membawa surat kabar untuk para pelanggannya walaupun tidak pernah ada yang menanyakan khabarnya. Pada zaman modern seperti saat ini, transaksi memang tidak selalu harus bertatap muka. Banyak pedagang yang menjual barangnya dengan memberikan pelayanan yang memudahkan setiap pembeli untuk melakukan transaksi. disudut jalanan terlihat seorang ayah menarik tangan anaknya untuk sekolah, sedangkan si anak menangis dan bersikeras untuk tidak mau sekolah. " Aku gak mau sekolah ! , gurunya galak suka marahin aku" kata anak tersebut kepada ayahnya. " Memang kalau tidak sekolah kamu mau jadi apa nanti ? makanya kalau mengerjakan PR di rumah , bukan disekolah supaya tidak dimarahin guru, gimana sih !" balas sang ayah tidak mau kalah.
Di belahan duniamanapun kejadian seperti tadi pasti pernah terjadi, bahwa setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya walaupun dengan cara yang sering sekali tidak disukai oleh sianak. Jarang kita temui ada orang yang memulai sesuatu dari sudut padang orang lain dan baru kemudian memberikan alternatif pandangan dari sisinya. Sebaliknya kita sering kali memaksakan apa yang kita anggap baik lalu mengeyampingkan pandangan orang lain atau paling tidak mengiyakan tanpa menghiraukannya. Saya teringat sebuah buku cukup laris tentang pembentukan karakter dalam memahami orang lain oleh Dale Carneigie. Salah satu kiatnya menyebutkan bahwa agar kepentingan kita didengar maka mulailah berbicara atas nama kepentingan lawan bicara. Setelah dia mengetahui kalau kita telah memahami kepentingannya barulah kita menyampaikan apa yang kita inginkan.
Beberapa tahun yang lalu hal ini pernah saya terapkan tanpa sengaja. Sebuah kecerobohan yang membuat terjadinya tabrakan di perempatan lampu merah. Karena sedang terburu-buru, lampu kuning sebagai tanda akan munculnya tanda berhenti (merah) saya terobos. Di sebelah kiri arah melintang sebuah sepeda motor juga menerobos lampu kuning sebelum masuk lampu hijau. walaupun hanya berselang beberapa detik tapi kecelakaan tidak bisa dihindari dan orang tersebut bersembunyi di balik alibi lampu hijau yang sedang menyala, artinya dia melimpahkan kesalahan itu kepada saya. Karena benturan yang cukup parah , pengemudi motor tersebut meminta ganti rugi sebanyak tiga ratus ribu rupiah., sedangkan uang yang ada di dompet saat itu hanya berjumlah lima puluh ribu rupiah. Sebenarnya keadaan saya jauh lebih parah dari pada bapak tersebut tetapi masalah tidak akan pernah selesai ketika semua orang berbicara mengenai keadaan dirinya
"Nampaknya kondisi kita sama-sama parah dan mungkin ini akibat kelalaian saya tapi saya tidak punya uang sebesar yang bapak minta. Saya hanya memiliki uang lima puluh ribu, tentu tidak akan bisa menutupi semua kerugian bapak dan bapak bisa saja memperkarakan hal ini kepada polisi untuk kemudian di buat berita acara dan mungkin saja uang lima puluh ribu ini hanya untuk mengurus biaya perkara, lalu kita berdua tidak mendapatkan apa-apa selain menunggu untuk diproses dan itu akan memakan waktu sedangkan kondisi kita tidak akan berubah. Saya serahkan semua kepada bapak " kata saya secara halus kepada bapak tersebut. Kemarahannya mulai mereda. Seringkali kemarahan membutakan mata dan membuat oarng tidak mau berfikir. Setelah saya lihat keteduhan di wajahnya, saya kemudian menyalami tangannya sambil memberikan uang lima puluh ribu tersebut. Mungkin saja masih ada rasa kesal yang tersisa , tetapi tidak ada terucap sepatah katapun ketika saya meninggalkannya di lokasi tersebut
Segelas ilmu belum tentu lebih besar nilainya dengan setetes amal, setiap hari dalam keadaan apapun belajarlah untuk tetap terus berkembang dan beramal. Andre Gide mengatakan dalil tentang mengenali diri bisa menyesatkan tanpa mengenali potensi yang bisa menghambat perkembangan karena seekor ulat yang sibuk mengenali dirinya tidak akan pernah berubah menjadi kupu-kupu. Orang yang selalu memikirkan dirinya sendiri tidak akan pernah di pikirkan oleh orang lain dan ketika dia menyampaikan apa yang dia pikir maka orang akan mengira dia sedang bergumam untuk dirinya sendiri.
Akhlak memang menempati cerita tersendiri dalam bab kehidupan seorang muslim kepada siapapun. Rasulullah SAW pernah bersabda
"Sesungguhnya Allah membenci orang yang berhati kasar (kejam dan keras), sombong, angkuh, bersuara keras di pasar-pasar (tempat umum) pada malam hari serupa bangkai dan pada siang hari serupa keledai, mengetahui urusan-urusan dunia tetapi jahil (bodoh dan tidak mengetahui) urusan akhirat." (HR. Ahmad) dan "Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik." (HR. Abu Dawud)
"Sesungguhnya Allah membenci orang yang berhati kasar (kejam dan keras), sombong, angkuh, bersuara keras di pasar-pasar (tempat umum) pada malam hari serupa bangkai dan pada siang hari serupa keledai, mengetahui urusan-urusan dunia tetapi jahil (bodoh dan tidak mengetahui) urusan akhirat." (HR. Ahmad) dan "Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik." (HR. Abu Dawud)
Selasa, 01 Desember 2009
Efek Larangan
Banyak perubahan yang terjadi di muka bumi ini berasal dari keingin tahuan. Rasa ingin tahu mengenai angkasa luar telah membuat orang terbang dan meneliti kesana , inilah yang menjadikan sesuatu yang tidak mungkin pada masa lalu telah menjadi kenyataan. Pemicu paling responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan memang adalah rasa ingin tahu. Tetapi disisi lain rasa ingin tahu terkadang harus membentur larangan-larangan yang dimaksudkan untuk mencegah keburukan yang di timbulkan rasa ingin tahu tersebut, namun semakin dilarang, orang cenderung semakin penasaran dan ingin tahu mengapa hal tersebut dilarang.
Dalam sebuah anekdot di ceritakan Pak Saman mempunyai usaha jual beli kambing dan untuk itu dia membuat papan reklame yang berbunyi " Di jual Berbagai Jenis Kambing " dengan gambar kepala kambing sebagai latar belakang tulisan. Anak-anak sekolah yang biasa lewat sewaktu pulang sering sekali menjadikan gambar kepala kambing tersebut sebagai sasaran lemparan ketapel. Pak Saman sering melarang dan marah kepada mereka tetapi semakin dilarang anak-anak tersebut semakin sering menjadikan papan rekalame tersebut jadi sasaran tembak. Karena kewalahan Pak Saman meminta nasehat kepada Pak Zainudin ustadz muda yang juga merupakan guru mengaji sebagian dari anak-anak tersebut. Pak Zainudin bersedia menasehati anak-anak tersebut tetapi disamping itu Pak zainudin juga memberikan ide pemecahan masalah kepada Pak Saman. Ke esokan harinya tiba-tiba terpampang sebuah papan beberapa meter di samping papan reklame Pak Saman yang berbunyi " Dilarang Melempar Pada Papan Ini " dengan gambar sapi sebagai latar balakang. Melihat hal ini anak-anak sekolah tadi justru memindahkan objek sasaran tembak pada papan baru tersebut. Sejak saat itu papan reklame Pak Saman tidak pernah diganggu.
Sifat penasaran memang membutuhkan penyaluran bukan penahanan, itulah mengapa semakin MUI melarang peredaran film "2012" film tersebut justru semakin laku, Hal yang sama pernah terjadi dengan majalah " Playboy" . Efek psikologis ini takutnya justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda sehingga akan muncul sensasi-sensasi baru yang sengaja di kontroversialkan untuk memancing MUI. Banyak orang yang tadinya tidak mengenal Miyabi justru jadi mengenal karena telah membeli kaset atau CD film porno tersebut. Maksud baik belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Lalu apakah itu berarti kita diam saja ketika ada kemungkaran yang terjadi didepan mata kita ? tentu saja tidak , akan tetapi pastisipasi kita dalam mencegah kemungkaran harus disertai dengan antisipasi, dan itu sangat tidak mudah dilakukan.
Di negara kita yang tercinta ini orang yang beragama Islam jauh lebih banyak daripada orang yang mengenal agama Islam. Orang yang mengenal jauh lebih banyak daripada orang yang mempelajarinya, dan orang yang mempelajarinya jauh lebih banyak daripada orang yang mengamalkannya. Ketika ada yang mengatakan bahwa negara Indonesia adalah mayoritas umat Islam tentu kita akan mengerti arah maksud si pembicara adalah yang pertama tadi, apalagi jika yang berbicara adalah non muslim. Dari sini kita akan mengerti bahwa kekurangan terbesar umat ini adalah ilmu. Berbicara dengan ilmu, berbuat sesuatu dengan ilmu, menasehati dengan ilmu , bahkan bersabarpun harus dengan ilmu.
Beberapa hari yang lalu, didepan rumah seorang ibu melarang anaknya bermain pasir didepan rumahnya. Anaknya yang masih berusia tiga tahun sedang asyik membuat rumah dari pasir " Andi jangan main pasir didepan rumah nanti kotor loh !" sahut sang ibu dari dalam rumah sambil terus memasak didapur . Tidak beberapa lama kemudian dia di kagetkan karena anaknya sedang membuat rumah dari pasir tersebut diruang tamu. Kita sepertinya telah lama meninggalkan pengajaran dengan contoh, sebaliknya kita justru sering melontarkan pernyataan negasi berupa larangan ketimbang anjuran. Sebenarnya kita telah mendapat sedikit contoh dalam merubah kalimat negasi menjadi kalimat apresiasi seperti yang awalnya " Dilarang Merokok " menjadi " Terimakasih Untuk Tidak Merokok " . Memang tidak banyak hasil yang didapat tetapi memulai sesuatu dari hal kecil seperti merubah cara penyampaian mengandung sedikit nilai pendidikan, sedikit nilai ahlak, sedikit nilai kesopanan yang suatu ketika diharapkan secara perlahan-lahan bisa merubah tingkah laku, Insya Allah
Kamis, 26 November 2009
Lubang Di Hati
"Mengingat keburukan dua kali lebih kuat dari pada mengingat kebaikan" begitulah kira-kira kata salah satu buku mengenai dampak berbuat buruk. Saya teringat dulu seorang satpam marah kepada saya karena merasa jalan yang dilalui oleh kendaraannya terhalang oleh sepeda motor saya. Parkiran di depan masjid tersebut memang tidak begitu lebar tetapi motor yang dimaksud bukanlah milik saya. Kebetulan waktu itu saya berada di samping motor tersebut saat sedang menerima telepon dari seorang teman, tiba-tiba terdengar suara membentak " Hei Mas, kalo parkir jangan sembarangan dong, itukan jalan lewat pengurus masjid, tolong pinggirin motornya ! " teriak satpam tersebut. Saya terhenyak dan kesal , tetapi saya membantu meminggirkan motor tersebut dan tidak melayaninya karena saat itu masih online dengan teman dan berusaha menghilangkan amarah dengan becanda dengan teman diseberang telepon. Setelah hari itu setiap bertemu dengannya yang teringat hanyalah muka marahnya walaupun saat bertemu dia sedang tersenyum, dan ingatan tersebut muncul begitu saja tanpa direkayasa.
Sewaktu pertama kali bekerja dahulu seorang teman sering mengirim email berisi artikel-artikel islami dan salah satu dari artikel itu bercerita tentang akibat perbuatan buruk. Dikisahkan seorang bapak mempunyai seorang anak yang nakal dan tidak pernah mau menurut nasehat orang tua. Karena kesal sang Bapak mendirikan tiang kayu didepan rumah. Setiap sang anak berbuat kejahatan maka sang bapak memaku kayu tersebut dan tidak ada yang mengerti maksud dari sibapak kecuali Ibunya. Beberapa tahun kemudian ketika sang bapak meninggal dunia , tanpa sengaja atau baru sadar anak tersebut melihat tiang kayu didepan rumah yang di penuhi oleh paku, lalu dia bertanya kepada ibunya maksud dari tiang kayu tersebut.
" Amanah dari Bapakmu jika kamu telah insyaf dan berbuat baik maka cabutlah satu paku setiap kamu berbuat satu kebaikan kepada orang lain sebagai ganti keburukan yang kamu perbuat" kata sang ibu mengingatkan. Waktu telah mengubah segalanya, doa dari orang tua telah membuat Allah ridho sehingga memberikan hidayah kepada anak tersebut. Sejak hari itu dia berusaha berbuat baik kepada siapapun dan tercabutlah paku dari tiang tersebut satu persatu. Ketika paku telah habis dari tiang tersebut , sang ibu kemudian menghampirinya " Nak kamu telah banyak berubah , kamu juga telah berhasil mengimbangi segala keburukanmu dimasa lalu dengan kebaikan yang telah kamu perbuat dan kamu juga mungkin telah dimaafkan tapi bekas yang telah kamu perbuat akan membekas selamanya dihati orang-orang yang pernah kamu lukai seperti kayu itu , walaupun kamu telah berhasil mencabut paku dari tiang itu tapi kamu tidak bisa menghilangkan bekas lubang yang di tinggalkannya, apalagi lubang dihati anakku" kata ibunya dengan penuh kasih sayang.
Cerita diatas seperti menyadarkan saya bahwa mendapatkan maaf bukanlah menghilangkan apa yang pernah kita perbuat tapi menghilangkan dosa dari apa yang telah kita perbuat namun secara psikologis dampak itu akan terus terasa. Sebagai contoh jika ada orang menabrak orang lain sampai kakinya patah, kemudian dia minta maaf dan orang tersebut memaafkan lalu apakah kakinya kembali normal dengan memaafkan tentu tidak , kemudian jika setelah memafkan lalu sering muncul perasaan sedih ketika melihat kakinya dan kembali mengingat orang yang menabraknya , apakah dia berdosa ? apakah kata maaf sudah bisa menggugurkan segala hukuman ? termasuk kesedihan yang akan di timbulkan ? tentu ini menjadi renungan kita bersama
Orang yang berbahaya bukanlah orang pada lingkungan tertentu tetapi orang yang memiliki sifat-sifat tertentu yang dengan sifat tersebut dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Sifat yang dimaksud adalah sifat buruk seperti marah, dendam, iri , dengki dan berbagai sifat lain yang kita tidak pernah meminta untuk di anugrahkan kepada kita tetapi tetap di amanahkan. Kita tidak akan pernah mendengar ada seorang ulama yang berdoa agar di hilangkan dari sifat buruk karena itu melanggar fitrah. Ketika semua orang menyalahkan nafsu birahi sebagai penyebab zina lalu Allah mencabut nafsu ini dari hati seluruh manusia maka akibatnya kita tinggal menunggu waktu kepunahan . Pengendalian dan penempatanlah yang diinginkan olehNya.
Rabu, 18 November 2009
Surah Al Maa'un Ayat satu, Kita-kah ? ( hanya sebuah renungan kecil )
Diantara rintik hujan yang mengantar senja ke tempat peristirahatannya , semilir angin berhembus menerpa wajah-wajah letih di jalanan membuat orang enggan untuk keluar rumah. Genangan-genangan air mulai muncul di jalan-jalan beraspal yang tidak lama lagi akan memantulkan cahaya lampu-lampu jalan menandakan malam segera datang. Disudut jalan seorang anak kecil masih asyik memainkan mobil-mobilan bekas yang di perolehnya tadi siang dari tempat sampah. Ibunya masih tertidur disampingnya, atap-atap lebar rumah dan lebatnya pohon melindungi mereka dari sapuan air hujan, di sudut lain tampak beberapa pengemis dan pemulung juga mulai merebahkan diri. " Allahu Akbar..Allahu Akbar" kumandang adzan maghrib terdengar saling bersautan dari corong-corong spiker masjid, suarayang mengajak orang menemui Sang khaliq penciptanya.
" Bu..bu..itu udah adzan mau sholat gak?" teriak anaknya membangunkan sang ibu, tapi ibunya masih terus tertidur. Anak itu diam , lalu kemudian meneruskan bermain mobil-mobilan. Setelah hampir setengah jam asyik bermain , anak tersebut kembali membangunkan ibunya " Bu....bu...,...ibu gak sholat......bangun dong bu...angga lapar nih !!" teriak anaknya, tapi ibunya masih tetap tertidur, tidak bergeming sedikitpun. Karena keletihan membangunkan ibunya tetapi tidak ada hasil anak itu kemudian tertidur disamping ibunya. Anak itu berusia lima tahun dengan badan kurus dan lusuh, sedangkan ibunya berusia sekitar tiga puluh tahun dengan wajah kurus pucat seperti orang sakit keras. Tidak beberapa lama adzan Isya berkumandang. Hujan semakin deras, jalanan tampak sepi, Anak itu terbangun sambil meringis karena merasa lapar. Dia bangun lalu berlari kearah masjid di seberang jalan, kemudian menengadahkan tangan kepada jama'ah masjid yang hendak melaksanakan sholat. Anak itu telah terbiasa mengemis di depan masjid dan di persimpangan jalan, tetapi malam itu tidak satupun jama'ah yang memberikannya uang. Dia terus meringis menahan sakit perut yang belum terisi sejak pagi karena ketika siang hari ibu nya muntah-muntah lalu kemudian tidur dan belum bangun sampai malam itu.
" Aro'aitalladzi yukajjibu biddin, fadza likalladzi ya du'uul yatim wa la yaa khuddu 'alaa thoo 'amil miskin" terdengar suara imam membaca surat Al Maa'un dari dalam masjid tentang para pendusta agama. Semua jama'ah hafal ayat itu tapi sama seperti nasib anak di luar masjid itu surah Al Maa'un tersebut terlantar di sudut ingatan. " Iqra !" kata malaikat jibril kepada Muhammad SAW, tidak ada kitab disana , Rasulullah SAW pun tidak bisa membaca, lalu apa yang mesti di baca ? " Iqra bismirabbikalladzi khalaq" bacalah dengan menyebut nama Tuhan Sang Maha Pencipta, surah itu seperti berteriak kepada kita "bacalah sekelilingmu, bacalah keadaan lingkunganmu, baca dan berkacalah pada alam semesta dan tunjukan kepedulianmu" dan kita hanya tertunduk sambil terus membolak-balik kitab suci.
Anak itu belari kembali kepada ibunya sambil menangis menahan sakit, tubuhnya basah oleh air hujan, air yang bagi mahluk lain menjadi rahmat, tetapi baginya menjadi seperti sapaan Tuhan terakhir kepadanya, dia tertidur sambil memegang perut didada ibunya. Kedua ibu dan anak itu pada pagi harinya di ketemukan warga telah meninggal dunia, meninggalkan derita yang dideranya , meninggalkan para pendusta agama yang tidak pernah mau menyapanya.
Salam
David
Note :
Ketika malam nanti hujan menghampiri kita, disaat kita berkumpul bersama keluarga dan merasakan kehangatan, maka sesekali ambillah payung lalu keluar rumahlah, carilah rintihan disudut-sudut jalan, di halte-halte bis , sapalah mereka , redakan ketakutan di hati mereka berbagilah sedikit. Jika kokohnya rumah kita masih membuat takut anak anak kita ketika mendengar halilintar , lalu bagaimana dengan teriakan anak-anak tanpa atap tersebut, siapa tahu senyuman kita mampu mengusir galau dan resah di hati mereka lalu perlahan-lahan bisa melunturkan stempel pendusta agama di kening kita
Langganan:
Postingan (Atom)